Senin, 30 Mar 2020
Banner Menu
Detail Utama 1

AS Minta Bantuan Korsel Sediakan Alat Tes Virus Corona

* Trump: Lockdown Berkepanjangan Bisa Hancurkan Negara
Kamis, 26 Maret 2020 20:26 WIB
Foto: Rtr

Sejumlah karyawan dan para relawan menyiapkan paket makanan di South Texas Food Bank, yang akan disalurkan kepada para warga ekonomi lemah di Laredo, Texas, AS. Presiden Donald Trump, Rabu (25/3) memperingatkan bahwa lockdown berkepanjangan untuk mencegah penyebaran virus corona dapat menghancurkan Amerika Serikat. 

Seoul (SIB)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta bantuan penyediaan alat tes virus corona dari Korea Selatan (Korsel). Permintaan itu disampaikan Trump dalam percakapan via telepon dengan Presiden Korsel Moon Jae-in. "Presiden Amerika Serikat, Trump telah mengajukan permintaan kepada kita untuk penyediaan mendesak barang-barang karantina seperti alat diagnosa," kata Moon saat berkunjung ke pengembang alat tes corona di Seoul, Korsel seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (25/3).

Dalam pernyataan terpisah, Blue House, Kepresidenan Korsel, menyatakan bahwa dalam percakapan telepon tersebut, Moon mengatakan pada Trump bahwa alat tes tersebut akan membutuhkan persetujuan dari FDA atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS. Trump pun menjawab bahwa dirinya akan mendapatkan persetujuan tersebut segera. "Jika ada surplus domestik, saya akan mendukung sebanyak mungkin," ujar Moon kepada Trump seperti disampaikan Blue House.

Tidak disebutkan berapa banyak alat tes corona yang akan diberikan. Juga tidak jelas apakah alat tes tersebut akan disumbangkan atau disediakan secara komersial. Pihak Gedung Putih mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin tersebut berbicara via telepon pada Selasa (24/3) waktu setempat. Namun Gedung Putih tidak menyebutkan apakah Trump mengajukan permintaan tersebut.

Korsel tadinya menjadi negara yang paling terdampak virus corona selain China. Namun kemudian, Korsel tampaknya berhasil mengendalikan wabah tersebut berkat pengujian besar-besaran dan upaya penelusuran kontak pasien corona. Hingga Selasa (24/3) tengah malam waktu setempat, lebih dari 367 ribu orang di Korsel telah dites corona. AS yang awalnya hanya melakukan sedikit tes, kini telah melaporkan sekira 55 ribu kasus terkonfirmasi corona, atau yang terbanyak di dunia setelah China dan Italia.

Bisa Hancurkan Negara
Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa lockdown berkepanjangan untuk mencegah penyebaran virus corona dapat menghancurkan Amerika Serikat. "Banyak orang sepakat dengan saya. Negara ini tidak dibangun untuk tertutup. Kalian bisa menghancurkan sebuah negara jika menutupnya seperti ini terus," ujar Trump kepada Fox News pada Selasa (24/3). Trump lantas mengatakan bahwa ia ingin membuka kembali AS sebelum perayaan Paskah yang jatuh pada 12 April mendatang. "Saya ingin membuka negara ini dan mempersiapkan semuanya agar bisa dibuka pada Paskah," ucap Trump seperti dikutip AFP.

Sebagian wilayah di Amerika Serikat memang menerapkan penutupan demi mencegah penyebaran virus corona lebih luas. AS sendiri kini menempati urutan ketiga dalam daftar negara dengan kasus corona terbanyak, yaitu mencapai 49.768. Dari keseluruhan angka tersebut, 600 di antaranya meninggal dunia.

Pakar kesehatan menganggap social distancing merupakan salah satu cara efektif untuk mengurangi prospek penularan Covid-19. Namun, Trump menegaskan bahwa penutupan berkepanjangan sangat berlebihan. "Kita kehilangan ribuan orang dalam setahun karena flu. Kita tidak menutup negara ini," tutur Trump. Ia kemudian berkata, "Kita kehilangan lebih banyak orang karena kecelakaan kendaraan. Kita tidak meminta perusahaan kendaraan, 'Berhenti produksi mobil. Kami tidak mau ada mobil lagi.'"

Sejumlah pengamat menganggap pernyataan Trump ini sangat berbau politik karena pada November mendatang AS akan menggelar pemilu. Janji kampanye Trump tahun ini mencakup perekonomian yang kuat dan tingkat pengangguran rendah. "Kita tidak bisa kehilangan Boeing. Kita tidak bisa kehilangan perusahaan-perusahaan ini. Jika kita kehilangan perusaahan-perusahaan itu, kita bicara soal ribuan pekerjaan, jutaan pekerjaan," katanya. (AFP/dtc/CNNI/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments