Jumat, 18 Sep 2020

Ngobeng-Ngidang, Tradisi Kesultanan Darussalam Jadi Budaya Palembang

redaksisib Sabtu, 25 April 2020 14:30 WIB
IDN Times/Feny Maulia Agustin

Budaya Ngobeng-Ngidang yang Ternyata adat istiadat asli Palembang 

Sejarah dan budaya yang melekat pada Kota Palembang memang sangat kental dengan tradisi Kesultanan Darussalam. Salah satu budaya tersebut adalah ngobeng-ngidang.

Wong Palembang sendiri masih banyak yang belum mengetahui, bahwa budaya ngobeng-ngidang ini merupakan peninggalan leluhur untuk menghormati dan memuliakan tamu.

Secara umum, budaya ngobeng-ngidang adalah aktivitas tata cara penyajian makanan di acara sedekahan (kendurian) dan pernikahan. Dilakukan dengan duduk lesehan, lalu membagi setiap hidangan hanya untuk delapan orang.
sebagai proses gotong royong

Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Zanariah mengatakan, tradisi atau budaya ngobeng-ngidang ini bisa memberikan arti dari sebuah proses gotong - royong. Karena, dalam satu kelompok yang terdiri dari delapan orang untuk satu hidangan, bisa saling berkomunikasi dan memperlihatkan tolong menolong.

"Kalau makan seperti ini kita punya kesempatan untuk mengobrol satu sama lain, dan mengambil makanannya pun tak perlu antre, namun secara bergantian saling ambil piringnya. Ini kan satu bentuk saling bantu, yang jadi bagian bersikap gotong-royong," jelasnya pada peringatan hari ulang tahun Sultan Mahmud Badaruddin II ke 167, di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

Zanariah melanjutkan, sebaiknya budaya ngobeng-ngidang harus tetap dilestarikan dan jangan sampai punah. "Makanya saya merencanakan agar budaya ngobeng-ngidang bisa terdaftar sebagai tradisi asli Palembang di WBTB (Warisan Budaya Tak Benda)," ujar dia.

makanan khas asli Palembang
Kota Palembang sebagai leluhur dari budaya Melayu, masih berkaitan erat dengan tradisi menyajikan makanan dengan menggelar selembar kain di bawah sajian menu makanan yang dihidangkan, seperti tempat nasi berupa nampan ditempatkan pada bagian tengah.

Dalam budaya ngobeng-ngidang, menu yang disajikan adalah makanan khas asli Palembang, seperti daging malbi, nasi kuning, sambal nanas, ayam kecap, sayur dan beberapa makanan lainnya. Selain itu beberapa lauk pauk yakni opor ayam, kemudian "pulur”, yang terdiri dari buah-buahan dan acar.

Petugas khusus untuk membantu tamu
Bila ngidang merupakan menyajikan makanan di atas kain, ngobeng adalah petugas khusus untuk membantu tamu, seperti menolong membawa ceret air dengan wadah sisa air bilasan setelah tamu selesai mencuci tangan.

Menariknya lagi, dalam budaya ngobeng-ngidang ini ada syarat penataan makanan yang dilakukan secara silang, yakni lauk pauk harus berdampingan dengan pulur. Agar ada tata kerama para tamu saat bersantap terjaga.

"Dengan syarat itu, artinya tamu tidak perlu menggerakkan tangan terlalu jauh untuk menjangkau piring lauk pauk. Ini juga sesuai syariat Islam. Uniknya, ya budaya ini juga mengajarkan tamu untuk menjaga perilakunya," jelas Zanariah.
Sebab, dalam satu kelompok, bila mengambil makanan terlalu banyak atau secara berlebihan, secara otomatis akan tampak secara langsung karena berhadapan. Budaya ini mengajarkan untuk tidak mubazir.

tenar pada tahun 80-90 an
Pada era milenial saat ini, budaya ngobeng-ngidang biasa hanya dilakukan saat mengenang wafatnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada 26 November 1852 yang meninggal saat pengasingan di Ternate. Warga Palembang pun sudah tidak banyak lagi yang melestarikan tradisi tersebut. Makanya, budaya ngobeng-ngidang menjadi acara rutin yang diselenggarakan setiap tahunnya.
Sekaligus mengenang wafatnya Sultan Mahmud Badaruddin II, acara ngobeng-ngidang selalu diperingati dengan mengajak seluruh kalangan.

"Pernah denger cerita dari sejarah, budaya ngobeng-ngidang dulu eksis di era tahun 80-90-an. Sekarang sepertinya luntur oleh perkembangan zaman. Mungkin tradisi sekarang beralih ke cara praktis ala prancisan. Padahal makan bersama dengan budaya ngobeng-ngidang bisa jadi berkah, karena hidangan yang dibagi dalam piring-piring kecil dan saling toleransi. Terus lebih kekeluargaan juga" tandas dia. (idntimes/c)
T#gs Kesultanan DarussalamNgobeng-NgidangPalembanglembaran budaya
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments