Sabtu, 07 Des 2019

China Ancam Penggerak Demo Hong Kong

* Protes Belum Reda, Australia dan 3 Negara Rilis Travel Warning
admin Kamis, 08 Agustus 2019 18:43 WIB
SIB/dailymail
Puluhan pengacara Hong Kong menggelar unjuk rasa damai, Rabu (7/8), menyerukan pemerintah untuk menyelamatkan kenetralan departemen kehakiman karena dikhawatirkan akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Beijing (SIB) -Pemerintah China mengeluarkan peringatan keras terhadap para pengunjuk rasa di Hong Kong. Beijing memperingatkan kepada para pengunjuk rasa Hong Kong untuk tidak "bermain api" dan mengira pemerintah pusat bersikap lemah. Pemerintah China bahkan berjanji akan membawa para aktor intelektual di belakang aksi demonstrasi ke hadapan pengadilan. "Kami ingin memperingatkan kepada semua 'penjahat' untuk tidak pernah salah menilai situasi dan keliru menilai kami bersikap lemah," kata Kantor Pemerintah China Urusan Hong Kong dan Makau, dalam dokumen yang dirilis di Beijing, Selasa (6/8).

"Kelompok kekerasan radikal yang kecil berada di garis depan aksi protes, bersama dengan beberapa warga baik hati yang telah salah arah dan dipaksa untuk bergabung," lanjut pernyataan dokumen yang dikaitkan dengan dua pejabat, Yang Guang dan Xu Luying. Dikatakan bahwa pasukan anti-China merupakan dalang di belakang layar yang telah secara terbuka dan berani mendorong para pengunjuk rasa. "Kami ingin mengingatkan kepada sekelompok kecil penjahat tak bermoral dan kejam, serta pasukan kotor di belakang mereka, jika bermain api maka akan binasa," kata kantor itu. "Dan pada akhirnya, mereka semua akan menerima hukumannya," lanjut pernyataan kantor tersebut.

Hong Kong telah mengalami situasi kekerasan dengan protes selama berminggu-minggu yang diawali kelompok oposisi menentang undang-undang ekstradisi yang kini ditangguhkan. Undang-undang ekstradisi tersebut memungkinkan pelaku pelanggaran untuk diekstradisi ke negara-negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong, termasuk China daratan.

Namun gerakan tersebut kini telah berkembang lebih luas menjadi gerakan yang menuntut reformasi demokrasi di Hong Kong. Pada Senin (5/8), massa pro-demokrasi kembali menggelar aksi unjuk rasa yang berujung bentrok dengan aparat keamanan sejumlah lokasi, memaksa polisi anti-huru hara untuk menembakkan gas air mata, peluru karet, dan granat spons.

Aksi protes telah meningkat dalam skala dan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang kemungkinan dipicu pidato kepala eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, yang menyatakan menolak untuk mundur dari jabatannya. Sebanyak 148 pengunjuk rasa dilaporkan telah ditahan. Mereka terdiri dari 95 pria dan 53 wanita, berusia antara 13 hingga 63 tahun.

Polisi dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa mereka telah menembakkan sekitar 800 kaleng gas air mata dalam aksi protes massa pada Senin lalu. Jumlah itu menjadi yang terbanyak ditembakkan dalam sehari, hampir sama dengan jumlah yang ditembakkan dalam dua bulan terakhir, sekitar 1.000 kaleng gas air mata. Polisi anti-huru hara juga melepaskan sekitar 140 peluru karet dan 20 granat spons dalam mengatasi massa pengunjuk rasa Hong Kong.

Rilis Travel Warning
Sementara itu Pemerintah Australia memperingatkan warganya untuk 'berhati-hati' melakukan perjalanan ke Hong Kong. Langkah itu diambil setelah China mengatakan wilayah itu menghadapi krisis terburuk sejak dikembalikan dari Inggris pada 1997. Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia (Dfat) mengatakan: "Ada risiko konfrontasi dengan kekerasan antara pengunjuk rasa dan polisi, atau orang-orang yang terkait secara kriminal, terutama pada protes yang tidak sah". Selain Australia, beberapa negara lain yang juga mengeluarkan peringatan perjalanan serupa adalah Irlandia, Inggris, dan Jepang.

Zhang Xiaoming, salah satu pejabat China paling senior yang mengawasi urusan Hong Kong, berbicara tentang masalah ini pada sebuah pertemuan di kota Shenzhen. "Pemerintah pusat sangat prihatin dengan situasi Hong Kong, dan berusaha untuk belajar, membuat keputusan dan pengaturan dari tingkat strategis," kata Zhang dalam pidato pembukaannya. "Hong Kong menghadapi situasi paling serius sejak kembali ke China, oleh karena itu seminar hari ini sangat penting," tambahnya. (kps/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments