Kamis, 19 Sep 2019

Potret Tradisi Chaupadi, Mengasingkan Wanita yang Sedang Menstruasi

admin Sabtu, 30 Maret 2019 16:14 WIB
SIB/Nationalgeographic
Uma (14), salah satu remaja yang diasingkan dan harus tidur di gubuk karena sedang menstruasi.
Melalui serial fotonya yang berjudul A Ritual of Exile, Paulomi Basu, fotografer asal India, ingin membantu mengakhiri tradisi Chaupadi yang sudah berakar kuat di wilayah pedesaan di Nepal. Tradisi ini mendorong perempuan yang sedang mengalami menstruasi hidup terisolasi dan disiksa dengan alasan adat dan agama.

Foto-foto yang diambil Basu menampilkan situasi ekstrem di mana para perempuan harus bertahan selama satu minggu setiap bulannya di dalam tempat tak layak.

Saat menstruasi, perempuan dianggap kotor dan dikhawatirkan akan memberi bencana pada manusia, lahan, serta ternak di sekitarnya. Oleh sebab itu, mereka diusir dari rumah dan diasingkan.

Beberapa perempuan ada yang tinggal di gudang. Sementara yang lainnya harus menempuh perjalanan selama 10-15 menit ke dalam hutan, lalu bertahan dalam gubuk.

Selama pengasingan, banyak perempuan yang meninggal. Penyebabnya: suhu yang amat panas, sesak napas akibat terlalu banyak menghirup asap api unggun, hingga digigit ular kobra. Mereka juga sering menjadi korban pemerkosaan.
Rasa sakit di balik keindahan

Basu memulai proyek fotonya ini sejak 2013. Ia mengunjungi Nepal selama dua minggu per tahunnya. Aksesnya cukup sulit. Basu bahkan harus berjalan enam hingga delapan jam di atas pegunungan untuk mencapai desa lokasi Chaupadi dilaksanakan.

"Saya berpikir berapa banyak rasa sakit di balik keindahan pemandangan yang seharusnya menggambarkan kebebasan ini," kata Basu.

Meskipun praktek Chaupadi dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung Nepal sejak 2005, nyatanya, wanita yang dipotret Basu seolah-olah sudah terlatih untuk menerima tradisi ini tanpa komplain.

Namun, bukan berarti para ibu rela anaknya mengalami pengasingan setiap menstruasi. Beberapa bahkan ada yang meminta Basu untuk membawa anaknya pergi dari sana.

"Sayangnya, jalan menuju revolusi tak akan mudah," pungkas Basu. (Nationalgeographic/q)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments