Selasa, 22 Okt 2019

admin Senin, 29 Juli 2019 21:49 WIB
Ilustrasi
Maroko (SIB) -Raja Mohammed VI sedang bersiap-siap untuk menandai 20 tahun kepemimpinannya di Maroko, negara Afrika Utara yang dipandang sebagai kawasan stabil tetapi diliputi oleh ketidaksetaraan ekonomi. Kota-kota Maroko telah dihias untuk menandai peringatan pada hari Selasa (30/7), sementara surat kabar telah menerbitkan editorial yang memuji prestasi raja. Tetapi beberapa pekan terakhir juga terjadi gelombang kritik atas "penurunan kualitas Maroko", dengan pengamat mengutip stagnasi ekonomi dan efeknya yang melumpuhkan kaum muda.

Ketika ia naik takhta pada tahun 1999 setelah wafatnya sang ayah, Hassan II, pemuda yang saat itu berusia 35 tahun ini dianggap sangat menginspirasi, sampai mendapatkan julukan "raja orang miskin". Dalam pidato pertamanya sebagai raja, ia mengatakan penyakit yang dihadapi Maroko ialah: kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan sosial. Dua puluh tahun kemudian, penyakit yang sama nyatanya masih menghantui kerajaan. Majalah Maroc Hebdo baru-baru ini menerbitkan berita utama "Lebih baik tidak menjadi orang Maroko di tahun 2019".

Artikel itu mengecam "bertambahnya pengangguran, lambatnya perubahan struktural dan semakin dalamnya jurang kesenjangan", bersama dengan kelangkaan lapangan pekerjaan bagi kaum muda yang merupakan sepertiga dari 35 juta populasi.

Penasihat kerajaan Omar Azziman, dalam sesi wawancara yang sangat jarang, mengakui bahwa ada "ketidakpuasan" di negara itu. "Kami tidak dapat memberi pekerjaan untuk anak muda kami, kami memiliki daerah yang terlalu miskin," katanya kepada AFP.

Ketika gerakan kebangkitan Arab melanda Afrika Utara dan sekitarnya, Mohammed VI menggagalkan aksi protes yang terjadi dengan menawarkan reformasi konstitusi dan berjanji untuk membenahi kekuasaannya. Wilayah Rif yang lama terpinggirkan di negara itu diguncang oleh berbulan-bulan protes sejak akhir 2016, dipicu oleh kematian seorang nelayan dan menyulut gerakan yang menuntut lebih banyak pembangunan dan pagar pembatas terhadap korupsi dan pengangguran. Beberapa ratus pemrotes diduga telah ditangkap dan diadili sehubungan dengan demonstrasi, tetapi tidak ada angka resmi yang tersedia.

Perubahan Besar
Sementara raja telah mengampuni sekitar 250 dari mereka, kelompok-kelompok hak asasi melihat tindakan pihak berwenang terhadap gerakan protes Hirak sebagai langkah mundur. Amnesty International sering mengecam penangkapan dan penahanan "sewenang-wenang" di Maroko dan menimbulkan keraguan atas keadilan sistem peradilan negara itu. "Belum ada demokratisasi, lebih merupakan bentuk liberalisasi," kata aktivis akademis dan hak asasi terkemuka Maati Monjib. "Kami melihat periode baru, tetapi itu masih terkait dengan transisi dinasti yang bertujuan mempertahankan monarki eksekutif."

Tetapi menurut Abdellatif Menouni, seorang sarjana konstitusional dan penasihat kerajaan sejak 2011, di bawah Mohammed VI "sebagian besar (apa yang dibutuhkan) dalam hal demokrasi telah dilakukan, dan itu hanya perlu diperdalam". Untuk analis Mohamed Tozi, stabilitas Maroko di wilayah yang sedang kacau merupakan "keberhasilan" dalam konteks regional.

Dia mengutip undang-undang keluarga 2004 yang meningkatkan hak-hak perempuan, komisi yang dibentuk untuk menyelidiki pelanggaran di bawah Hassan II dan keberadaan partai politik sebagai "perubahan besar" yang telah terjadi di Maroko. Namun terlepas dari itu, tujuh dari sepuluh pemuda Maroko, yang melihat sedikit prospek kerja di negaranya, mengatakan mereka ingin beremigrasi, menurut survei Arab Barometer. Dana Moneter Internasional (IMF) telah mendesak kerajaan untuk bergerak ke arah model pembangunan yang "lebih inklusif" dan mengatasi ketimpangan.

Mohammed VI, yang tetap memegang kendali atas sektor-sektor paling strategis di negara itu, telah mengawasi strategi ekonomi yang fokus pada menarik investasi asing, dari jalan dan bandara ke pelabuhan Tanger Med yang luas. Meski demikian ia mengaku masih "tidak mampu memenuhi tuntutan mendesak dari penduduknya". (AFP/CNNI/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments