Jumat, 18 Okt 2019

Pembangunan 10 Rumah Budaya Indonesia di Sejumlah Negara Tidak Efektif

* Jika Pemerintah Tidfak Serius Kembangkan Seni Budaya Dalam Negeri
Minggu, 16 Maret 2014 22:47 WIB
Jakarta (SIB)- Program Pemerintah membangun   10 rumah budaya Indonesia di sejumlah negara membutuhkan prasyarat. Program itu tidak akan efektif jika pemerintah tidak serius mengembangkan seni budaya di dalam negeri.

“Jangan sampai rumah budaya menjadi kegiatan ‘etalase’ di luar negeri. Hal terpenting justru pengembangan seni budaya di dalam negeri. Kenyataannya, Pemerintah belum memiliki grand design pengembangan seni budaya,” kata Amna Kusumo, pendiri Kelola,yayasan nirlaba yang sejak tahun 1999 menyediakan peluang belajar, pendanaan, dan informasi untuk seniman agar terus hidup dan punya daya saing di dunia internasional.

Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai merealisasikan program Rumah Budaya Indonesia  (RBI) yang akan dibangun di Timor Leste, Perancis, Amerika Serikat, Belanda, Turki, China, Jepang, Singapura, Malaysia, dan India. Di Timor Leste dibutuhkan dana Rp 60 miliar. Rumah Budaya ini berkonsep seperti pusat kebudayaan asing yang ada di Indonesia dan dikelola kedutaan besar negara bersangkutan.

Amna menilai arah pemerintah mendukung seni budaya di dalam negeri masih belum jelas. Program yang digulirkan pemerintah lebih banyak mendanai produk jadi sebuah karya seni seperti pementasan dan pameran. “Padahal, sebuah karya diciptakan melalui proses kreatif yang membutuhkan dana”,ujar Amna.

Budayawan Goenawan Mohamad menilai, di Indonesia ini justru seniman yag memberikan subsidi kepada negara, bukan sebaliknya.”Dengan uang mereka sendiri, seniman mendanai seluruh proses penciptaan karya sehingga negara ini bisa disebut berbudaya, “kata Goenawan.

Pendirian rumah budaya, di nilai Goenawan Mohamad, baik untuk mengenalkan Kebudayaan Indonesia ke luar negeri.”Namun, dukungan terhadap seniman di dalam negeri jauh lebih penting,”ujarnya.

Ia mencontohkan kelompok teater yang banting tulang menghidupi dirinya karena tidak di subsidi pemerintah. Kemampuan olah seni para seniman juga sangat terbatas karena mereka tidak punya kesempatan untuk belajar dari negara lain.

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 16 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.


T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments