Senin, 22 Apr 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Bahas 'Situasi Tegang', Kim Jong-Un Kumpulkan Para Pejabat Tinggi Korut

Bahas 'Situasi Tegang', Kim Jong-Un Kumpulkan Para Pejabat Tinggi Korut

* China Buka Gerbang Perbatasan Baru dengan Korut
admin Kamis, 11 April 2019 21:31 WIB
SIB/AFP
Bus yang membawa turis dari China melintasi gerbang perbatasan baru menuju Korea Utara di kota Ji'an, Senin (8/4).
Pyongyang (SIB) -Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un baru-baru ini menggelar rapat menyeluruh dengan para pejabat tinggi jajaran Partai Buruh Korea. Rapat ini dimaksudkan untuk membahas hal yang disebut Kim Jong-Un sebagai 'situasi tegang yang sedang terjadi'.

Seperti dilansir AFP, Rabu (10/4), rapat Komisi Pusat Partai Buruh Korea ini digelar usai pertemuan puncak di Hanoi, Vietnam, antara Kim Jong-Un dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Februari lalu, berakhir tanpa kesepakatan apapun.

Ditambah lagi, Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-In terbang ke Washington DC pekan ini untuk berbicara dengan Trump. Laporan menyebut kunjungan Moon ke AS ini dimaksudkan untuk membangkitkan kembali perundingan Korut. Namun laporan terbaru kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA), mengindikasikan bahwa Kim Jong-Un tampaknya sedang fokus pada dorongan berkelanjutan bagi Pyongyang untuk mengembangkan perekonomian.

Dilaporkan KCNA bahwa dalam rapat dengan para pejabat senior Korut pada Selasa (9/4) waktu setempat, Kim Jong-Un memerintahkan jajaran pejabat untuk menunjukkan 'perilaku menguasai revolusi dan pembangunan di bawah situasi ketegangan yang sedang terjadi dan mematuhi arah strategi baru dari partai'. Pada April tahun lalu, Kim Jong-Un mengumumkan bahwa 'arah strategi baru' yang diambil Partai Buruh Korea yang berkuasa adalah 'pembangunan ekonomi sosialis'. Disebutkan juga oleh Kim Jong-Un saat itu bahwa pencarian untuk pengembangan nuklir telah tuntas.

Laporan KCNA juga menyatakan bahwa Kim Jong-Un memberikan 'analisis mendalam untuk persoalan-persoalan yang muncul terkait solusi mendesak dalam partai dan negara'. KCNA menyebut rapat Komisi Pusat Partai Buruh Korea digelar pada Rabu (10/4) ini. "(Komisi akan) Memutuskan pedoman dan cara-cara perjuangan baru yang sejalan dengan kebutuhan situasi revolusi saat ini," sebut KCNA dalam laporannya.

Diketahui bahwa Kim Jong-Un dan Trump menggelar pertemuan puncak pertama di Singapura pada Juni 2018. Saat itu, keduanya menandatangani kesepakatan samar soal 'denuklirisasi di Semenanjung Korea'. Kegagalan tercapainya kesepakatan dalam pertemuan puncak kedua di Vietnam, memicu pertanyaan soal nasib proses denuklirisasi selanjutnya.

Saat bertemu di Vietnam, keduanya menunjukkan kesediaan untuk berunding lebih lanjut. Namun setelah itu, serangkaian citra satelit yang muncul menunjukkan peningkatan aktivitas di lokasi peluncuran rudal Sohae. Hal ini memicu kekhawatiran internasional bahwa Korut mungkin bersiap melakukan peluncuran terbaru. Ditambah, bulan lalu, seorang diplomat senior Korut menyatakan bahwa Korut tengah mempertimbangkan untuk menangguhkan perundingan nuklir dengan AS.

Buka Gerbang Perbatasan Baru
Sementara itu, China telah membuka gerbang perbatasan baru dengan Korea Utara di kota Ji'an, pada Senin (8/4). Titik perlintasan ini telah dilengkapi pula dengan alat deteksi radiasi. Perlintasan perbatasan jalan raya baru ini sekaligus melengkapi melengkapi tiga pelabuhan perbatasan dengan Korea Utara yang telah ada sebelumnya. Disampaikan dalam pernyataan resmi yang dirilis di laman pemerintah kota Ji'an, Selasa (9/4), jalan raya perbatasan itu telah dikerjakan dalam jangka waktu tiga tahun terakhir.

"Setelah tiga tahun upaya tanpa henti, jalan raya pelabuhan yang menghubungkan kota Ji'an di China dengan Manpo di Korea Utara ini akhirnya resmi dibuka," tulis pernyataan pemerintah kota, dikutip AFP.

Proyek jalan raya perbatasan ini telah menelan biaya hingga 280 juta yuan (sekitar Rp 590 miliar). Diperkirakan perbatasan baru tersebut bakal dilalui hingga 500.000 ton barang dan 200.000 orang dalam setahun. Namun adanya sanksi ekonomi yang dijatuhkan Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara diyakini akan berdampak pada perdagangan antara dua negara.

Dilansir AFP, usai diresmikan, jalur perbatasan itu telah dilalui 120 turis pertama dari China menuju Korea Utara. Terlepas dari sanksi yang diberlakukan, jumlah wisatawan asal China yang berkunjung ke Korea Utara dilaporkan terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam pernyataannya, pemerintah kota Ji'an juga menyebut gerbang perbatasan di kota itu telah dilengkapi dengan pendeteksi radiasi nuklir, sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kegiatan nuklir Korea Utara.

China telah menjadi mitra dagang terbesar Korea Utara. Meski demikian, tidak ada catatan resmi terkait statistik kerja sama ekonomi kedua negara yang dirilis Pyongyang yang tertutup. Namun data dari Bea Cukai China menunjukkan adanya penurunan dalam ekspor Korea Utara ke China yang telah anjlok hingga lebih dari 90 persen sejak 2016, dengan hanya 213 juta dollar AS (sekitar Rp 3 triliun) pada tahun lalu.

Meski angka tersebut tidak bisa terlalu dipercaya, dengan banyaknya upaya penyelundupan demi menghindari sanksi. Jalur perlintasan utama perdagangan Korea Utara dengan China secara tradisional telah menggunakan kota perbatasan Dandong. Pada 2012, proyek membangun jembatan yang menghubungkan kota itu dengan kota Sinuiju di Korea Utara dimulai. (AFP/Detikcom/Kps/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments