Rabu, 21 Agu 2019

Boeing Digugat Keluarga Korban 737 Max Rp 4 Triliun

* Maskapai China Tuntut Kompensasi
admin Kamis, 23 Mei 2019 20:46 WIB
Ilustrasi
Paris (SIB) -Dua keluarga korban asal Prancis dalam kecelakaan jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines, Maret lalu, mengajukan gugatan terhadap Boeing selaku produsen pesawat. Kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX yang terbang dari Addis Ababa menuju Nairobi pada 10 Maret lalu, menewaskan seluruh 157 penumpang, termasuk tujuh warga negara Prancis.

Insiden itu terjadi beberapa bulan setelah kecelakaan serupa yang menimpa Boeing 737 MAX milik Lion Air di Indonesia pada bulan Oktober tahun lalu, yang menewaskan 189 orang. Pengaduan pertama, yang diajukan di Paris oleh keluarga salah satu korban asal Prancis, mengacu pada kecelakaan Lion Air dan menyebut "kegagalan teknis tidak mungkin diabaikan" oleh produsen dan pihak lain yang terlibat dalam pembangunan pesawat. Pengaduan itu menuduh Boeing, selaku produsen pesawat Boeing 737 MAX, telah melakukan "pembunuhan yang tidak disengaja".

Para hakim di Prancis telah menyelidiki kecelakaan pesawat itu, seperti yang dilakukan ketika ada warga negara Prancis yang tewas di luar negeri. Boeing, pada Sabtu (18/5) pekan lalu, telah mengakui tentang adanya kekurangan pada perangkat lunak simulator penerbangan 737 MAX yang digunakan untuk melatih pilot. Sebelumnya, perangkat lunak anti-stall MCAS telah disebut menjadi penyebab tragedi jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines. "Kami tidak menunggu pengakuan Boeing atas adanya kesalahan untuk mencari tanggung jawab pidana produsen," kata Yassine Bouzrou, pengacara keluarga korban, yang menyebut tuntutan telah diajukan sejak bulan April. "Perilaku sangat serius dari Boeing ini hanya dapat diselesaikan melalui jalan kompensasi," tambah pengacara, tanpa menyebut besaran kompensasi yang diminta.

Gugatan lainnya datang dari Nadege Dubois-Seex, istri dari korban asal Prancis, Jonathan, yang tewas dalam kecelakaan pesawat di Etiopia. Bersama dengan ibu korban, Britt-Marie Seex, dia menuding Boeing telah gagal mengambil tindakan yang diperlukan setelah kecelakaan Lion Air karena khawatir dengan dampak negatif terhadap reputasi dan keuangan perusahaan. "Mereka tahu, mereka menyadarinya, mereka bisa menghindari kecelakaan ini. Pesawat itu seharusnya tidak pernah lepas landas," kata Nadege, kepada wartawan di Paris.

Istri dan ibu korban telah mengajukan klaim ganti rugi kepada Boeing sebesar 276 juta dollar AS (sekira Rp4 triliun). "Kami percaya bahwa bukti dalam kasus ini akan menunjukkan dengan jelas apakah Boeing telah bertindak sembarangan, dengan sengaja dan sadar mengabaikan keselamatan para penumpangnya," kata pengacara mereka, Nomaan Husain, saat konferensi pers di Paris. Dia menuding perusahaan Boeing telah menempatkan laba perusahaan di atas keselamatan penumpang.

Tiga Maskapai China Tuntut Ganti Rugi
Sementara itu, tiga maskapai terbesar di China menuntut kompensasi atas pesawat Boeing 737 MAX, yang saat ini sedang dikandangkan di seluruh dunia. Diwartakan BBC, Rabu (22/5), Air China, China Southern Airlines, dan China Eastern Airlines dilaporkan telah mengajukan klaim pembayaran terhadap Boeing. Seperti diketahui, regulator penerbangan di China yang pertama mengandangkan armada Boeing 737 MAX setelah dua kecelakaan mematikan.

Maskapai China berupaya mencari kompensasi untuk kerugian yang ditimbulkan oleh pesawat yang tidak beroperasi dan penundaan pengiriman jet 737 MAX. Sebagai informasi, China mengoperasikan pesawat Boeing 737 MAX terbanyak di dunia. Kantor berita AFP mencatat, China Southern Airlines sebagai maskapai terbesar di Asia berdasarkan jumlah armada. Sementara China Eastern Airlines merupakan maskapai nomor dua di "Negeri Tirai Bambu", dan Air China adalah maskapai milik perusahaan negara.

Juru bicara China Eastern Airlines mengonfirmasi, maskapai tersebut telah mengajukan ganti rugi kepada Boeing. Namun, dia tidak memberikan rincian nilai kerugian tersebut atau informasi lainnya. "Mengandangkan pesawat Boeing 737 MAX 8 mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan (China Eastern Airlines) dan kerugiannya masih terus bertambah," demikian laporan Xinhua. Maskapai China Eastern Airlines telah mengandangkan 14 pesawat Boeing 737 MAX.

Pesawat Boeing 737 MAX milik Ethiopian Airlines yang jatuh pada Maret lalu telah menewaskan 167 orang, termasuk 8 warga China. Pada Oktober 2018, pesawat tipe serupa milik Lion Air juga jatuh setelah lepas landas di Jakarta dan menewaskan 189 orang. Pada Sabtu lalu, Beoing mengaku harus memperbaiki kekurangan pada perangkat lunak simulator penerbangan untuk melatih pilot menerbangkan 737 MAX. (BBC/AFP/Kps/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments