Kamis, 19 Sep 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Demo Tolak RUU Ekstradisi Berlanjut 11 Demonstran Ditangkap

Demo Tolak RUU Ekstradisi Berlanjut 11 Demonstran Ditangkap

admin Jumat, 14 Juni 2019 17:41 WIB
Dailymail
Demonstran berusaha melindungi diri setelah polisi Hong Kong menembakkan gas air mata, Rabu (12/6). Kepolisian Hong Kong menangkap 11 orang dalam unjuk rasa memprotes RUU kontroversial yang akan mengizinkan ekstradisi ke China
Hong Kong (SIB) -Kepolisian Hong Kong menangkap 11 orang dalam unjuk rasa memprotes rancangan undang-undang (RUU) kontroversial yang akan mengizinkan ekstradisi ke China. Otoritas China sendiri menyatakan dukungan pada langkah tegas polisi Hong Kong dalam menangani unjuk rasa yang disebutnya sebagai 'kerusuhan'.

Penangkapan itu terjadi saat ribuan demonstran kembali berkumpul di sekitar gedung parlemen Hong Kong. Otoritas Hong Kong menutup kantor-kantor pemerintahan yang ada di distrik finansial kota tersebut hingga akhir pekan nanti.

Seperti dilansir Channel News Asia dan Reuters, Kamis (13/6), Kepala Kepolisian Hong Kong, Stephen Lo, mengungkapkan bahwa pihaknya menangkap 11 orang dalam unjuk rasa memprotes RUU ekstradisi yang pada Rabu (12/6) kemarin berujung bentrokan. Dalam konferensi pers terbaru, Stephen menyebut ada 22 personel kepolisian yang mengalami luka-luka saat bentrokan pecah.

Dilaporkan bahwa bentrokan pecah pada Rabu (12/6) setelah demonstran melemparkan berbagai benda termasuk tongkat logam ke arah polisi yang berjaga. Sebagai respons, polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet serta menggunakan semprotan merica untuk membubarkan para demonstran.

Akibat bentrokan itu, sedikitnya 79 orang mengalami luka-luka, dengan dua orang di antaranya mengalami luka serius. Video-video yang beredar menunjukkan aksi polisi memukuli demonstran telah memicu tuduhan kebrutalan. Ditegaskan pihak kepolisian bahwa penindakan tegas diperlukan untuk menangani para demonstran yang melemparkan batu dan tongkat logam ke arah polisi.

Namun para pengkritik menuduh polisi sengaja memanfaatkan kekerasan oleh sekelompok kecil aktivis garis keras untuk melancarkan operasi terhadap kelompok demonstran lebih besar yang melakukan aksi secara damai.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menyebut unjuk rasa itu sebagai 'aksi yang merusak stabilitas Hong Kong'. "Apa yang terjadi di area Admiralty (lokasi unjuk rasa) bukanlah aksi damai, tapi sebuah kerusuhan oleh sebuah kelompok," ucapnya dalam konferensi pers. "Kami mendukung cara pemerintah Hong Kong menangani situasi sejalan dengan aturan hukum," tegas Geng dalam pernyataannya.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump menyatakan memahami aksipara demonstran Hong Kong, namun mengharapkan mereka bisa 'menyelesaikannya' dengan China. "Saya harap mereka akan mampu menyelesaikannya dengan China," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih. "Saya memahami alasan unjuk rasa itu. Saya berharap semuanya berhasil untuk China dan untuk Hong Kong," imbuhnya.

Komentar Trump ini disampaikan setelah sebelumnya Departemen Luar Negeri (Deplu) AS menyampaikan 'keprihatinan mendalam atas RUU ekstradisi Hong Kong. Deplu AS mengingatkan bahwa langkah itu bisa mengganggu kebebasan Hong Kong dan merusak lingkungan bisnisnya.

Komentar terbaru dari Trump ini juga disampaikan saat AS dan China tengah berupaya menjalin kembali perundingan yang kolaps untuk menuntaskan perang dagang. Trump berharap dirinya bisa bertemu Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan G20 di Jepang, akhir bulan ini. (Detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments