Senin, 30 Mar 2020
Banner Menu
Detail Utama 1
  • Home
  • Luar Negeri
  • Belum Selesai Virus Corona, Seorang Pria Tewas akibat Hantavirus di China

Belum Selesai Virus Corona, Seorang Pria Tewas akibat Hantavirus di China

* Ahli Sebut Publik Tidak Perlu Panik
Kamis, 26 Maret 2020 20:20 WIB
AFP/SANJAY KANOJIA

Ilustrasi tikus sebagai pemeran utama pengantar hantavirus. 

NINGSHAN (SIB)
Pada Senin (23/3), dilansir dari Weibo, situs resmi otoritas distrik Ningshan, Provinsi Shaanxi, mengabarkan adanya seorang pekerja yang tewas di dalam bus. Pria itu dikabarkan tewas bukan karena virus corona atau Covid-19, melainkan oleh virus lain bernama hantavirus. Dilansir dari China Global Times dalam pernyataan di Twitter dikabarkan bahwa seorang pria asal Yunnan tewas ketika berada dalam perjalanan pulang menuju Provinsi Shandong di dalam bus pada Senin (23/3).

Sebanyak 32 orang lainnya di dalam bus akhirnya dites untuk mengetahui apakah terjadi penularan penyakit atau tidak. Pemerintah distrik Ningshan mengatakan pada pukul 23.00 waktu setempat, bus Shandong Leasing Limited Longwei yang berisi dua orang sopir, seorang petugas medis, dan 30 pekerja di Kota Mengding sedang menempuh perjalanan pulang ke Provinsi Shandong.

Ketika bus itu melewati distrik Ningshan, Provinsi Shaanxi, petugas medis yang ada di dalam bus membantu seorang pekerja yang merasa kurang enak badan. Petugas medis akhirnya menghubungi call center 120 untuk meminta pertolongan. Tidak lama, setelah petugas medis datang untuk memeriksa demam dan indikasi pneumonia dari pasien, pasien itu akhirnya tewas di Kota Ankang, Provinsi Shaanxi, China.

Petugas medis menemukan, kematian pekerja itu tidak berkaitan dengan virus corona, tetapi virus bernama hantavirus berdasarkan tes asam nukleat, di mana pekerja lainnya juga diminta mengikuti tes yang sama. Hantavirus, berdasarkan Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan (CDC) AS, adalah anggota virus yang penyebarannya diawali oleh hewan pengerat tikus dan dapat menyebabkan beragam penyakit kepada manusia. Hantavirus bisa menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS), demam berdarah, dan bahkan sindrom gagal ginjal (HFRS).

Penyakit ini tidak menyebar melalui udara, tetapi dapat menyebar jika orang-orang menyentuh urine, tinja, dan air liur tikus atau mengalami gigitan dari hewan perantara virus (inang) yang terinfeksi. Gejala awal HPS biasanya lelah, seperti tidak enak badan, demam, dan nyeri otot bersama dengan sakit kepala, pusing, meriang, dan sakit perut.

Jika tidak segera diobati, penyakit itu bisa menyebabkan batuk dan sesak napas, bahkan berakibat fatal dengan tingkat kematian sebanyak 38 persen menurut CDC. Hal serupa juga dialami oleh penderita HFRS. Bedanya, penyakit yang juga disebabkan hantavirus ini memiliki gejala tekanan darah rendah, syok akut, kebocoran pembuluh darah, dan gagal ginjal akut. HPS tidak bisa ditularkan dari orang ke orang, sedangkan penularan HFRS antarmanusia sangat jarang terjadi.

Salah satu tindakan pencegahan terhadap kedua penyakit yang disebabkan hantavirus itu adalah kontrol populasi hewan pengerat. Pada Selasa (24/3), Staf Biro Kesehatan dan Otoritas Kesehatan Ningshan mengatakan bahwa hasil tes asam nukleat seluruh pekerja dan supir di dalam bus itu telah menunjukkan hasil negatif untuk hantaivirus. Namun, terdapat dua pasien demam dan satu orang lainnya yang berada di dalam pengawasan isolasi di rumah sakit rakyat distrik Ningshan. Pekerja lainnya juga diisolasi di beberapa titik di pusat distrik itu.

Tidak Perlu Panik
Sementara itu, seorang ilmuwan di Swedia, Dr. Sumaiya Shaikh menyatakan dalam kicauannya di Twitter bahwa hantavirus pertama kali muncul pada 1950-an ketika perang AS-Korea di Korea, tepatnya di sungai Hantan. Penyakit ini menyebar dari tikus dan bisa menulari manusia jika manusia menelan cairan tubuh dari hewan pengerat tersebut. "Jadi jangan panik, kecuali Anda berniat untuk makan tikus," ujar Dr. Sumaiya.

Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan bahwa hantavirus sangat jarang terjadi tapi angka kematiannya cukup tinggi yakni 38 persen. Gejalanya bisa terjadi sampai delapan minggu. Orang yang mengalami gejala pasti sebelumnya telah terpapar urin segar, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Bisa juga karena gigitan tikus yang terinfeksi. Umumnya gejala hantavirus meliputi demam, sakit kepala, batuk dan sesak napas.

Seorang pasien yang pernah mengalami penyakit yang disebabkan hantavirus merasa dadanya seperti diikat pita dengan ketat dan wajahnya seperti ditutupi bantal. Gejala itu hampir identik dengan gejala Covid-19 yang diidap oleh Benjamin Michael McAdams, seorang politisi AS yang baru-baru ini dikabarkan positif terjangkit Covid-19. Gejala sakit Covid-19 dikatakan politisi yang merupakan representatif dari Utah itu bagaikan sabuk yang mengikat erat dadanya.

CDC mengabarkan bahwa sindrom paru hantavirus pernah menjadi penyakit yang diberitahukan secara nasional di AS pada 1995. Tapi saat itu belum ada kasus yang diketahui menular antar manusia. Meski begitu, satu data dari Jaringan Ilmu Pengetahuan China yang mempopulerkan data komprehensif dari Health Times, dan komite kesehatan kota Lincang, Ningshan menunjukkan seberapa menularnya virus ini. Ada lima rute utama kemungkinan penularan hantavirus:

Pertama, melalui transmisi pernapasan karena tinja tikus yang terbawa aerosol dapat mengambang di udara dan menginfeksi manusia melalui saluran pernapasan. Kedua, transmisi melalui saluran pencernaan. Hal ini terjadi jika manusia memakan makanan yang telah terkontaminasi tinja tikus (atau cairan lain dari tubuh tikus yang terinfeksi).

Ketiga, penularan melalui kontak. Manusia dapat terinfeksi jika digigit tikus yang terinfeksi. Keempat, transmisi vertikal. Artinya, wanita yang sedang hamil, janinnya bisa terinfeksi melalui plasenta setelah terinfeksi hantavirus. Kelima, penyebaran melalui media apa saja yang relevan. Sejauh ini terdapat banyak jenis hemoragik fever atau demam berdarah akibat hantavirus.

Beberapa kondisi demam ini dapat ditularkan dari orang ke orang. Demam berdarah di China biasanya merujuk pada epidemi hemoragik yang kini dikenal sebagai sindrom ginjal, demam berdarah, keduanya tergolong menular dan membahayakan kesehatan manusia. Gejala umum penyakit itu biasanya diawali dengan demam, sakit kepala, muntah, nyeri orbital, mual dan sesak dada. Sedangkan demam, pendarahan, syok akut dan kerusakan utama adalah manifestasi klinis utamanya. (New York Post/FirstPost/Weibo/kps/c)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments