Kamis, 21 Nov 2019

Presiden China Tegaskan Dukungan Penuh untuk Pemimpin Hong Kong

* Buka Pintu Lebar-lebar untuk Investasi

redaksi Rabu, 06 November 2019 15:50 WIB
Xinhua/AP
Ilustrasi Presiden China dan Pemimpin Hong Kong

Shanghai (SIB)
Presiden China, Xi Jinping, menegaskan dukungannya untuk pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, usai bentrokan yang kembali pecah dalam unjuk rasa di kota berstatus Wilayah Administrasi Khusus tersebut. Presiden Xi menyerukan 'upaya-upaya efektif' untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.


Seperti dilansir AFP, Selasa (5/11), dukungan itu disampaikan Presiden Xi saat bertemu Lam di sela-sela China International Import Expo, yang digelar di Shanghai. Hal itu disampaikan beberapa hari setelah Partai Komunis China sepakat untuk mengubah cara pemilihan atau penunjukan pemimpin Hong Kong.


Laporan Xinhua News Agency menyebut Presiden Xi menyerukan 'upaya-upaya efektif' untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan menyerukan dialog dengan seluruh lapisan masyarakat dalam pertemuan dengan Lam pada Senin (4/11) kemarin. "Lam telah memimpin pemerintah SAR (Wilayah Administrasi Khusus) untuk sepenuhnya menjalankan tugas-tugasnya, berusaha menstabilkan situasi dan meningkatkan atmosfer sosial, dan telah melakukan banyak kerja keras," kata Presiden Xi dalam pernyataannya.


"Xi menyuarakan kepercayaan tingkat tinggi dari pemerintah pusat untuk Lam dan pengakuan penuh atas kinerjanya dan tim pemerintahannya," sebut Xinhua News Agency dalam laporannya. "Mengakhiri kekerasan dan kekacauan dan memulihkan ketertiban tetap menjadi tugas paling penting bagi Hong Kong pada saat ini," imbuh Xinhua News Agency mengutip pernyataan Presiden Xi.


Hong Kong dilanda unjuk rasa antipemerintah yang beberapa waktu terakhir seringkali berujung bentrokan sengit. Unjuk rasa ini merusak reputasi Hong Kong yang dikenal stabil dan kondusif, serta membawa kota semi-otonomi itu ke dalam resesi.


Pemerintah pusat China memberlakukan formula khusus 'satu negara, dua sistem' yang mengizinkan warga Hong Kong memiliki kebebasan yang tidak dimiliki warga China daratan. Sistem itu berlaku sejak penyerahan Hong Kong dari Inggris ke China tahun 1997 silam. Namun kemarahan publik terhadap China telah terbentuk selama tahun-tahun, dengan kekhawatiran bahwa China berupaya mengikis kebebasan yang berlaku di Hong Kong. Bentrokan terbaru antara demonstran dan polisi Hong Kong memicu tiga korban luka yang dilaporkan dalam kondisi kritis di Hong Kong. Salah satu bentrokan terjadi di kawasan pusat perbelanjaan Hong Kong, yang menjadi lokasi berkumpulnya para demonstran pada Minggu (3/11) waktu setempat.


Buka Pintu Lebar-lebar untuk Investasi
Sementara itu, saat berbicara di pembukaan China International Import Expo yang berlangsung pada 5-10 November 2019, Presiden China Xi Jinping mengatakan perlu lebih banyak upaya untuk meningkatkan kerja sama internasional dan menghilangkan hambatan yang mencegah pertukaran ilmu pengetahuan. Xi Jinping juga menjanjikan untuk secara bertahap membuka pasar dalam negerinya. "Pintu yang telah dibuka oleh China ini, akan dibuka lebih lebar lagi," kata Xi dalam pidato pembukaan, Selasa (5/11). Presiden Prancis Emmanuel Macron, perdana menteri Yunani, Jamaika dan Serbia termasuk yang hadir dalam pembukaan pameran ini.
Pameran China International Import Expo yang telah dua kali digelar memamerkan pasar negara yang berpenduduk sekitar 1,4 miliar orang ini. Pameran digelar untuk menyangkal tuduhan bahwa China telah secara tidak wajar mensubsidi industri mereka dan melindunginya dari persaingan internasional.


Pameran ini menawarkan platform pemasaran untuk pemasok barang asing mulai dari minuman anggur hingga kapal pesiar. Xi menegaskan janji untuk mengurangi pembatasan investasi asing dan tawaran untuk mempercepat penyelesaian perjanjian investasi China-Eropa.


Beijing telah mengumumkan serangkaian perubahan dalam dua tahun terakhir guna membuat perekonomiannya yang didominasi oleh negara dapat lebih produktif. Termasuk dalam perubahan ini di antaranya adalah pemotongan tarif impor dan penghapusan batas kepemilikan asing di bidang manufaktur mobil dan keuangan. Namun tidak satu pun dari perubahan tersebut yang membahas keluhan Amerika Serikat dan Eropa terkait kebijakan teknologi dan gangguan lain yang mendorong Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor terhadap barang-barang dari China.


Presiden Xi tidak menyebutkan secara spesifik terkait perang dagang dengan Washington tetapi lebih menyerukan pembangunan dan "ekonomi dunia yang terbuka dan berbagi." Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan keprihatinan tentang dampak global dari ketegangan AS dan China dan berharap adanya penyelesaian secepatnya. "Perang dagang hanya menghasilkan pihak-pihak yang kalah," ujar Macron dalam pidatonya.


Pada 12 Oktober 2019 Amerika dan China mengumumkan apa yang disebut Trump sebagai perjanjian "tahap pertama" setelah pembicaraan di Washington. Namun kedua pihak melaporkan tidak ada kemajuan dalam perselisihan inti mereka. Trump dan Xi dijadwalkan bertemu pada pertemuan para pemimpin Asia-Pasifik pada bulan ini di Chili tetapi acara itu dibatalkan karena protes berkepanjangan di sana. Mereka masih berusaha mencari tempat alternatif untuk melangsungkan pertemuan.


Partai Komunis yang berkuasa berusaha mendorong belanja konsumen untuk menumbuhkan ekonomi, menggantikan perdagangan dan investasi. Tetapi para konsumen merasa tidak yakin dengan adanya perang dagang dan kemungkinan bahwa mereka bisa dengan mudah kehilangan pekerjaan. Konsumen pun lebih sedikit berbelanja dan ini melemahkan penjualan mobil, properti dan barang-barang lainnya.


Para pebisnis menyambut langkah China yang lebih membuka pasarnya. Namun mereka juga menyatakan rasa frustrasi dan berharap China lebih terbuka secara bertahap, alih-alih langsung membuka diri secara tiba-tiba. Banyak investor pendatang baru juga mengeluhkan tingginya persyaratan modal awal dan hambatan lainnya. Pekan raya ini menyoroti bidang perdagangan makanan dan barang-barang manufaktur, yang merupakan area yang didominasi oleh pabrik-pabrik China.


Para mitra dagang mengeluhkan sektor ini sudah terlalu jenuh dan ketinggalan zaman. Mereka ingin memiliki lebih banyak akses dalam bidang industri keuangan, perawatan kesehatan dan layanan lainnya. Serta berharap pemerintah dapat mengakhiri aturan yang menghalangi pembelian sebagian besar perusahaan China dan aset lainnya. (AFP/dtc/Rtr/DWI/q)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments