Selasa, 26 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Lembaran Budaya
  • Sepakbola Sudah Dikenal dalam Budaya Mesoamerika Seribu Tahun Sebelum Zaman Modern

Sepakbola Sudah Dikenal dalam Budaya Mesoamerika Seribu Tahun Sebelum Zaman Modern

redaksi Sabtu, 23 November 2019 21:27 WIB
Liputan6.com
Ilustrasi : Sepak Bola

Sepak bola menjadi salah satu olahraga terpopuler di dunia. Ia mudah dimainkan dan para penonton pun merasa terhubung dengan tim yang berlomba di stadion–seperti yang terjadi pada Piala Dunia 2018.


Menurut FIFA, orang-orang Tiongkok adalah yang pertama kali menggiring bola ke dalam jaring pada abad ke-3 sebelum Masehi. Selanjutnya, permainan ini mulai dikenal dengan nama sepak bola ketika Inggris membentuk tim di abad 19.


Namun, menurut peneliti, pendahulu dari permainan populer ini dapat ditemukan di Amerika. "Ide dari olahraga ini diciptakan di Mesoamerika," ujar Mary Miller, profesor sejarah dan seni di Yale University.


Kembali ke sejarah

Di Mesoamerika--wilayah geografis yang membentang dari Meksiko hingga Kosta Rika--peradaban berkembang dengan baik sebelum Columbus "menemukan" mereka. Banyak penduduknya berolahraga dengan bola berat yang terbuat dari resin pohon.


Masih belum jelas di mana sepak bola diciptakan, tapi permainan ini cukup terkenal dalam budaya Mesoamerika seperti Teotihuacanos, Aztec, dan Maya sejak tiga ribu tahun lalu.


Namanya bervariasi–mulai dari ullamaliztli di Aztec hingga pok-ta-pok atau pitz di Maya. Peraturan permainan pun bermacam-macam–ada yang merebut bola dengan menangkapnya, menabrak, atau menggunakan raket dan alat pemukul.


Peradaban kuno ini menyempurnakan proses pembuatan bola karet, seribu tahun sebelum zaman modern.


"Orang-orang itu membuat ribuan bola karet. Bentuknya masih agak berongga, tapi beratnya masing-masing mencapai tujuh kilogram," papar Miller.


Bola-bola tersebut hampir tersebar di semua budaya Mesoamerika, beberapa di antaranya bahkan masih ada dalam catatan arkeologi.


Selain bola, bukti lain dari permainan ini adalah penemuan wadah keramik dan 1.300 lapangan batu yang tersebar di wilayah tersebut. Masing-masing lapangan cukup untuk menampung banyak penonton.


Bukti juga terdapat dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Diego Duran, pendeta Dominika yang menjadi saksi mata kehidupan suku Aztec.


Ia mendeskripsikan bahwa bola telah dimainkan di sana pada 1585: "Pemain Aztec memantulkan bola ke sesama anggota tim menggunakan pinggul dan bokong mereka (kaki dan tangan dilarang digunakan). Mereka mencoba melambungkannya ke garis tengah dan memukul dinding pertahanan belakang lawan hanya dengan satu pantulan. Mereka sering mengalami cedera yang mengancam jiwa saat terkena bola keras yang berat."


Jika seorang pemain berhasil memasukkannya dalam ring, maka ia otomatis menang.


Pemenang permainan, tulis Duran, "dihormati seperti orang yang telah mengalahkan banyak lawan dalam sebuah pertempuran."


Membuat pengorbanan
Meskipun dimainkan hampir setiap hari–seperti sepak bola atau basket–tapi permainan bola dalam budaya Mesoamerika, diselenggarakan di tempat suci seperti peringatan agama atau pertempuran.


Raja-raja Aztec diketahui memainkannya sebagai pengganti perang, untuk mendapatkan kekuasaan hingga menyebarkan kebijakan diplomatik.


Dalam budaya Maya dan Veracruz, "nilai" permainannya bahkan lebih tinggi. Mereka yang kalah bertanding harus dikorbankan.
Meskipun spesifikasinya tidak jelas, namun beberapa lapangan dihiasi dengan panel-panel yang menggambarkan pengorbanan pemain kalah yang berlumur darah.


Namun, menurut Miller, para arkeolog abad ke-20 menolak memercayai hal tersebut. Mereka menggambarkan Maya sebagai suku yang luar biasa, bukan suka perang.


"Para arkeolog tidak percaya bahwa Maya mengorbankan manusia dan itu tidak masuk akal," katanya. Dalam mitologi Maya, pecundang yang kalah dalam permainan bola akan dipenggal.


Banyak pertanyaan yang muncul terkait bagaimana bola dimainkan di sana dan bagaimana ritual mengerikan bisa terjadi. Namun, terlepas dari itu semua, menurut Miller, semangat permainan bola yang melibatkan "pemikiran tim yang rumit" masih ada hingga saat ini. Ia hidup dengan baik di langkah kaki jutaan pemain yang berlari dan menendang bola di lapangan setiap harinya. (Nationalgeographic/q)

T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments