Jumat, 23 Agu 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Akibat Perang, 85.000 Anak di Yaman Tewas karena Kelaparan dan Penyakit

Akibat Perang, 85.000 Anak di Yaman Tewas karena Kelaparan dan Penyakit

Kamis, 22 November 2018 12:10 WIB
SIB/AFP
Ghazi Saleh yang dirawat karena menderita malnutrisi parah di rumah sakit kota Taez. Sebanyak 85.000 anak-anak di Yaman meninggal dunia akibat kelaparan dan penyakit, sejak perang mulai pecah di negara tersebut pada 2015.
Sana'a (SIB) -Sebanyak 85.000 anak-anak di Yaman meninggal dunia akibat kelaparan dan penyakit, sejak perang mulai pecah di negara tersebut pada 2015. Demikian laporan dari organisasi kemanusiaan Save the Children pada Rabu (21/11), seperti diwartakan AFP. Perkiraan tersebut berdasarkan data yang dikompilasi dari PBB, yang sebelumnya pernah memperingatkan bahwa lebih dari 14 juta orang di Yaman berisiko kelaparan. "Untuk setiap anak terbunuh oleh bom dan peluru, ada belasan lainnya yang kelaparan sampai meninggal dan itu sebenarnya bisa dicegah," ucap Tamer Kirolos, direktur Save the Children di Yaman. "Anak-anak yang meninggal karena fungsi organ vital mereka menurun dan berhenti," tuturnya. "Sistem kekebalan mereka sangat lemah, mereka mudah mendapat infeksi dengan beberapa yang lemah bahkan untuk menangis," imbuhnya. Dia mengatakan, para orangtua harus menyaksikan anak-anak mereka kesakitan, tanpa bisa melakukan apa pun. 

Kisah pilu anak-anak Yaman itu tergambar dari sosok bocah yang dirawat di salah satu rumah sakit di kota Taez. Di usia 10 tahun, bocah bernama Ghazi Saleh tersebut berat badannya hanya 8 kilogram! Jangankan untuk bergerak, bahkan untuk menangispun dia terlalu lemah. Dengan kondisinya yang mengalami malnutrisi akut, bocah tersebut hanya bisa terbaring lemah.

Rumah Sakit Al-Mudhafar, tempat Ghazi dirawat, menangani banyak anak-anak yang menderita kelaparan parah. Eman Ali, perawat di rumah sakit mengatakan bahwa Ghazi menderita malnutrisi akut. "Dia tidak makan dengan baik untuk sementara waktu, dan akhirnya dia mencapai situasi ini," ujarnya seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (21/11). Di rumah sakit itu, para dokter dan perawat sibuk menangani anak-anak yang mengalami malnutrisi parah.

Banyaknya anak-anak yang mengalami malnutrisi parah telah menjadi refleksi sistem kesehatan di Yaman, di mana anak-anak menanggung akibat perang antara pemerintah yang didukung Arab Saudi dengan para pemberontak Houthi yang didukung Iran. "Kami menerima kasus tersebut (malnutrisi) setiap hari, dan sebagian dari mereka sangat parah," ujar Sona Othman, kepala bagian nutrisi Rumah Sakit Al-Mudhafar. "Kasus Ghazi sangat buruk dan ini mencerminkan situasi kesehatan negara yang memburuk," imbuhnya.

Pelabuhan Hodeida, yang merupakan pintu masuk dari 80 persen makanan impor dan bantuan ke Yaman, telah diblokade oleh koalisi pimpinan Arab Saudi. Save the Children terpaksa membawa pasokan untuk bagian utara negara itu melalui pelabuhan selatan Aden, secara signifikan memperlambat pengiriman bantuan. Lembaga tersebut juga melaporkan peningkatan dramatis serangan udara di kota medan perang Hodeida. "Dalam beberapa pekan terakhir, ada ratusan serangan udara dan sekitar Hodeida sehingga membahayakan kehidupan sekitar 150.000 anak yang masih terjebak," ucap Kirolos. 

Save the Children menyerukan agar ada tindakan untuk mengakhiri pertempuran agar tidak ada lagi nyawa yang melayang. Seruan tersebut datang ketika utusan PBB Martin Griffiths bersiap untuk mengadakan pembicaraan dengan para pemberontak di Sana'a selama kunjungan untuk perundingan perdamaian di Swedia. Seperti diketahui, kelompok Houthi menguasai Sana'a pada akhir 2014, ketika mereka juga menguasai Hodeida dan pelabuhannya. Setahun kemudian, Arab Saudi dan sekutu-sekutunya ikut campur dalam perang untuk mendukung Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi. 

Perang yang terjadi di Yaman sejak tahun 2015 dilaporkan telah menewaskan sekitar 10 ribu orang. PBB bahkan menyebut krisis di Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Lebih dari 22 juta orang -- tiga perempat dari populasi Yaman -- saat ini bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup. (AFP/Kps/Detikcom/h)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments