Minggu, 18 Agu 2019

China Dukung Hong Kong Tunda Pembahasan RUU Ekstradisi

* Demonstran Bakal Tetap Beraksi
admin Senin, 17 Juni 2019 21:24 WIB
AFP
Sambil mengusung sejumlah plakat dan poster bertuliskan kalimat protes, kerumunan massa demonstran memenuhi ruas jalan di pusat kota Hong Kong, Minggu (16/6). Demonstran kembali turun ke jalan memprotes pembahasan RUU Ekstradisi.
Beijing (SIB) -Pemerintah China mendukung langkah pemimpin Hong Kong yang menunda pembahasan RUU Ekstradisi. Pembahasan RUU Ekstradisi ke China sebelumnya menimbulkan protes selama seminggu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, menyebut keputusan tersebut merupakan langkah untuk 'mendengar lebih luas pandangan masyarakat dan mengembalikan ketenangan di komunitas secepatnya'.

"Kami mendukung, menghargai dan mengerti keputusan ini," kata Geng Shuang beberapa jam setelah pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengumumkan penundaan, seperti dilansir AFP, Sabtu (15/6).

Usulan undang-undang tersebut dikhawatirkan dilihat sebagai langkah terbaru Beijing untuk melemahkan kebebasan yang dijanjikan kepada bekas jajahan koloni Inggris ketika diserahkan kembali kepada China pada 1997. "Hak-hak dan kebebasan yang dinikmati oleh penduduk Hong Kong sepenuhnya terlindungi sesuai hukum. Fakta-fakta tersebut jelas bagi semuanya," bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri China.

"Mempertahankan kemakmuran dan stabilitas Hong Kong bukan hanya kepentingan China, tapi juga kepentingan semua negara di dunia," lanjutan peryataan Kementerian Luar Negeri China.

Pernyataan terpisah oleh badan pemerintah pusat China yang menangani urusan terkait Hong Kong mengatakan RUU Ekstradisi tersebut 'diperlukan dan dibenarkan' untuk menambal apa yang disebut celah dalam hukum saat ini. Disebutkan China akan lanjut mendukung RUU Ekstradisi ini dan 'memberi perhatian saksama' terhadap oposisi publik terhadap undang-undang itu.

Demonstran Bakal Tetap Beraksi
Pemimpin Hong Kong telah menangguhkan pembahasan RUU Ekstradisi ke China setelah demonstrasi besar-besaran. Meski demikian, demonstran akan tetap melakukan aksi pada Minggu (16/6) waktu setempat.

Dilansir AFP, Sabtu (15/6), demonstran meminta Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mundur dari jabatannya, membatalkan RUU ekstradisi dan meminta maaf atas perlakuan Polisi. Bentrok itu terjadi tiga hari setelah Lam bersikeras menolak membatalkan RUU yang diminta oleh demonstran. Peristiwa itu memecahkan rekor di mana panitia mengatakan lebih dari ribuan orang berbaris di jalan-jalan meminta agar RUU yang didukung Beijing itu dibatalkan.

Para kritikus juga khawatir undang-undang itu akan membuat orang terseret ke pengadilan China yang terkenal buram dan terpolitisasi. Demikian juga reputasi keamanan untuk berbisnis di kota itu jadi turun.

Setelah berhari-hari ketegangan meningkat--termasuk dari sekutunya sendiri--Lam mengalah pada hari Sabtu, mengumumkan bahwa RUU itu akan dihentikan. Dia tidak menetapkan batas waktu untuk reintroduksi tetapi secara singkat mengatakan RUU sudah dibatalkan secara permanen.

Jimmy Sham, dari kelompok Pejuang Hak Asasi Manusia Sipil, menyamakan tawaran itu dengan 'pisau' yang telah dijatuhkan ke kota itu. "Itu hampir mencapai hati kita. Kini pemerintah mengatakan mereka tidak menancapkannya, tetapi mereka juga menolak untuk mencabut pisau itu," ujar Jimmy kepada wartawan ketika mereka mengumumkan bahwa akan terus maju dengan demonstrasi besar-besaran yang direncanakan pada hari Minggu (16/6).

Pada Sabtu malam seorang pria meninggal dunia karena terjatuh dari gedung setelah berjam-jam melancarkan protes anti RUU Ekstradisi, seperti yang dikatakan otoritas rumah kepada AFP. Dia membentangkan sebuah spanduk yang bertuliskan: "Cabut RUU Ekstradisi China sepenuhnya. Kami tidak melakukan kerusuhan. Lepaskan para mahasiswa dan korban yang cedera." (AFP/dtc/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments