Senin, 20 Mei 2019

Pesan Mendalam Upacara Reba dan Nilai Luhur Budaya Masyarakat Ngada NTT

admin Sabtu, 23 Februari 2019 16:18 WIB
SIB/Liputan6.com/Ola Keda
Masyarakat ngada saat menggelar ritual reba.
Kupang (SIB) -Pesta Adat Reba, kegiatan kebudayaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang diselenggarakan dalam rangka menyambut pergantian tahun. Salah satu ciri khas dari festival budaya ini adalah memakan ubi bersama-sama dengan diiringi tarian adat suku Bena bernama Besa Uwi.

Pesta Reba biasanya diselenggarakan pada bulan Desember hingga Februari. Namun, puncak acara Pesta Reba diselenggarakan pada pertengahan Januari, yakni pada tanggal 14-16 Januari di setiap tahunnya.

Reba adalah tahun baru dalam kalender etnis Ngada di Kabupaten Ngada. Reba adalah pesta adat terbesar, pesta syukur atas kasih kebaikan dan penyelenggaraan Tuhan (Dewa Zeta Nitu Zale) yang dinikmati orang Ngada lewat hasil pertanian, peternakan, dan lainnya.

Reba dirayakan setahun sekali pada bulan Januari atau Februari tergantung petunjuk 'kepo wesu' atau pemegang adat yang menentukan masa perayaannya. Dalam pesta Reba, rasa syukur manusia atas kebaikan Tuhan disimbolkan lewat Uwi (ubi tapi bukan singkong). Uwi diyakini roti kehidupan manusia pada masa 'in Illo tempore-nya' orang Ngada. Sehingga uwi dalam ritus Reba adalah simbol yang utama, yang diungkapkan secara puitis sebagai berikut:

"Uwi meze go lewa laba. Lobo wi so'i Dewa. Kabu nga role nitu, ladu wai poso. Koba rako lizu. Uwi sedu peka rua wali. Kutu koe, dhano ana ko'e. Sui moki, moki bhai moli".

Terjemahannya kira-kira begini: Ubi sebesar gong, sepanjang gendang. Pucuk menjulang kepada Tuhan. Akar tertanam memeluk Dewa Bumi, kayu penyangga setinggi gunung. Rambatnya mencapai langit. Ubi tetap bertumbuh tunas. Meski digali babi landak, tetap selalu ada. Diserang babi hutan, juga tak akan habis.

Seperti Uwi, makanan yang bertahan lama, Reba tidak punah. Manusia pendukungnya tetap berkembang biak bersama alam lingkungan dan terus menghidupi Reba, dari generasi ke generasi.

Yang menarik, Reba tidak saja menjadi kesempatan istimewa bagi orang Ngada untuk berkumpul dalam rumah adat masing-masing. Reba juga menjadi kesempatan berahmat karena segala permusuhan, perselisihan dalam keluarga harus berakhir saat itu juga.

Tanamkan Nilai Luhur
Lewat Reba, manusia seperti 'terlahir baru'. Baru dalam sikap, tutur kata dan perbuatan. Sebab dalam pesta Reba, anak-anak generasi baru selalu diingatkan akan Pata Dela (Suara Leluhur).

"Dewa zeta nitu zale (percaya pada Tuhan YME). Bhodha molo ngata go kita ata (menaruh hormat pada kemanusiaan). Dhepo da be'o, tedu da bepu (meneladani para pendahulu). Dhuzu punu ne'e nama raka (belajar dan bekerja sampai tuntas). Dua wi uma nuka wi sa'o (pergi ke kebun dan kembali ke rumah; cari pekerjaan yang baik, sehingga bisa kembali ke rumah dengan selamat)".

"Modhe-modhe ne'e soga woe, meku ne'e doa delu (berbuat baik dengan sahabat). Maku ne'e da fai walu, kago ne'e da ana salo (bersimpati dengan para janda dan anak yatim piatu; bersimpati dengan kaum miskin dan terlantar). Go ngata go ngata, go tenge go tenge (milik orang lain, biarlah menjadi milik orang lain; akuilah milik orang lain; jangan serakah). Kedhu sebu pusi sebu (mengutamakan nilai-nilai luhur). Bugu kungu nee uri logo (tekun bekerja dan menikmati keringat sendiri)".

Tepat pada hari ini, masyarakat Ruto di kampung saya (Desa Warupele I Kec. Inerie Kab. Ngada) merayakan pesta Reba. Besok dan seterusnya ada pesta Reba di kampung tetangga yang juga kampung istri saya (Pali, Kelitei dan seterusnya).

Sayang seribu sayang, kami berdua tidak bisa merayakan Reba bersama keluarga besar di kampung. Saya yakin, ada banyak masyarakat etnis Ngadha di perantauan selalu rindu pulang kampung di saat pesta Reba. Sebab Sili Ana Wunga, figur peletak dasar Reba selalu menyapa anak-anaknya untuk kembali ke Sa'o.

Dalam nada syukur yang sama, tepat pada hari itu juga masyarakat etnis Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Imlek adalah perayaan kenangan akan nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang etnis Tionghoa.

Sama seperti Reba, bagi masyarakat Tionghoa, Tahun Baru Imlek adalah momen besar untuk berkumpul bersama keluarga.

Rangkaian Reba
Pesta Reba dapat anda saksikan di Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Provinsi NTT, yang dalam kegiatannya melibatkan beberapa kecamatan, yaitu Aimere, Bajawa, Jerebu`u, Mataloko, dan So`a.

Setiap kecamatan yang ikut serta dalam upacara adat khas Flores ini akan bergiliran menjadi tuan rumah setiap tahunnya, hal ini ditujukan agar setiap kecamatan diberi kehormatan dan memiliki peran secara adil.

Sebelum upacara dihelat, Sehari sebelum perayaan, akan dilaksanakan upacara pembukaan Reba (su`i uwi). Malamnya, warga melakukan acara makan dan minum bersama (ka maki Reba) sembari menunggu pagi. Dan pada saat pagi harinya, warga dijamu dengan disediakan makanan dan minuman (Ngeta kau bhagi ngia, mami utu mogo).

Sebelum Upacara Adat Reba, warga melakukan upacara "o uwi". O uwi adalah kegiatan kesenian daerah berupa tari-tarian dan nyanyian yang kemudian digelar misa inkulturasi di gereja pimpinan pater atau romo. Kegiatan ini sebagai bentuk perpaduan adat tradisional dengan agama Katolik. Upacara ini juga menyajikan koor nyanyian gereja dengan menggunakan bahasa lokal daerah Ngada.

Di luar gereja, Peserta upacara dan penari akan disuguhi satu dua gelas arak. Masyarakat menyebutnya dengan tua ara. Kegiatan adat Reba bukan sekedar pesta hura-hura, tapi merupakan wujud kegembiraan masyarakat dengan tetap menjaga nuansa rohani.

Upacara Adat Reba adalah salah satu bentuk rasa syukur masyarakat Ngadha yang ditujukan bagi leluhurnya. Ubi menjadi hidangan utama dalam upacara adat ini. Hal ini karena bagi masyarakat Ngada, ubi merupakan sumber makanan yang tidak akan habis disediakan oleh bumi manusia. Sehingga, dari sini diharapkan masyarakat Ngada tidak akan pernah mengalami rawan pangan.

Kata Reba jika dihubungkan dengan bahasa Melayu memiliki makna "ribut", dan ribut berarti angin topan.

Mengikuti Upacara reba, anda akan mendapatkan pengalaman melihat langsung atraksi tarian yang tarian tersebut berupa tarian yang penarinya menggunakan pedang panjang yang digengggam dengan liukan "tuba" yaitu tongkat berhias bulu kambing yang berwarna putih.

Pengiring penari akan menyajikan musik back sound dengan menggunakan alat musik yang terbuat dari tempurung kelapa atau labu hutan. Alat musik ini sangat unik karena wadah resonansinya ditutupi dengan kulit kambing dan bagian tengahnya dilubangi. Penggeseknya adalah sebilah bambu yang diikat dengan benang tenun dan digosok lilin.

Anda akan melihat beberapa desa tradisional yang secara jelas menampilkan bongkahan batu-batu berdiri, hal ini seolah Anda sedang berada di tengah-tengah masyarakat yang masih bertahan dari zaman batu. Masyarakat Ngada juga mengenal istilah Ngadhu dan Bhaga. Ngadhu adalah perlambangan sosok leluhur laki-laki, dan Bhaga adalah sosok leluhur perempuan. Ada salah satu batu di kampong Bena, batu berdiri yang dianggap sangat sakral yaitu ture. (Lip6.com/l)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments