Rabu, 23 Okt 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Aksi Demo Berdarah di Irak Berlanjut, Aparat Tembaki Demonstran

Aksi Demo Berdarah di Irak Berlanjut, Aparat Tembaki Demonstran

* Korban Tewas Mencapai 31 Orang, Ribuan Terluka
admin Sabtu, 05 Oktober 2019 15:20 WIB
Ilustrasi
Baghdad (SIB) -Para demonstran antipemerintah kembali berkumpul di Baghdad, Jumat (4/10), untuk menggelar aksi demo atas korupsi, pengangguran dan buruknya layanan publik di negeri itu. Aparat keamanan Irak menembaki langsung ke para demonstran, bukan ke udara. Belum ada keterangan mengenai korban dalam insiden tersebut. Sebelumnya pada Kamis (3/10) waktu setempat, ribuan demonstran kembali turun ke jalan untuk memprotes tingginya korupsi, pengangguran dan buruknya layanan publik di bawah pemerintahan Perdana Menteri (PM) Adel Abdel Mahdi.

Dalam pidato publik pertamanya di layar kaca sejak aksi-aksi demo antipemerintah ini pecah, Abdel Mahdi menyatakan bahwa aksi-aksi tersebut sebagai "pengrusakan negara, seluruh negara" namun dia tidak berkomentar mengenai tuntutan para demonstran.
Abdel Mahdi malah membela pencapaian yang diraih pemerintahnya dan menjanjikan tunjangan bulanan untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan, serta meminta waktu untuk menerapkan agenda reformasi yang dijanjikannya tahun lalu.

Ulama Syiah terkemuka di Irak, Ayatollah Ali Sistani menyampaikan dukungan atas aksi-aksi demo yang tengah marak di negara tersebut. Ulama besar Syiah itu bahkan menyerukan pemerintah untuk memperhatikan tuntutan para demonstran "sebelum terlambat."

Berbicara lewat seorang perwakilan, Sistani menyatakan pemerintah "harus melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk meningkatkan layanan publik, menemukan pekerjaan bagi para penganggur, mengakhiri klientelisme, menangani masalah korupsi dan memenjarakan mereka yang terlibat dalam korupsi".

"Pemerintah harus mengubah pendekatannya dalam menangani masalah-masalah negara," kata ulama besar tersebut. Dia menambahkan bahwa para anggota parlemen juga memikul tanggung jawab besar. Sistani memiliki pengaruh besar di kalangan komunitas warga Syiah Irak, yang ikut dalam aksi-aksi demo antipemerintah yang terjadi selama empat hari terakhir. Sistani mengingatkan pemerintah Irak, yang didominasi faksi-faksi Syiah, bahwa aksi-aksi protes tersebut hanya akan makin meningkat jika pemerintah gagal menangani keluhan-keluhan rakyat.

Para demonstran bertekad untuk terus menggelar aksi mereka. "Kami akan terus berdemo sampai pemerintahan tumbang," cetus Ali (22), lulusan universitas yang belum mendapat pekerjaan. "Saya tak punya apapun kecuali 250 lira (US$ 0,20) di saku saya sementara pejabat-pejabat pemerintah punya jutaan," cetusnya.

Para polisi dan tentara yang menggunakan senjata otomatis, tampak mengarahkan senjata mereka ke para demonstran. "Mengapa polisi menembaki warga Irak? Mereka menderita seperti kami -- mereka harusnya membantu dan melindungi kami," kata seorang demonstran, Abu Jaafar memprotes tindakan polisi.

Aksi-aksi demo tersebut telah menewaskan 31 orang, termasuk dua polisi dan lebih dari 1.000 orang mengalami luka-luka. Aksi protes ini dimulai pada Selasa (1/10) di Baghdad dan menyebar ke wilayah-wilayah selatan Irak yang dihuni mayoritas warga Syiah. Sejumlah kota telah menerapkan aturan jam malam namun para demonstran tetap membanjiri jalan-jalan. (Detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments