Minggu, 16 Jun 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Australia Gelar Pemilu, Partai Oposisi Diperkirakan Menang

Australia Gelar Pemilu, Partai Oposisi Diperkirakan Menang

admin Minggu, 19 Mei 2019 12:14 WIB
SIB/dailymail
PM Australia Scott Morrison bersama istrinya diabadikan setelah mengikuti pemilihan umum federal di Sydney, Sabtu (18/5). Partai oposisi, Partai Buruh, diperkirakan akan memenangi pemilu dan mengalahkan koalisi pemerintahan Morrison.
Melbourne (SIB) -Bangsa Australia menggelar pemilihan umum (pemilu), Sabtu (18/5). Partai oposisi, Partai Buruh, diperkirakan akan memenangi pemilu dan mengalahkan koalisi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Scott Morrison. Pemilu ini diselenggarakan untuk memilih anggota parlemen yang berhak duduk di 151 kursi DPR dan 40 dari total 76 kursi anggota senat. Pemilu ini diikuti oleh koalisi Partai Liberal Nasional yang merupakan petahana melawan Partai Buruh. Koalisi pemerintahan Australia saat ini adalah gabungan dari Partai Liberal Australia dan Partai Nasional Australia.

Menurut hasil exit poll, Partai Buruh memenangi pemilu. Polling Nine-Galaxy menunjukkan bahwa Partai Buruh mengalahkan koalisi Partai Liberal Nasional dengan perolehan suara 52-48 persen, yang menunjukkan mayoritas parlemen. Ini berarti pemimpin Partai Buruh, Bill Shorten akan menjadi PM Australia yang baru, menggantikan petahana PM Morrison.

Hasil polling ini mirip dengan jajak-jajak pendapat sebelumnya yang digelar sebelum pemilu hari ini. Exit poll ini dirilis beberapa saat sebelum TPS-TPS ditutup di wilayah Australia timur pada pukul 18.00 waktu setempat, dengan pemungutan suara masih berlangsung di wilayah Australia barat.

Sebelumnya, polling terakhir yang dilakukan Ipsos pada Jumat (17/5) waktu setempat menunjukkan Partai Buruh memimpin dengan perolehan suara 51 persen melawan Liberal yang dipimpin Perdana Menteri Scott Morrison dengan 49 persen. Dalam pemilu ini, nyaris 17 juta orang diperkirakan akan memberikan suara mereka di seluruh penjuru Australia.

Morrison telah menjadi PM sejak Agustus 2018 lalu, setelah kaukus parlementernya memilih untuk menggulingkan pemimpin sebelumnya, Malcolm Turnbull. Partai Buruh telah unggul dalam setiap pemungutan suara nasional sejak paruh kedua tahun 2017, tetapi kampanye kali ini telah menyaksikan pertarungan yang makin ketat.

Morrison sendiri sebelumnya mengakui bahwa pemilu ini akan berlangsung ketat. "Ini akan menjadi pemilihan paling ketat yang pernah kita saksikan selama bertahun-tahun," ujar Morrison, dalam pidato terakhir sebelum pemungutan suara di Queensland.

Morrison sangat optimis memenangkan pemilu, dengan mengaku telah menyatukan pemerintah konservatif dalam sembilan bulan sejak ia menggantikan Malcolm Turnbull. Sementara itu, pemimpin Shorten telah menekankan adanya alternatif kebijakan yang jelas. Keduanya telah melakukan pemungutan suara.

Dalam segmen pemilih pemuda, mereka mengatakan frustrasi dengan perubahan iklim dan kurangnya perumahan dengan harga terjangkau. Sementara kalangan yang lebih tua memiliki fokus terhadap proposal reformasi pajak yang mendominasi sebagia besar substansi kampanye semua kubu.

Sementara isu lain yang tetap menjadi pekerjaan rumah bagi siapapun yang terpilih dalam pemilu kali ini, setidaknya dua hal. Keduanya adalah pengakuan formal penduduk asli Australia dan perlakuan terhadap politikus perempuan di parlemen.

Warga Australia mengaku "stress" dan "khawatir" dengan apa yang dikatakan para politisi di media, saat menjelang pemilu. Salah satunya dialami Roen Meijers, seorang warga Australia yang bekerja sebagai advokat di bidang difabel dan juga seorang transeksual asal kota Hobart, Tasmania. Ia merasa "ada banyak ketakutan dan kecemasan" menjelang pemilihan federal tahun ini. (Detikcom/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments