Rabu, 23 Jan 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Demokrat Tetap Tolak Anggaran Tembok Meksiko, Trump Gebrak Meja dan Walkout

Demokrat Tetap Tolak Anggaran Tembok Meksiko, Trump Gebrak Meja dan Walkout

* Mayoritas Warga AS Salahkan Trump atas Shutdown
admin Jumat, 11 Januari 2019 17:23 WIB
SIB/dailymail

Presiden AS Donald Trump didampingi para pemimpin Republik di Senat (gambar kiri), dan Ketua DPR Nancy Pelosi bersama pemimpin Demokrat Chuck Schumer, memberikan pernyataan setelah menggelar pertemuan di Gedung Putih, Rabu (9/1). Trump meninggalk

Washington (SIB) -Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan pergi (walk out) meninggalkan rapat, Rabu (9/1) kemarin, setelah dua petinggi Partai Demokrat AS di Kongres menolak menyetujui proposal pembangunan tembok perbatasan yang diajukannya. "Dia (Trump) bertanya kepada Ketua Dewan Perwakilan (Nancy) Pelosi 'apakah Anda setuju terkait proposal pembangunan tembok yang saya ajukan?' Dia (Pelosi) mengatakan tidak," kata Ketua faksi Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, mengutip percakapan Trump-Pelosi dalam rapat di Gedung Putih.

"Dan dia (Trump) lalu berdiri dan mengatakan 'kalau begitu tidak ada hal yang perlu kita bicarakan' dan dia pergi begitu saja," ucapnya menambahkan seperti dikutip Reuters, Kamis (10/1). "Lagi-lagi kita melihat tingkah merajuk karena dia tidak mendapat apa yang dia inginkan," tambahnya.

Schumer menambahkan, Trump sempat "menggebrak meja" sebelum keluar dari ruang rapat di Gedung Putih. Namun, anggota Kongres dari Partai Republik, Steve Scalise, membantah. Menurutnya, tidak ada orang yang menggebrak meja saat itu.

Nancy Pelosi mengatakan bahwa pegawai federal yang terancam kehilangan pendapatannya pada pekan ini adalah "isu yang mencoreng" sosok Trump. "Trump tampaknya tidak peka akan hal itu. Dia pikir mereka (pekerja federal) bisa meminta uang ke orang tuanya, tetapi faktanya tidak, mereka bekerja untuk negara dan perlu dibayar," tegas Pelosi.

Wakil Presiden, Mike Pence, menuturkan kepada para wartawan bahwa dirinya "kecewa" terhadap Partai Demokrat "yang tidak bersedia terlibat dalam negosiasi dengan iktikad baik". Adapun Kevin McCarthy selaku ketua fraksi Republik di DPR, menyebut perilaku petinggi Partai Demokrat "memalukan".

Melalui kicuannya, Trump menganggap pertemuannya dengan Pelosi dan Schumer adalah sesuatu yang sia-sia. "Saya bertanya apakah yang akan terjadi dalam 30 hari ke depan jika saya membuka semua kemungkinan? apakah mereka akan menyetujui pembangunan tembok termasuk pembatasan baja? Nancy mengatakan, TIDAK," kata Trump melalui Twitter. "Saya katakan sampai jumpa, tidak ada cara lain yang berhasil!" Rapat itu digelar sebagai upaya pemerintah dan Kongres menyetop penutupan pemerintah (government shutdown) yang sudah berjalan selama 19 hari terakhir.

Trump menuntut pendanaan senilai US$ 5,7 miliar (setara Rp 8,02 triliun) untuk pembangunan pagar baja sebagai ganti atas penolakan rencana tembok perbatasan, guna memenuhi janjinya pada pemilu AS pada 2016 lalu. Namun Demokrat, yang bulan ini mengambil alih Dewan Perwakilan Rakyat AS, bersikukuh menolak pengajuan tersebut.

Penutupan pemerintah AS dimulai sejak akhir Desember 2018 lalu, dan dinyatakan terus berlanjut setelah negosiasi antara kubu Partai Demokrat dan Partai Republik tak mencapai kesepakatan. Trump menyatakan akan tetap mempertahankan penutupan pemerintahan selama anggaran proyek yang diajukannya belum disetujui.

Penutupan pemerintahan ini berimbas kepada kehidupan masyarakat. Sekitar 800 ribu pekerja terkena dampak penutupan dan terpaksa menganggur tanpa upah sampai pemerintah mengucurkan anggaran. Bahkan sejumlah pegawai honorer pemerintah AS yang sangat mengandalkan gaji mengaku kelimpungan. Sebab, honor mereka tidak cair saat pemerintahan tutup, padahal mereka harus membayar sejumlah tagihan. Subsidi bagi warga miskin juga terpaksa terhenti, bersamaan dengan terhentinya semua aktivitas yang dikelola pemerintah, kecuali layanan kesehatan, keamanan dan tahanan.

Di media sosial, sejumlah pegawai negeri membagikan cerita mereka yang sulit membayar tagihan dan kesulitan lainnya akibat penutupan lembaga pemerintah. Beberapa kini mempertimbangkan untuk mencari kerja lain agar keperluan sehari-hari bisa tercukupi. Jajak pendapat terbaru menunjukkan sebanyak 51% rakyat AS menyalahkan Presiden Trump atas penutupan lembaga pemerintahan. Namun, 77% pemilih Partai Republik mendukungnya atas proyek pembangunan tembok perbatasan.

Samakan Imigran dengan Binatang Berbahaya
Putra tertua Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyamakan imigran dengan binatang berbahaya. Pernyataan kontroversial tersebut merujuk pada imigran putus asa yang ingin memasuki wilayah AS. "Anda tahu mengapa Anda bisa menikmati hari di kebun binatang? Karena dinding bekerja," tulis Donald Trump Jr., melalui akun Instagramnya seperti dikutip dari AFP, Kamis (10/1).

Pernyataan bahwa imigran yang ingin memasuki wilayah AS sebagai binatang tidak hanya disampaikan oleh anak Trump saja. Sang Presiden Mei 2018 lalu juga pernah memberikan istilah yang sama pada imigran. "Anda tidak akan percaya betapa buruknya imigran itu. Mereka bukan orang. Mereka binatang," katanya saat itu.

Trump Jr., bukan sekali ini saja membuat pernyataan kontroversial melalui akun media sosialnya. Beberapa waktu lalu, ia juga sempat panen hujan kritik akibat pernyataannya yang menyamakan pengungsi konflik Suriah dengan semangkuk permen Skittless yang mematikan. "Pernyataan tersebut rasis, satunya kebun binatang sebenarnya adalah dia sendiri," kata seorang pengguna Twitter dalam komentarnya. (CNNI/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments