Selasa, 26 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

Museum Negeri Aceh Menanti Pelestarian

Minggu, 11 Mei 2014 22:58 WIB
Museum berisi catatan peradaban. Dengan demikian, seharusnya masyarakat dapat belajar bagaimana peradaban berkembang. Namun, jika museum tidak menarik, koleksi tidak terawat, bagaimana masyarakat mau datang untuk dapat mempelajari peradabannya? Itulah antara lain potret Museum Negeri Aceh di Banda Aceh dewasa ini.

Merujuk data Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Negeri Aceh, museum ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada 31 Juli 1915. Cikal bakal museum itu adalah bangunan tradisional Aceh, yakni Rumoh Aceh, yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Salah satu museum tua di Indonesia itu berlokasi di Jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah, Banda Aceh.

Museum Negeri Aceh menyimpan 6.133 koleksi sejarah dari sejumlah suku bangsa asli yang mendiami Aceh. Koleksi itu mewakili zaman purbakala hingga kejayaan sejumlah kerajaan di “Bumi Serambi Mekkah”. Koleksinya antara lain kerangka manusia purba, kerajinan budaya, manuskrip, keramik dan beberapa makam raja di Aceh.

Museum ini menjadi salah satu daya tarik di Aceh. Jumlah pengunjung yang datang ke museum tersebut meningkat dalam tiga tahun ini. Berdasarkan data Museum Negeri Aceh, pada 2011 ada 22.139 pengunjung, pada 2012 ada 27.217 pengunjung, dan pada 2013 ada 33.400 pengunjung.

Namun, kondisi museum itu tidak lepas dari masalah klasik permuseuman di Indonesia. Koleksi museum kurang tertata dan terawat dengan baik. Contohnya, kompleks makam sultan Aceh keturunan Bugis tidak dinaungi dengan atap. Kondisi ini membuat makam-makam tersebut kusam karena sering terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung.

Banyak koleksi pun tidak dilengkapi plang informasi. Kalaupun ada, hanya berbahasa Indonesia, seperti manuskrip-manuskrip kuno mengenai Kesultanan Aceh di abad ke-16 hingga ke-17. Padahal, sekitar 5 persen pengunjung museum adalah wisatawan mancanegara.

Pelaksana Tugas Kepala Museum Negeri Aceh Asnawi mengatakan, kondisi ini tidak lepas dari keterbatasan anggaran untuk museum tersebut. Melalui Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah Aceh 2013, pemerintah mengalokasikan dana Rp 800 juta untuk museum tersebut. “Dana itu harus dibagi untuk pembenahan dan pelaksanaan sejumlah agenda museum,” ujar Asnawi di Banda Aceh, Senin (5/5).

Arkeolog dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Husaini Ibrahim, menuturkan, museum adalah tempat menyimpan koleksi warisan masa lalu yang memiliki nilai sejarah. Museum harus memperhatikan dua aspek, yakni infrastruktur dan non-infrastruktur. Aspek infrastruktur antara lain membuat bangunan khusus untuk menyimpan koleksi warisan masa lalu agar tidak rusak oleh alam maupun manusia.

Aspek non-infrastruktur antara lain meningkatkan kemampuan berbahasa asing, pemahaman mengenai sejarah, dan sikap petugas museum agar pengunjung  merasa nyaman. “Waktu operasi museum pun harus mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang ingin berkunjung di hari libur,”ucap Husaini. Saat ini, Museum Negeri Aceh buka dari Senin hingga Sabtu, sedangkan Minggu tutup.

Bagi mahasiswa Jurusan Imu Komunikasi Unsyiah, Munandar (23), museum merupakan tempat wisata belajar bagi pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum. Melalui museum, masyarakat bisa mengambil pengalaman dari masa lalu sebagai modal menghadapi masa depan. “Oleh karena itu, pelestarian museum di Aceh mendesak dilakukan untuk pendidikan masyarakat,” kata dia. (Kps/q)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments