Minggu, 05 Apr 2020
  • Home
  • Lembaran Budaya
  • Peletakan Daro Daro di Omo Nifolasara Sebua Adalah Penghormatan Pada Leluhur Kharismatik

Peletakan Daro Daro di Omo Nifolasara Sebua Adalah Penghormatan Pada Leluhur Kharismatik

Sabtu, 08 Juli 2017 17:12 WIB
Henkie Yusuf Wau
Bawomataluo (SIB)- Keluarga besar keturunan almarhum Tema Wau (Ama Dasiwa) gelar Tuha Sanofu Boru menggelar acara adat peletakan batu besar yang dinamakan Daro Daro di kompleks Omo Nifolasara Sebua di Bawomataluo, Hilli Fanayama, Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Senin - Selasa (10 - 11/7). Daro Daro adalah batu besar yang diletakkan di Omo Nifolasara Sebua (rumah besar) yang menjadi pusat orientasi desa.

Kades Bawamataluo Dasar Manao SKes mengatakan, Kamis (6/8), pesta adat tersebut mengundang seluruh keturunan raja-raja di Nias dalam mengenang almarhum yang semasa hidupnya dinilai berjasa besar bagi pembangunan wilayah tersebut. Almarhum adalah saksi hidup proses peralihan sistem pemerintahan di Nias. "Ketika Indonesia mulai menerapkan pemerintahan administrasi modern, Tema Wau (Ama Dasiwa)  Tuha Sanofu Boru adalah pamong praja angkatan pertama yang semasa hidupnya menjadi Asisten Wedana di hampir semua kecamatan di Nias sebelum adanya pemekaran. Satu perannya adalah meredam dan mengeratkan silaturahim antarwarga, antarpimpinan hingga perang antarsuku atau antardesa dan antarkampung di Nias Selatan, tidak terjadi," ceritanya didampingi putra almarhum, pengurus IKA-GMNI Henkie Yusuf Wau.

Ketika almarhum memperistri putri dari Hilisimatano, komunikasi dengan ketua-ketua adat. Ditinggal istri pertamanya menghadapNya  tahun 1958, tahun 1970 Tema Wau menikah lagi di tahun 1970 dan memiliki 9 anak. Keturunannya tersebar di banyak wilayah di dalam dan luar negeri. "Orangtua kami diberi gelar Ndrawa Soaya yang artinya sepuh yang menjadi panutan. Satu putranya, Christoffel Aturan Wau yang bermukim di Belgia akan beroleh gelar adat dari Siulu/Silia yakni pengetua adat Nias," urai Henkie Yusuf Wau via pesan singkatnya.

Pesta yang diadakan di kompleks Omo Nifolasara Sebua adalah bentuk penghormatan pada tokoh berkharisma. Diadakan di Omo Nifolasara Sebua pun sebagai maksud menyosialisasikan rumah adat turun-temurun pada generasi muda.

Rumah adat tersebut sangat unik, dibangun tanpa paku dan hanya dengan pasak kayu untuk mengikat dan menyambung palang kayu satu dengan yang lain. Pada bagian bawah rumah disangga oleh kurang lebih 60 tiang yang saling menyilang dan beberapa di antaranya merupakan tiang kayu glondongan (utuh dan bulat) yang sangat besar. "Kayu-kayu itu pilihan didatangkan dari luar Pulau Nias, seperti Pulau Telo dan pulau-pulau lainnya di sekitar Nias," tutup Henkie Yusuf Wau. (T/Rel/R10/f)





T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments