Rabu, 18 Sep 2019
  • Home
  • Lembaran Budaya
  • Tari Dolalak, Budaya yang Terinspirasi dari Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda

Tari Dolalak, Budaya yang Terinspirasi dari Perlawanan Terhadap Kolonial Belanda

admin Sabtu, 31 Agustus 2019 12:01 WIB
Tari Dolalak
Jakarta (SIB) -Purworejo memiliki sejumlah tarian penting yang mengikat masyarakat dengan nilai-nilai sejarah penting. Salah satu tarian tersebut adalah Dolalak, yang sudah dipentaskan selama ratusan tahun.

Kini, tarian itu masih lestari, bertahan sebagai unsur penting kesenian lokal Purworejo.

Tarian Dolalak tercatat lahir pada masa kolonial Belanda. Proses penciptaannya tergolong unik, karena bukan datang dari kisah-kisah agung dan spiritual seperti banyak tarian lain.

Gerak tarian ini lahir dari peniruan aktivitas serdadu Belanda yang gemar berdansa saat sedang istirahat dan minum minuman keras. Kaum pribumi meniru gerakan itu dan menciptakan tarian dolalak.

Lima jam sampai kerasukan
Dari segi nama, Dolalak berasal dari nama do dan la, sesuai nada pada alat musik yang digunakan. Sejak saat itu, Dolalak tumbuh menjadi tarian yang melekat di masyarakat Purworejo.

Pada era 1940-an, tarian ini sempat dijadikan medium politik untuk melawan para penjajah, sebelum akhirnya kembali jadi bentuk tarian yang dimainkan dalam seremoni.

Tari Dolalak kini mengalami beberapa pengembangan. Tari tetap diiringi musik-musik tradisional, seperti rebana, kendang dan semacamnya. Sentuhan modernisasi membuat tarian ini juga banyak dibawakan dengan iringan keyboard dan alat elektrik lain.

Kunci penting dalam tari dolalak adalah para penari dan stamina yang tinggi karena tarian berlangsung sampai lima jam. Ada kalanya para penari mengalami trance atau kondisi kerasukan sehingga gerakan menjadi lebih menakjubkan. Kini, tari ini biasa ditampilkan di hajatan, pesta pernikahan dan acara penting lain. (Kps.com/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments