Jumat, 13 Des 2019
  • Home
  • Luar Negeri
  • Ukraina Kembali Rusuh, 21 Mayat Berpakaian Sipil Ditemukan Dekat Kantor Kepresidenan

Kesepakatan Damai Dilanggar

Ukraina Kembali Rusuh, 21 Mayat Berpakaian Sipil Ditemukan Dekat Kantor Kepresidenan

* Kondisi Tak Terkendali, Presiden Ukraina Pecat Panglima Militer, * AS Tolak Beri Visa untuk 20 Pejabat Ukraina , * Salahkan Oposisi, Rusia Kecam Aksi di Ukraina Sebagai Upaya Kudeta
Jumat, 21 Februari 2014 14:15 WIB
Sib/ap photo
Sejumlah aktivis dan pendeta memberikan doa dan penghormatan terakhir kepada demonstran yang tewas akibat bentrok dengan polisi Ukraina. Pertumpahan darah baru kembali terjadi di Independence Square, Kiev, Ukraina, Kamis (20/2), mengakibatkan 21 orang tew
KIEV (SIB)- Pertumpahan darah kembali terjadi di Kiev, Ukraina. Kesepakatan damai yang disepakati oleh pihak Pemerintah Ukraina dengan oposisi tidak berlangsung lama. Kerusuhan baru kembali terjadi, Kamis (20/2/2014) pagi waktu setempat. Seorang fotografer kantor berita Reuters Vasily Fedosenko melaporkan, dirinya menemukan setidaknya 21 mayat berpakaian sipil di tiga tempat di Independence Square, hanya beberapa ratus meter dari kantor kepresidenan Ukraina.

Polisi Ukraina menyebutkan 20 orang petugasnya dilaporkan terluka dalam kerusuhan terbaru. Namun Vasily Fedosenko menyebutkan, 21 jasad tergeletak di sekitar Independence Square. Menurut pihak kepolisian, bentrokan baru tersebut terjadi beberapa saat setelah Presiden Viktor Yanukovych sepakat untuk berdamai dengan pihak oposisi. Tetapi kenyataannya, kerusuhan yang terjadi antara massa anti-pemerintah dengan pihak kepolisian, menggagalkan kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Ukraina mengenai jumlah pasti korban tewas dalam kerusuhan terbaru tersebut. Media lokal menyebut korban tewas mencapi lebih dari 30 jiwa dan sebagian besar adalah warga sipil yang melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Ukraina. Demikian seperti dilansir dari kantor berita Reuters, Kamis (20/2).

Media setempat menunjukkan para pengunjuk rasa yang merebut kembali Independence Square dan bergerak maju ke tempat yang sebelumnya dipertahankan oleh pihak kepolisian. Beberapa anggota polisi tampak digiring menjauh oleh massa dan peluru tajam pun digunakan dalam kerusuhan terbaru ini, meskipun tidak diketahui pihak mana yang terlebih dulu melepaskan tembakan.

Kondisi Tak Terkendali, Presiden Ukraina Pecat Panglima Militer

Kondisi keamanan Ukraina tak kondusif membuat Presiden Viktor Yanukovych mengambil tindakan. Salah satunya adalah dengan memecat beberapa pejabat tinggi  negeri pecahan Uni Soviet tersebut. Kepala Militer Kolonel Jenderal Volodymyr Zamana merupakan korban pemecatan tersebut. Posisi Zamana akan digantikan oleh Komandan Angkatan Laut Ukraina Laksamana Yuriy Ilyin. Dilansir dari BBC, Kamis (20/2), pemecatan Zamana terjadi secara mengejutkan. Alasan pemecatan tersebut juga masih dirahasiakan. Tidak hanya di dalam Negeri, kerusuhan yang terjadi di Ukraina juga mengundang kecaman dan keprihatinan dari dunia luar. Bahkan, sanksi pun kemungkinan dijatuhkan kepada Ukraina.

Kerusuhan terbaru pecah di saat tiga orang Menteri Luar Negeri dari Uni Eropa datang ke Kiev untuk melakukan pembicaraan dengan Yanukovych. Sementara anggota parlemen pun dilarikan ke tempat yang aman. Tidak diketahui apakah kerusuhan ini bisa mempengaruhi misi dari delegasi yang berasal dari Jerman, Prancis, dan Polandia tersebut.    

AS Tolak Beri Visa untuk 20 Pejabat Ukraina

Amerika Serikat (AS) menolak memberikan visa kepada 20 pejabat Ukraina. AS pun juga mempertimbangkan memberikan sanksi. Pemerintahan Presiden Barack Obama mengumumkan aturan tersebut, sebagai reaksi atas kerusuhan yang kembali meletus di Ukraina. Belum diketahui siapa saja pejabat Ukraina yang dikenakan sanksi tersebut.

Obama mengaku bahwa pemerintahannya saat ini terus memonitor situasi yang terjadi di negeri pecahan Uni Soviet tersebut. Dirinya pun mengharapkan Pemerintah Ukraina bisa menahan diri dan tidak melakukan kekerasan. "Akan ada konsekuensi bila nyawa rakyat terus menjadi taruhan," ujar Obama, seperti dikutip The New York Times, Kamis (20/2).

Seperti diberitakan sebelumnya, kesepakatan damai yang disepakati oleh pihak Pemerintah Ukraina dengan oposisi tidak berlangsung lama. Kerusuhan baru kembali pecah Kamis (20/2) pagi waktu setempat, dan media menyebutkan melihat 21 mayat tergeletak tak jauh dari kantor kepresidenan.

Polisi Ukraina menyebutkan 20 orang petugasnya dilaporkan terluka dalam kerusuhan terbaru. Namun seorang fotografer dari Reuters menyebutkan, 21 jasad tergeletak di sekitar Independence Square.

Sementara itu, kunjungan dari tiga menteri luar negeri dari negara Uni Eropa dilaporkan akan tetap berlangsung, setelah sebelumnya dilaporkan batal. Sedianya pertemuan ketiga menlu tersebut ditujukan untuk meredakan ketegangan yang terjadi.

Rusia Kecam Aksi di Ukraina Sebagai Upaya Kudeta

Ukraina bergolak! Pemerintah Rusia mengecam kerusuhan berdarah di negara tetangganya itu sebagai upaya kudeta. Presiden Rusia Vladimir Putin pun menyalahkan oposisi atas eskalasi terbesar dalam aksi-aksi demo antipemerintah yang telah berlangsung tiga bulan itu.

"Menurut opini presiden, semua tanggung jawab atas apa yang terjadi sekarang di Ukraina secara khusus ada di tangan ekstremis," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA Novosti. "Tindakan mereka bisa dipandang dan secara khusus dipandang di Moskow sebagai upaya kudeta," imbuhnya seperti dilansir News.com.au, Kamis (20/2).

Kementerian Luar Negeri Rusia menyerukan oposisi untuk segera menghentikan kekerasan di Ukraina. "Pihak Rusia mendesak agar para pemimpin oposisi menghentikan pertumpahan darah di negara mereka," demikian pernyataan kementerian.

Kiev telah dilanda aksi demo antipemerintah sejak Presiden Viktor Yanukovych tunduk pada tekanan Rusia dan menarik diri dari perjanjian perdagangan yang direncanakan dengan Uni Eropa. Aksi-aksi demo itu berubah fatal sejak hari Selasa, 18 Februari setelah terjadi bentrokan antara aparat polisi dan para demonstran. (Rtr/R16/BBC/okz/x)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments