Minggu, 21 Apr 2019

AS Kirim Bantuan, Maduro Blokir Perbatasan

* AS Tawarkan Cabut Sanksi bagi Militer yang Membelot dari Maduro
admin Jumat, 08 Februari 2019 14:20 WIB
Foto/liputan6
Pasukan militer Venezuela memblokir perbatasan dengan Kolombia di jembatan Trenditas, Cucuta, Kolombia, Rabu (6/2), menggunakan sebuah tanker bahan bakar dan dua kontainer untuk mencegah masuknya bantuan kemanusiaan yang dikirim oleh pihak-pihak pendukung oposisi.
Caracas (SIB) -Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Venezuela yang menderita akibat krisis yang melanda negeri itu. Namun bantuan itu ditolak Presiden Nicolas Maduro yang memerintahkan militer Venezuela memblokir jembatan di perbatasan Kolombia, yang akan menjadi jalur penyaluran bantuan. Seperti dilansir Reuters dan Hurriyet Daily News, Kamis (7/2), Dewan Nasional Venezuela yang didominasi oposisi pemerintahan telah memperingatkan militer Venezuela yang loyal pada Maduro, untuk tidak melanggar 'garis merah' dengan memblokir bantuan kemanusiaan.

Situasi krisis di Venezuela semakin memanas setelah pemimpin oposisi Juan Guaido menantang pemerintahan Maduro dan memproklamirkan diri sebagai presiden sementara Venezuela pada 23 Januari lalu. Aksi Guaido itu memicu krisis internasional. Dalam pernyataannya, Guaido yang merupakan Ketua Dewan Nasional Venezuela, mengklaim bahwa lebih dari 300 ribu orang terancam tewas jika bantuan kemanusiaan tidak disalurkan.

Maduro menyebut bahwa bantuan kemanusiaan akan menjadi 'pembuka jalan' bagi sebuah invasi yang dipimpin AS. Dia bersikeras menyatakan bahwa 'tidak ada satupun yang akan masuk, tidak ada satupun yang akan menginvasi tentara'.

Militer Venezuela menggunakan truk tanker dan dua buah kontainer berukuran raksasa untuk memblokir akses ke Jembatan Tienditas, yang menghubungkan Cucuta yang ada di Kolombia dengan Urena di Venezuela pada Selasa (5/2) lalu. Para tentara Venezuela yang membawa senjata lengkap berjaga di pos-pos bea cukai, bersumpah menghalangi setiap upaya untuk menyeberang perbatasan.
Wilayah Cucuta cenderung tenang namun para petugas imigrasi Kolombia harus sedikit memundurkan posisinya dari garis perbatasan akibat situasi yang semakin tegang dengan Venezuela. Di kota perbatasan Urena, Venezuela, warga mulai mendaftar, meski secara tidak resmi, untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan.

"Kami putus asa. Uang kami tidak bernilai untuk mendapatkan apapun. Maduro tidak ingin membantu, tapi dia seharusnya memikirkan rakyat yang tidak punya apapun untuk dimakan," ujar seorang warga Venezuela, Livia Vargas (40).

Bantuan kemanusiaan dari AS itu dikoordinasikan oleh Guaido yang kini mendapatkan dukungan sekitar 40 negara sebagai pemimpin sementara Venezuela. Maduro berulang kali menuding AS menghasut kudeta di negaranya. AS sendiri telah menyatakan tidak mengesampingkan opsi intervensi militer ke Venezuela.

Belum diketahui bagaimana cara pemerintah Kolombia dan AS menyalurkan bantuan kemanusiaan itu tanpa izin Maduro. Kiriman bantuan diketahui juga datang dari negara-negara lain termasuk Kanada dan Jerman.

Kolombia sejauh ini telah menerima lebih dari 1,1 juta warga Venezuela yang kabur dari negaranya, dengan sekitar 3 ribu orang datang setiap harinya. Pemerintah Kolombia memperkirakan jumlah itu bisa mencapai 4 juta orang pada tahun 2021 jika krisis Venezuela tidak juga berakhir.

Tambah Bantuan
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menggandakan sumber dayanya bagi Venezuela. Tujuannya, untuk membantu mengatasi kebutuhan kemanusiaan akibat krisis di negara itu. Di bawah Presiden Nicolas Maduro, Venezuela yang kaya minyak telah jatuh ke dalam krisis ekonomi, menderita hiperinflasi dan kekurangan makanan dan obat-obatan yang mendorong 2,3 juta orang untuk melarikan diri sejak 2015. Maduro berada di bawah tekanan setelah Amerika Serikat, sejumlah negara Eropa, dan pemerintah Amerika Latin mengakui pemimpin oposisi sebagai presiden sementara sampai pemilihan baru.

Presiden ICRC Peter Maurer mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa anggaran organisasi di Venezuela telah berlipat ganda menjadi 15,8 juta euro. Anggaran itu bakal digunakan untuk membantu menangani kebutuhan besar penduduk.

"Fokus kami benar-benar untuk, di satu sisi meningkatkan respons kami terhadap Venezuela, dan di sisi lain untuk menjauhkan diri dari kontroversi politik dan perpecahan politik yang menjadi ciri khas krisis di Venezuela," kata Maurer.

Pengumuman itu dikeluarkan setelah pemimpin oposisi Juan Guaido, yang lebih dari 40 negara telah mengakui sebagai presiden Venezuela, mengatakan ia telah mengatur kedatangan bantuan kemanusiaan AS dan Kanada.

Maduro, yang didukung oleh Rusia, Cina, Turki, Kuba dan Iran, telah menolak semua pengiriman bantuan kemanusiaan internasional ke Venezuela. Dia menilai bantuan itu akan membuka jalan untuk memungkinkan invasi militer AS.

Di Jenewa, Maurer mengatakan bantuan kemanusiaan harus tetap netral dan tidak memihak. Dia mengatakan ICRC tidak akan terlibat dengan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pemerintah atau oposisi. ICRC hadir di negara-negara tetangga untuk membantu pengungsi Venezuela yang melarikan diri melintasi perbatasan, dan juga memberikan layanan kesehatan kepada Venezuela.

Cabut Sanksi
Amerika Serikat melakukan manuver untuk menjauhkan militer Venezuela dari Presiden Nicolas Maduro. Melalui kicauannya di Twitter, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menawarkan penghapusan sanksi bagi militer yang bersedia membelot dari Maduro. "AS mempertimbangkan mencabut sanksi bagi pejabat militer Venezuela yang mendukung demokrasi serta Presiden Juan Guaido," ujar Bolton.

Bolton mengancam bakal menutup ekonomi internasional sepenuhnya jika tidak ada yang mendukung Guaido. "Buatlah keputusan yang tepat!" tegas dia. Pernyataannya kemudian mendapat dukungan dari anggota Senat AS Marco Rubio.

Bolton melanjutkan, Maduro dan kroninya mendapat kehidupan enak di Eropa dan memperkaya Kuba dengan mengeruk alam Venezuela. "Di sisi lain, rezim itu memblokade rakyat Venezuela, baik sipil maupun kalangan militer, untuk mendapat bantuan kemanusiaan," kecam dia.

Pernyataan Bolton terjadi setelah Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menuduh rezim Maduro memerintahkan militer menutup bantuan. Dalam pidato kenegaraan (State of the Union), Presiden Donald Trump berkata pemerintahannya bakal terus menekan rezim sosialis Maduro. "Kami berpihak kepada rakyat Venezuela dalam upaya mulia mereka untuk mencari kemerdekaan," tegas Trump di hadapan Kongres AS.

Trump mengakui Guaido yang merupakan pemimpin oposisi sebagai presiden sementara, dan mempertimbangkan intervensi militer ke Venezuela. Rubio, yang orangtuanya merupakan migran, menyatakan AS berjanji memberikan perlindungan bagi siapa saja yang menentang Maduro. "Pemimpin militer seperti Menteri Pertahanan Vladimir Padrino mempunyai peran penting dalam mengembalikan demokrasi di Venezuela," ujar Rubio di Twitter. "Dan jika mereka melakukannya, AS serta komunitas internasional lainnya wajib menghormati amnesti yang ditawarkan pemerintah sah," lanjut dia. (Detikcom/Kps/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments