Senin, 30 Mar 2020
Banner Menu
Detail Utama 1
  • Home
  • Luar Negeri
  • AS Hentikan Layanan Visa di Seluruh Dunia, Trump: Tidak Perlu Lockdown

AS Hentikan Layanan Visa di Seluruh Dunia, Trump: Tidak Perlu Lockdown

Senin, 23 Maret 2020 21:14 WIB
Anthony DELANOIX via Unsplash

Bendera Amerika Serikat. 

Washington DC (SIB)
Amerika Serikat (AS) menghentikan sementara penerbitan visa di Kedutaannya yang ada di seluruh dunia karena pandemi virus corona atau COVID-19. Seluruh layanan visa di Kedutaan AS akan dihentikan hingga waktu yang belum ditentukan. Seperti dilansir AFP, Sabtu (21/3), langkah ini diumumkan Departemen Luar Negeri (Deplu) AS dalam pernyataan terbaru pada Jumat (20/3) waktu setempat.

Penghentian sementara penerbitan visa ini berlaku untuk visa imigran dan visa non-imigran. "Merespons tantangan signifikan di seluruh dunia yang berkaitan dengan pandemi COVID-19, Departemen Luar Negeri untuk sementara menangguhkan layanan visa rutin di seluruh Kedutaan Besar dan Konsulat AS," demikian pernyataan imbauan perjalanan yang dirilis Deplu AS.

Dengan penghentian sementara ini, maka seluruh jadwal wawancara visa AS mulai 20 Maret dibatalkan. Disebutkan juga oleh Deplu AS bahwa seluruh Kedutaan Besar (Kedubes) dan Konsulat AS di berbagai negara masih akan mempertimbangkan visa darurat jika memiliki staf yang cukup.

Sebelumnya Deplu AS menyatakan bahwa pihaknya menangguhkan penerbitan visa di sebagian besar pos diplomatik di luar negeri. Namun pengumuman terbaru pada Jumat (20/3) waktu setempat merupakan penangguhan secara global. Meski penangguhan penerbitan visa ini berlaku untuk sementara, tidak disebutkan lebih lanjut oleh Deplu AS soal kapan layanan visa akan normal kembali.

Penangguhan penerbitan visa AS ini tidak akan mempengaruhi para pelancong yang berasal dari negara-negara Barat dan negara Asia yang kaya, yang bisa datang ke AS tanpa perlu visa. Namun diketahui bahwa sebelumnya AS telah menghentikan sementara penerbangan dari negara-negara Eropa dalam upaya menghentikan penyebaran virus Corona. Ditambahkan Deplu AS dalam pernyataannya bahwa Kedutaan AS akan tetap buka dan beroperasi untuk membantu setiap warga negara AS di luar negeri.

Dalam pernyataan terpisah, Deplu AS sebelumnya juga mendorong seluruh warga AS yang ada di luar negeri untuk pulang jika ada penerbangan komersial yang tersedia. Dorongan ini disampaikan karena terbatasnya bantuan kekonsuleran di berbagai negara dan larangan perjalanan yang diberlakukan banyak negara karena pandemi virus corona.

Tidak Perlu Lockdown
Sementara itu, presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negaranya merasa tidak perlu melakukan lockdown. Trump mengatakan terus bekerja dengan para gubernur di AS di tengah wabah virus corona (COVID-19). "Jadi tidak, kami bekerja dengan para gubernur dan saya pikir kami tidak akan pernah merasa itu perlu (lockdown)," kata Trump saat menanggapi pertanyaan wartawan di Gedung Putih, seperti yang dilansir AFP, Sabtu (21/3). Peningkatan kematian terkait Corona di AS naik menjadi 210-lebih dari dua kali lipat dalam tiga hari dengan lebih dari 14.600 infeksi yang dikonfirmasi, menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

Sementara itu, Gubernur New York Andrew Cuomo memerintahkan bisnis yang tidak penting untuk ditutup dan melarang semua pertemuan di negara bagian New York, sehari setelah mitranya Gavin Newsom mengatakan kepada 40 juta penduduk California untuk tinggal di rumah. "Kita semua berada di karantina sekarang," kata Cuomo. Di New York saja jumlah infeksi yang dikonfirmasi melonjak menjadi 7.000, pada Jumat (20/3), sebagian besar karena peningkatan pengujian.

Tersedia Akhir Maret
Gedung Putih menjanjikan akan ada 27 juta alat tes virus corona yang tersedia untuk pasien pada akhir Maret 2020. Lebih dari 10 juta alat tes telah didistribusikan ke laboratorium secara nasional dalam dua minggu pertama bulan Maret, kata Asisten Menteri Kesehatan AS, Brett Giroir, dalam konferensi persnya. "Kami berjanji 1 hingga 4 juta, ada 10 juta (alat) tes di pasaran sekarang," kata Giroir dikutip dari New York Post. Dia mengindikasikan 17 juta lainnya akan datang akhir bulan.

"Tidak semua lab dapat menjalankan tes, dan tidak semua tes bisa dilakukan sendiri." "Jadi pertanyaan terpenting bukan berapa banyak tes dilakukan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap segmen pasar memiliki jenis tes yang dapat mereka gunakan," lanjut Giroir.

Pengujian virus corona di Negeri "Uncle Sam" sangat terbatas dalam beberapa minggu ini. New York dan negara-negara bagian lainnya telah memesannya untuk warganya yang berisiko paling tinggi atau gejala terparah. Selain penyediaan alat uji Covid-19, AS juga telah melakukan uji coba vaksin corona pertamanya pada Senin (16/3). Sekelompok sukarelawan yang berisi 45 orang mendapat suntikan vaksin ini di fasilitas penelitian Kaiser Permanente, Seattle.

Dilansir dari BBC, vaksin ini mengandung kode genetik yang tidak berbahaya yang disalin dari virus yang menyebabkan penyakit. Meski begitu, para ahli mengatakan, masih perlu waktu berbulan-bulan untuk membuktikan apakah vaksin ini akan bekerja, baik dalam penelitian maupun orang lain. Waktu selama itu diperlukan sebagai studi tambahan dari ribuan orang untuk mengetahui apakah vaksin benar-benar melindungi dan tidak membahayakan.

Namun di balik kabar baik ini, terselip juga kabar buruk karena sejumlah tim medis AS kekurangan Alat Pelindung Diri (APD). Para dokter mengenakan kembali masker yang telah dipakai. Perawat pun akan tetap bekerja untuk menangani pasien, meski terpapar virus corona. Di ruang gawat darurat Los Angeles, dokter diberikan sekotak masker kedaluwarsa, dan ketika mereka mencoba memakainya, ikat elastis itu patah.

Jika persediaan masker habis, para staf harus menggantinya dengan bandana atau syal. Dengan kasus virus corona yang melonjak, dokter, perawat, dan pekerja medis garis depan lainnya di seluruh Amerika Serikat menghadapi kekurangan masker, baju perlindungan diri, dan kaca mata pelindung dari virus. Itulah kondisi yang terjadi di rumah sakit Amerika Serikat saat ini: ada banyak pasien dan tidak cukup sumber daya untuk merawat mereka. (AFP/detikcom/BBC/NYPost/kps/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments