Rabu, 23 Okt 2019

Demo Berdarah di Irak Terus Berlanjut, 65 Tewas 190 Luka

admin Minggu, 06 Oktober 2019 12:34 WIB
SIB/Khalid Mohammed/AP
Demonstran mulai membakar dan menutup jalan di ibukota Baghdad, Jumat (4/10), memprotes tingginya korupsi, pengangguran dan buruknya layanan publik di bawah pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi.
Baghdad (SIB) -Sejumlah massa di Baghdad, Irak melanjutkan aksi demo antikorupsi kepada pemerintah Irak. Massa menggelar aksi protes karena menilai korupsi di pemerintah Irak membengkak. Dilansir dari Reuters, Sabtu (5/10), sebanyak 65 orang tewas karena aksi ini. Sementara 190 orang luka-luka per hari ini.

Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi mengimbau agar masyarakat tetap tenang dalam menyikapi isu pembengkakan korupsi ini. Berbeda dengan Adel, ulama setempat justru menentang pemerintah Irak karena dinilai tidak memenuhi tuntutan massa.

Diketahui, aksi demo besar-besaran terjadi selama tiga hari berturut-turut di Irak. Demo berdarah yang diikuti ribuan demonstran di Baghdad dan kota-kota lainnya. Ribuan demonstran kembali turun ke jalan untuk memprotes tingginya korupsi, pengangguran dan buruknya layanan publik di bawah pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi.

Sebelumnya, dalam pidato publik pertamanya di layar kaca sejak aksi-aksi demo antipemerintah ini pecah, Abdel Mahdi menyatakan bahwa aksi-aksi tersebut sebagai "pengrusakan negara, seluruh negara" namun dia tidak berkomentar mengenai tuntutan para demonstran.

Abdel Mahdi malah membela pencapaian yang diraih pemerintahnya dan menjanjikan tunjangan bulanan untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan, serta meminta waktu untuk menerapkan agenda reformasi yang dijanjikannya tahun lalu.

Ulama Irak, Moqtada Sadr, pun meminta pemerintah mengundurkan diri atas aksi kekerasan yang terus melonjak. "Pemerintah harus mengundurkan diri dan pemilihan awal harus diadakan di bawah pengawasan PBB," kata mantan pemimpin milisi Syiah itu.

Pernyataan Sadr menambah tekanan baru pada Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi saat ia berjuang meredakan kerusuhan. Desakan itu disampaikan setelah pemimpin spiritual Syiah Ayatollah Besar Ali Sistani dalam khotbah tengah hari, mendesak pihak berwenang untuk mengindahkan tuntutan demonstran. Dia juga memperingatkan bahwa aksi protes dapat membesar kecuali jika langkah segera diambil.

Dalam pidato pertamanya sejak protes dimulai, Mahdiberharap para penganggur muda yang turun ke jalan untuk bersabar. Dia mengatakan pemerintah belum genap berusia setahun dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk melaksanakan reformasi.

Namun terlepas dari permintaan itu, pemerintah menerapkan jam malam dan memutus akses internet. Warga Irak akhirnya memadati Lapangan Tahrir yang ikonik pada Jumat dan terlibat bentrok dengan polisi antihuru-hara. Pasukan keamanan mengawali dengan rentetan tembakan. Wartawan melihat beberapa orang terkena peluru, termasuk di kepala dan perut. (Detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments