Jumat, 29 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Pemeliharaan Cagar Budaya Perlu Berkala

Minggu, 27 April 2014 20:43 WIB
Jakarta (SIB)- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, jumlah cagar budaya mencapai 66.348 buah. Dari jumlah itu, 54.398 buah merupakan cagar budaya bergerak dan 11.950 cagar budaya tidak bergerak. Puluhan ribu cagar budaya itu merupakan aset kebudayaan bangsa sehingga harus dipelihara secara berkala dan dilestarikan.

“Bisa dibilang ada yang baru setiap bulan. Sekitar seratus benda cagar budaya baru setiap tahun,” kata Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto di Jakarta, Senin (21/4).

Puluhan ribu cagar budaya tersebut telah didaftarkan, tercatat dan sebagian masih dalam proses penelitian. “Kalau yang belum terdaftar itu memenuhi syarat cagar budaya, jumlahnya lebih banyak lagi. Semuanya harus dipelihara dan dilestarikan,” tutur Harry.

Merujuk Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kriteria benda cagar budaya antara lain berusia 50 tahun atau lebih dan memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan. Cagar budaya juga harus memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

Penentuan cagar budaya melalui pengkajian tim ahli. Setelah itu, cagar budaya ditetapkan sesuai levelnya, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.

Agar menarik dan menyedot perhatian masyarakat, benda cagar budaya juga harus ditata dan diperkaya. Sayang, tidak semua cagar budaya diperhatikan dengan maksimal, kurang dikelola dengan kreatif, bahkan cenderung kurang terawat.

Tugu Khatulistiwa, misalnya. Bangunan cagar budaya yang terletak di Pontianak, Kalimantan Barat, itu merupakan simbol dan bangunan bersejarah yang penting. Informasi mengenai tugu ini ada di buku pelajaran sekolah dasar. Sayang, koleksi yang ada di museum tugu kurang variatif.

“Saya datang ke sini tahun 2005 dan sekarang saya datang lagi untuk mampir. Ternyata koleksinya sama persis dengan sembilan tahun lalu. Penataannya juga enggak berubah. Isinya juga cuma seperti itu. Padahal, seharusnya cagar budaya ini bisa lebih informatif dan menarik,” ungkap Awaludin, warga Jakarta saat ditemui di Tugu Khatulistiwa, akhir  pekan lalu.

Cagar budaya seperti Tugu Khatulistiwa ini potensial untuk dikunjungi. Bangunan yang didirikan pada 1928 oleh tim ekspedisi geografi dari Belanda ini membuat penasaran orang untuk datang, seperti dikatakan Toto, warga Yogyakarta. “Penasaran dengan Tugu Khatulistiwa. Baru sekali ini datang, bagus dan khas simbol di tugunya,” ujar Toto, yang datang bersama delapan orang lain.

Museolog, Kartum Setiawan, berpikiran sama mengenai cagar budaya ini. “Khatulistiwa ini, kan, gaungnya besar. Dulu masa kecil pas baca buku ngebayangin wow sekali, ternyata gitu aja. Kecewa,” katanya.
Menurut Kartum, penataan barang di dalam museum seharusnya diganti-ganti setidaknya setahun sekali. (Kps/q)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments