Minggu, 08 Des 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • China Tidak akan Izinkan Pemimpin Hong Kong Mengundurkan Diri

China Tidak akan Izinkan Pemimpin Hong Kong Mengundurkan Diri

admin Selasa, 18 Juni 2019 20:26 WIB
AFP
Demonstran di Hong Kong membuka jalan untuk ambulans.
Hong Kong (SIB) -Pemerintah China tidak akan membiarkan pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mengundurkan diri jika memang dia berniat mundur di tengah desakan publik. Aksi para demonstran yang memprotes rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi pada Minggu (16/6) kemarin menuntut Lam untuk mundur dari jabatannya.

Seperti dilansir Reuters, Senin (17/6), hal tersebut dituturkan seorang pejabat senior pemerintahan Hong Kong yang dekat dengan Lam. Diketahui bahwa pada Sabtu (15/6) lalu, Lam menunda pembahasan RUU ekstradisi hingga batas waktu yang tidak ditentukan. RUU itu banyak diprotes karena mengatur ekstradisi ke China dan dikhawatirkan akan melemahkan penegakan hukum di Hong Kong.
Penundaan yang diputuskan Lam tidak mampu membendung kemarahan publik yang kembali menggelar aksi protes besar-besaran pada Minggu (16/6) waktu setempat. Dalam aksi yang diklaim oleh penyelenggara diikuti 2 juta orang itu, para demonstran menyerukan agar Lam mengundurkan diri dari jabatannya.

Di tengah kemarahan yang memuncak terhadap Lam, menurut pejabat senior pemerintahan Hong Kong yang dikutip Reuters, kecil kemungkinan Lam akan mundur. "Itu tidak akan terjadi," ujar pejabat yang enggan disebut namanya mengingat sensitivitas isu ini. Pejabat ini diketahui terlibat dalam serangkaian rapat pemerintahan membahas krisis politik yang sedang berlangsung.

Gejolak politik di Hong Kong ini terjadi setelah bertahun-tahun warga setempat geram dengan apa yang dipandang sebagai meningkatnya campur tangan represif dari pemerintah China. Diketahui bahwa Hong Kong memegang teguh otonomi 'satu negara, dua sistem' setelah dikembalikan ke China oleh Inggris tahun 1997 lalu. "Dia (Lam-red) ditunjuk oleh pemerintah pusat, jadi bagi dia untuk mengundurkan diri butuh diskusi level sangat tinggi dan pertimbangan dari level (China) daratan," kata pejabat senior itu.

Menurut pejabat tersebut, mundurnya Lam dari jabatan Chief Executive Hong Kong hanya akan memicu krisis baru bagi otoritas China. "Itu akan memicu lebih banyak masalah daripada menyelesaikannya, di semua level," ucap pejabat senior Hong Kong tersebut.

Diketahui bahwa kini China sedang terlibat perang dagang sengit dengan AS, kemudian menghadapi aksi sepihak negara-negara Barat yang dipimpin AS terhadap Huawei--raksasa telekomunikasi China dan menghadapi ketegangan tiada akhir di Laut China Selatan.

Sementara itu, soal keputusan Lam menunda penundaan pembahasan RUU ekstradisi, pejabat senior Hong Kong menyebut keputusan itu diambil atas izin China. Pejabat ini juga menyebut bahwa penundaan untuk batas waktu yang tak ditentukan itu, sama saja dengan secara efektif mencabutnya.

"Menangguhkannya sebenarnya berarti pencabutan ... itu akan menjadi bunuh diri politik jika menghidupkannya kembali," ujar pejabat senior Hong Kong merujuk pada RUU ekstradisi. Otoritas Hong Kong belum secara resmi mengumumkan 'pencabutan' ini.
'Terbelah' Demi Ambulans

Sementara itu, aksi demonstran antipemerintah saat membuka jalan untuk ambulans viral di media sosial. Aksi mereka menuai pujian. Sejumlah demonstran yang diklaim mencapai 2 juta orang memenuhi jalanan Hong Kong pada Minggu (16/6) waktu setempat. Mereka memprotes rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi dan menuntut mundur pemimpin Hong Kong, Carrie Lam.

Salah satu jalan yang 'tertutup' massa adalah Harcourt Road dekat Central Government Complex. Lautan massa itu lalu 'terbelah' ketika para demonstran membuka jalur bagi sebuah ambulans yang lewat.

Seperti dilansir The Straits Times, Senin (17/6), video momen itu ramai beredar di Twitter dan Facebook. Media lokal menyebut ambulans itu dipanggil sekitar pukul 21.00 waktu setempat setelah ada demonstran yang pingsan. Di Twitter, aksi demonstran yang membuka jalan untuk ambulans itu menuai pujian. Seorang netizen menyebutnya sebagai 'momen paling indah di Hong Kong'. Ada pula yang membandingkan kejadian itu dengan terbelahnya Laut Merah seperti tertulis di Alkitab.

Anggota parlemen Hong Kong, Raymond Chan juga mengunggah video serupa di Causeway Bay. Video itu menunjukkan para demonstran menunggu dengan sabar saat ambulans sedang melintas di antara mereka. "Warga Hong Kong adalah pengunjuk rasa paling tertib di dunia. Mereka membuka jalan hanya dalam beberapa detik untuk ambulans di Causeway Bay," tulisnya di Twitter.

Sementara itu seperti dilansir AFP, penyelenggara aksi mengklaim ada 2 juta demonstran yang ikut berunjuk rasa kali ini. Angka dari penyelenggara unjuk rasa, Civil Human Rights Front, itu tidak diverifikasi secara independen. Namun dikonfirmasikan sebagai unjuk rasa terbesar dalam sejarah Hong Kong. Pihak kepolisian memberikan angka lebih rendah, yakni hanya 338 ribu orang yang ikut unjuk rasa. (Rtr/AFP/dtc/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments