Minggu, 05 Apr 2020
  • Home
  • Luar Negeri
  • Bantu Atasi Virus Corona, Presiden dan Menteri Korsel Kembalikan 30 Persen Gaji

Bantu Atasi Virus Corona, Presiden dan Menteri Korsel Kembalikan 30 Persen Gaji

Senin, 23 Maret 2020 21:03 WIB
Foto: AP

Sejumlah warga Korea Selatan antri untuk dilakukan tes virus corona di satu pusat medis di Daegu. Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dan jajaran menterinya disebut bakal mengembalikan 30 persen gaji untuk mengatasi wabah virus corona. 

SEOUL (SIB)
Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dan jajaran menterinya disebut bakal mengembalikan 30 persen gaji untuk mengatasi wabah virus corona. Kabar itu disampaikan Kantor Sekretariat Perdana Menteri, setelah anggota kabinet menggelar pertemuan darurat dipimpin PM Chung Sye-kyun. Dalam pertemuan di Kompleks Pemerintah di Seoul Sabtu (21/3), presiden dan menteri Korsel bakal mengembalikan 30 persen gaji selama empat bulan.

Dilansir Korea Times, Minggu (22/3), kementerian keuangan bakal memakai dana itu untuk meningkatkan upaya karantina dan membantu warga yang terdampak secara ekonomi. Selain Presiden Moon dan PM Chung, langkah itu bakal diikuti oleh pejabat negara setingkat menteri dan wakil menteri hingga Juni. "Mereka sepakat bahwa pemotongan sebagian pendapatan ini sebagai bentuk berbagi penderitaan dengan warga," ujar sekretariat dalam rilis resmi.

Beberapa jam setelah pengumuman itu dibuat, Gubernur Provinsi South Gyeongsang Kim Kyoung-soo berujar bakal ikut serta dalam rencana mulia itu. Dalam unggahannya di Facebook, Kim mengatakan dia terpikir untuk membantu ekonomi menengah. Namun, dia tidak ingin melanggar UU Pemilu. Karena itu, begitu mendengar para pejabat tinggi Negeri "Ginseng" memutuskan menyisihkan gaji, dia tidak ragu untuk ambil bagian. "Selama ini bisa membantu warga yang terdampak virus corona walaupun sedikit, saya akan ikut serta. Saya akan memberikan gaji saya ke kas negara," kata dia.

Kim melanjutkan, dia berharap upaya ini hanya dilakukan kepada pejabat tinggi setingkat presiden maupun gubernur provinsi di Korea Selatan. "Abdi publik level menengah dan rendah tak perlu dilibatkan. Mereka sudah disusahkan oleh upaya mengontrol Covid-19. Saya tak ingin membebani mereka," jelasnya.

Usul tersebut langsung dikomentari netizen Negeri "Ginseng", di mana mereka mendesak agar anggota parlemen juga melakukan hal sama. Para warganet Korsel melontarkan kecaman karena para politisi itu tidak melakukan apa pun selain menghabiskan uang pajak mereka. "Jika saja terdapat partai politik yang menyuruh anggotanya menyumbang 30 persen gaji, mereka sudah mengamankan suara saya di Pemilu April," kata blogger di portal Daim.

Berdasarkan data Minggu (22/3), Korea Selatan melaporkan 8.897 kasus penularan virus corona, dengan 104 di antaranya meninggal dunia. Tetapi, upaya keras Seoul melalui deteksi ketat membuahkan hasil di mana mereka hanya melaporkan 98 kasus harian, dan dua kematian dalam 24 jam terakhir.

Bentrok Dengan Polisi
Sementara itu, anggota satu gereja di Korea Selatan dilaporkan terlibat bentrok dengan polisi, di tengah upaya pemerintah mencegah wabah virus corona. Untuk mencegah penyebaran, otoritas meminta warganya untuk diam di rumah. Selain itu, pertemuan publik termasuk kegiatan keagamaan ditiadakan. Larangan itu diberlakukan setelah Korea Selatan masih melaporkan klaster maupun kasus impor baru, meski tren-nya mengalami penurunan.

Kebijakan untuk melarang agenda keagamaan, olahraga, maupun hiburan resmi diterapkan pada Minggu (22/3), dilaporkan Reuters via Channel News Asia. "Pertarungan kita dengan virus corona ini adalah pertarungan tiga kaki," kata Presiden Moon Jae-in dalam konferensi pers Minggu. Tidak peduli kalian sedang dalam kondisi sehat, atau mampu melakukan sesuatunya sendiri," jelas Moon yang menyiratkan agar publik bekerja sama dengan pemerintah.

Kebanyakan gereja sudah mengalihkan tata ibadah mereka secar daring dalam beberapa pekan terakhir. Namun media setempat memberitakan masih ada yang nekat buka. Kondisi tersebut memantik aksi protes dari warga setempat, dan memaksa polisi Korea Selatan untuk turun tangan dan meminta mereka berhenti.

Di gereja Sarang Jeil Seoul, Yonhap mengabarkan sejumlah jemaah berusaha untuk masuk dengan menerobos penjagaan yang dilakukan aparat. Sejumlah video yang menyebar di YouTube memperlihatkan seorang perempuan tergeletak di jalan. "Mengapa kalian melakukan ini? Apa ini Korea Utara?" teriak jemaah lainnya. Pejabat kota dalam keterangan resmi mengemukakan, gereja tersebut tidak menaati izin dan tidak memberikan ruang untuk social distancing.

Di Seoul sekelompok warga melakukan aksi di depan Gereja Central Baptist, meminta mereka untuk menangguhkan ibadah Minggu di tengah wabah Covid-19. Saat ini, Negeri "Ginseng" melaporkan 8.897 kasus penularan, di mana lebih dari dari setengah kasus berasal dari sekte keagamaan di Daegu.

Selain menindak organisasi keagamaan yang nakal, Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korsel (KCDC) juga memberikan peringatan kepada pelancong. Ketegasan tersebut diberikan setelah pemerintah memperketat penjagaan perbatasan, dan menerapkan karantina wajib selama 14 hari bagi penumpang dari Eropa. KCDC mengatakan, sekira 15 orang positif mengidap Covid-19, dengan delapan di antaranya datang dari Eropa, dan tiga dari AS.

"Kami akan menerapkan social distancing selama 15 hari secara intensif," kata Wakil Direktur KCDC Kwon Jung-wook di konferensi pers. "Setelah itu, kami akan membuka sekolah dan mencoba mengembalikan lagi kehidupan normal di tengah penyebaran virus corona," paparnya. (Channel News Asia/kps/The Korea Times/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments