Sabtu, 19 Okt 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Bank Jerman Hentikan Kerja Sama dengan Hotel Milik Kerajaan Brunei

Terapkan Hukuman Mati kepada LGBT

Bank Jerman Hentikan Kerja Sama dengan Hotel Milik Kerajaan Brunei

* Kanada Keluarkan Travel Advice ke Brunei
admin Sabtu, 06 April 2019 22:16 WIB
Sultan Hassanal Bolkiah
Berlin (SIB) -Keputusan pemerintah Brunei Darussalam menerapkan hukuman mati bagi kelompok LGBT mulai mendapatkan perlawanan. Bank asal Jerman, Deutsche Bank, memutuskan kerja sama dengan jaringan hotel milik Kesultanan Brunei Darussalam, Dorchester Collection. Mereka memutuskan melakukan hal itu karena menolak penerapan hukuman mati LGBT di negara itu.

"Hukum baru yang diterapkan Brunei melanggar hak asasi manusia, dan kami meyakini itu adalah tugas kami untuk menolaknya," kata Kepala Risiko Deutsche Bank, Stuart Lewis, seperti dilansir AFP, Jumat (5/4). Kerja sama yang dihentikan itu terkait potongan harga yang didapat pegawai Deutsche Bank jika menginap di hotel milik jaringan Dorchester Collection.

Saham Dorchester Collection dipunyai oleh Brunei melalui badan usaha milik negara. Sedangkan Deutsche Bank adalah salah satu pendiri dari konsorsium Partnership for Global LGBTIQ Equality. Mereka mempromosikan supaya dunia kerja tidak alergi terhadap kalangan LGBT.

Brunei juga menerapkan hukuman mati terhadap pemerkosa, perampokan, dan penistaan Nabi Muhammad SAW. Aturan itu diterapkan kepada warga muslim dan non-muslim. Di samping itu, Brunei juga menerapkan hukum potong tangan dan kaki terhadap pencuri.

Aturan hukum cambuk hingga rajam sampai mati terhadap kaum LGBT di Brunei Darussalam mulai diterapkan sejak 3 April. Sebelumnya mereka hanya menerapkan hukuman cambuk 40 kali dan penjara paling tinggi sepuluh tahun atas delik terhadap kaum LGBT. Menurut Sultan Brunei, Hassanal Bolkiah, aturan itu diterapkan demi melindungi dan mendidik warganya. Dia meminta warganya untuk memperkuat ajaran Islam.

Brunei bukan lah negara pertama yang menerapkan hukuman semacam ini. Arab Saudi, Afghanistan. Iran, Mauritania, Sudan, Nigeria, Yaman, Qatar, Somalia, dan Uni Emirat Arab telah lebih dulu menerapkan hukuman mati bagi kaum LGBT.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, juga menentang pemberlakuan hukuman itu. Dia mengklaim aturan itu sama saja melanggar hak asasi manusia. Tak hanya negara, sejumlah komunitas dan tokoh hingga selebriti pendukung LGBT turut mengecam langkah Brunei tersebut. Aktor senior Hollywood George Clooney, presenter kawakan Ellen Degeneress, hingga musisi Elton John ikut mengecam hukuman mati terhadap kaum penyuka sesama jenis itu. Clooney dan John bahkan menyerukan memboikot hotel-hotel milik pemerintah Brunei yang beroperasi di Negeri Paman Sam dan negara Barat lainnya.

Penolakan penerapan hukuman itu juga datang dari Kanada. Pemerintahan PM Trudeau bahkan mengeluarkan imbauan berupa travel advice kepada para pelancong yang hendak berkunjung ke negara tersebut. "Para pelancong LGBT harus mempertimbangkan dengan hati-hati risiko bepergian ke Brunei Darussalam," tulis keterangan tersebut.

Anggota Parlemen Randall Garrison mengeluarkan pernyataan yang mengkritik undang-undang tersebut. "Tindakan ini semakin meminggirkan komunitas LGBT, menjadikan kekerasan dan kematian menjadi kenyataan bagi orang yang tinggal di Brunei," katanya.
Garrison mengatakan, Kanada juga harus membuat "jalan cepat menuju keselamatan" bagi mereka (LGBT) di Brunei yang kehidupannya dalam bahaya.

Pihak Konservatif mengatakan Kanada harus mengambil langkah-langkah diplomatik yang kuat untuk menunjukkan pada Brunei Darussalam bahwa keputusan mereka salah. "Undang-undang baru di Brunei -terutama yang menargetkan komunitas #LGBTQ--harus dikutuk," ujar kritikus urusan luar negeri Erin O'Toole. "Kami siap mendukung pemerintah dalam upaya ini dan menyarankan Komisaris Tinggi dipanggil untuk memperjelas posisi Kanada," tambahnya. (CNNI/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments