Senin, 20 Mei 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • AS Tambah Alutsista Tempur di Teluk Persia, Unjuk Gigi terhadap Iran?

AS Tambah Alutsista Tempur di Teluk Persia, Unjuk Gigi terhadap Iran?

* Pemimpin Iran Tolak Telepon Presiden Trump
admin Senin, 13 Mei 2019 19:07 WIB
SIB/AFP / MC2 MAGAN ANUCI
Foto yang dirilis pada Desember 2018 oleh Angkatan Laut AS, menampilkan kapal USS Arlington, yang membawa kapal amfibi dan sistem rudal Patriot. Pengerahan alutsista tersebut ke Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Washington (SIB) -Amerika Serikat (AS) akhir pekan ini mengirim kapal transpor amfibi dan sistem rudal pertahanan udara Patriot ke Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. USS Arlington, yang juga membawa alutsista aviasi, akan bergabung dengan formasi carrier strike group ke-8 AL-AS yang dipimpin USS Abraham Lincoln di Teluk Persia. Kapal induk itu dikabarkan telah melintasi Terusan Suez untuk menuju Timur Tengah, usai melaksanakan misi di Atlantik. Sementara itu, pesawat pembom B-52 AS juga telah tiba di pangkalan udara di Qatar, tambah Kementerian Pertahanan AS (Pentagon).

Pentagon mengatakan langkah itu merupakan respons terhadap kemungkinan ancaman terhadap pasukan AS di kawasan itu, tanpa menyebut rinciannya. Pentagon Jumat lalu mengatakan tengah "bersiap mempertahankan pasukan dan kepentingan AS di kawasan" Teluk, menambahkan bahwa mereka tak ingin mencari konflik dengan Iran, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (12/5). AS memiliki sekitar 5.200 pasukan di Irak dan beberapa instalasi militer di negara-negara Arab di Teluk Persia.

Iran menolak klaim AS, menyebutnya sebagai omong kosong. Teheran menggambarkan penempatan terbaru alutsista AS di kawasan Teluk Persia sebagai "perang psikologis" yang bertujuan untuk mengintimidasi mereka.

Iran juga telah mengatakan akan kembali melanjutkan pengayaan uranium untuk pengembangan nuklir. Seorang mullah ternama di Iran, seperti dikutip dari kantor berita negara ISNA, mengatakan bahwa armada AS "bisa dihancurkan dengan satu rudal kami".

AS mengumumkan sanksi baru yang keras terhadap Iran, di mana memicu ketegangan meningkat di antara kedua negara, dalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran dalam industri baja, aluminium, tembaga, dan besi, yang merupakan pendapatan mata uang asing paling utama bagi lumpuhnya perekonomian Teheran.

Trump juga mengancam tindak lanjutan yang lebih keras, kecuali Iran "secara fundamental" mengubah perilakunya. Menurut Gedung Putih dalam sebuah pernyataan, sektor logam adalah sumber pendapatan ekspor non-minyak terbesar bagi Iran, yang menyumbang sekitar 10 persen dari pendapatan ekonomi nasional.

"Karena kebijakan kami, rezim Iran kesulitan mendanai kampanye teror yang kejam karena ekonominya menuju depresi yang belum pernah terjadi sebelumnya, pendapatan pemerintah mengering, dan inflasi tidak terkendali," kata Trump dalam sebuah pernyataan.

Langkah AS untuk menjatuhkan sanksi baru kepada Iran dilakukan setelah Teheran mengatakan pihaknya akan menghentikan bagian dari perjanjian nuklir 2015, yang ditinggalkan AS pada 2018 dan memicu krisis saat ini.

Iran mengatakan, pengumuman penarikan diri akan disampaikan oleh Rouhani, termasuk akan menyinggung bagian 26 dan 36 dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA). Dalam artikel itu dibahas langkah yang memungkinkan Iran untuk mengambil kebijakan tertentu jika satu pihak menarik diri dari perjanjian.

Langkah Iran tersebut dapat dilihat sebagai bukti adanya tekanan yang masif dari dalam negeri. Presiden Hassan Rouhani telah berkali-kali didorong untuk mengambil kebijakan konkret menyusul keluarnya AS dari kesepakatan nuklir.

Negeri Persia itu tampaknya telah kehilangan kesabaran dalam usaha menciptakan mekanisme finansial dengan negara-negara Eropa --yang sampai saat ini masih bertahan dalam JCPOA. Mekanisme yang dimaksud khususnya terkait kerja sama perdagangan obat dan barang-barang pokok, sebagai alternatif sanksi AS.

Lambatnya Eropa bukan tanpa alasan. Pemerintahan Trump telah berkali-kali memperingatkan region itu untuk tidak membantu Iran menghadapi sanksi AS, atau mereka akan berhadapan dengan konsekuensi buruk. Sebagai implikasinya, banyak negara Eropa yang menarik diri dari berdagang dengan Teheran.

Tolak Telepon Presiden Trump
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik Abbas Araqchi menolak menghubungi Presiden Donald Trump. Menurut dia, menghubungi Trump via telepon tak menyelesaikan masalah dalam hubungan antara kedua negara.

Araqchi, mengatakan, AS memiliki informasi kontak para pemimpin Iran jika diperlukan. Menurut CNN, mengutip beberapa sumber diplomatik, melaporkan Gedung Putih telah menghubungi Kedutaan Besar Swiss di Iran. Ia diminta memberikan nomor telepon Trump kepada pejabat Iran jika mereka memutuskan untuk menghubunginya.

Kedutaan Besar Swiss di Iran diketahui menangani kepentingan diplomatik AS setelah hubungan Iran-AS terputus menyusul peristiwa penerobosan kedutaan besar AS di negara tersebut dalam revolusi 1979. Ratusan staf diplomatik AS pun sempat disandera.

Pada Kamis lalu, Trump telah mengatakan dia terbuka untuk berbicara dengan para pemimpin Teheran. Jika Iran belum dapat mengagendakan pertemuan, Trump pun bersedia berbicara via telepon. "Saya ingin mereka menelepon saya," ujarnya.

Hubungan AS dengan Iran kian memanas. Hal itu dipicu dengan keputusan AS mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat bomber B-52 ke kawasan Teluk. Pengerahan kekuatan militer itu diperkirakan bertujuan menekan Iran agar bersedia merundingkan program nuklirnya. Namun, para pejabat Iran enggan tunduk pada tekanan AS.

Kepala Biro Politik Garda Revolusi Iran Yadollah Javani menuding AS telah menyebar ancaman dengan mengerahkan kapal induk ke Teluk. Oleh sebab itu, negaranya telah mengesampingkan opsi negosiasi dengan AS. "Tidak ada pembicaraan yang akan dilakukan dengan Amerika, dan Amerika tidak akan berani mengambil tindakan militer terhadap kami," ujar Javani. (liputan6/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments