Sabtu, 15 Agu 2020
  • Home
  • Lembaran Budaya
  • Suku Yanomami Brazil Makan Abu Jasad Sebagai Bentuk Rasa Sayang kepada Kerabat

Suku Yanomami Brazil Makan Abu Jasad Sebagai Bentuk Rasa Sayang kepada Kerabat

Sabtu, 01 Agustus 2020 20:22 WIB
© Survival /Fiona Watson

Suku Yanomami. 

Semua orang punya berbagai cara untuk mengungkapkan rasa sayang. Yang paling umum adalah memberikan pelukan atau memberikan pujian untuk orang-orang yang mereka sayang.

Namun, yang dilakukan oleh suku di Brasil ini terbilang ekstrem. Untuk menunjukkan rasa sayang kepada kerabat atau saudara yang telah meninggal, mereka akan memakan abu jasadnya.

Budaya ini bernama Endo Kanibalisme. Endo Kanibalisme adalah tradisi memakan jasad orang-orang yang dicintai dari suku Yanomami. Suku Yanomami percaya bahwa jiwa manusia perlu dilindungi dan bisa kembali ke bumi setelah kematian.

Jiwa dari orang yang meninggal bisa diselamatkan jika mayatnya dibakar dan abunya dimakan oleh keluarga dan saudaranya. Suku Yanomami percaya jika makan abu orang yang dicintai akan membuat jiwa mereka terbebas dari kutukan yang mengharuskan mereka tinggal di dunia peralihan, yakni dunia yang berada di antara kehidupan dan kematian.

Suku Yanomami juga biasa menyebut tradisi makan abu jasad ini dengan nama Reahu. Jasad keluarga yang meninggal ditutupi dengan dedaunan dan didiamkan selama 35-40 hari di hutan.

Kemudian sisa jasad aaka dikumpulkan dan disimpan dalam labu. Setelah setahun, sisa jasad ini akan dikremasi. Ketika melakukan Reahu, keluarga akan menyanyikan lagu sedih saat upacara pembakaran jasad.

Sisa abu dan tulang bekas kremasi akan dimasak bersama dengan pisang fermentasi. Sup ini harus dimakan dan dicerna oleh semua anggota keluarga.

Untuk memakannya pun juga nggak asal. Jika orang Yanomami tewas karena dibunuh oleh musuh dari suku lain, maka hanya wanita saja yang akan memakan sup tersebut. Bahkan, memakannya pun harus di malam ketika suku Yanomami akan menyerang balik suku lain. (diadona.id/f)

T#gs Bentuk Rasa SayangKerabatMakan Abu JasadSuku Yanomami
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments