Senin, 16 Sep 2019

Menatap Ritual Dalam Kebudayaan Bali

Minggu, 26 Januari 2014 21:49 WIB
SIB/Int
Ilustrasi
Ritual mempunyai hubungan yang erat dengan aktivitas agama, nilai-nilai spiritual dan moral yang diwarisi dan dijalani dalam kehidupan masyarakat sehari-hari di Pulau Dewata.

Aktivitas ritual pada dasarnya bersifat personal yang menyangkut hubungan dan kepercayaan antara manusia dengan Tuhan. Spiritualitas menjadi aktivitas bersama yang melibatkan banyak orang, sekumpulan umat yang menganut sistem kepercayaan tertentu.

Aktivitas ritual dalam konteks itu dapat dimaknai sebagai kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama. Ritual kaya akan simbol, dan simbol itu tidak hanya menampilkan representasi dari sebuah rangkaian makna semata, namun juga menyiratkan ide manusia untuk menghayati dan makna kehidupan pada masanya.

Oleh sebab itu mitos-mitos yang mengiringi simbol-simbol tertentu bukan semata-mata hanya narasi simbolik, di balik itu juga tercermin ide dan pemikiran manusia dalam upaya memaknai dan memahami hubungan dirinya dengan realitas alam, tutur Wayan Sriyoga Parta, SSn MSN penulis buku sosok seniman Nyoman Erawan.

Pria kelahiran Tabanan yang juga dosen Universitas Negeri Gorontalo itu sedang menyelesaikan studi doktoral kajian seni rupa pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Manusia memakai daya imajinasinya dalam memahami alam dan lingkungan melalui simbol-simbol. Pertemuan antara kedua unsur itu diyakini sebagai dua unsur yang mendasari kehidupan di bumi.

Tanah adalah ibu pertiwi yang memiliki kesuburan sehingga ketika bibit tanaman ditancapkan ke dalamnya, akan tumbuh dan berbuah. Dari fenomena itu manusia mulai terbesit untuk membuat sebuah usaha untuk membiakkan tanaman, dan kehidupannya pun tak lagi dihabiskan dengan mencari bahan makanan.

Lahirnya sistem bercocok tanam, untuk mendukung kegiatan menanam manusia mulai membuat peralatan (teknologi sederhana), dimulai dari tongkat runcing, kemudian, kapak, cangkul dari batu yang diisi tangkai dari kayu yang dapat dipegang diayunkan untuk menggemburkan tanah hingga bibit dapat ditanam dan dirawat.

Dari peralatan sangat sederhana kemudian berevolusi menjadi cangkul, hingga traktor bermesin pada perkembangan teknologi abad modern sekarang.
Terinspirasi dari daya kesuburan dan kekuatan hidup, manusia dapat mengembangkan peradaban yang berikutnya terus berevolusi menjadi semakin kompleks.

Atas dasar itu Nyoman Erawan (55), seniman kelahiran Sukawati, Kabupaten Gianyar, terinspirasi dari kekuatan itu tergerak untuk mewujudkan karya instalasi berjudul "Tumbuh dari Lumpur"  untuk memeriahkan pameran yang digelarnya di perkampungan seniman Ubud.

Karya instalasi yang terdiri atas cangkul berukuran besar terbuat dari logam yang menancap ke tanah (lumpur) tangkainya terbuat dari kayu berbentuk batang tanaman meliuk, dan tumbuh bunga pada ujung-ujung dahannya.

Artistik dan Simbolik
Karya instalasi yang sempat disaksikan ratusan wisatawan mancanegara yang sedang menikmati liburan di perkampungan seniman Ubud itu hadir dari elemen-elemen artistik yang sederhana, namun memiliki kekuatan dengan nilai simbolik.

Kekuatan tumbuh itulah kemudian melahirkan simbolisasi dari yang sederhana hingga menjadi kompleks dalam berbagai ekspresi kebudayaan manusia.
Guna memaknai kemujizatan kedua unsur, pertiwi sang ibu yang subur (perempuan) dan kekuatan hidup (laki-laki), dengan imajinasinya manusia membuat sebuah simbol "lingga-yoni" (laki-perempuan).

Simbolisasi itu membutuhkan sebuah perayaan, sehingga dibuatlah prosesi ritual sebagai wujud rasa syukur kepada kekuatan yang telah melahirkan kehidupan.

Dengan kekuatan imajinasi manusia jugalah simbol sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian bentuk dan sistem simbol yang semakin lama menjadi bertambah rumit dan kompleks.

Karakter dasar simbolisasi ritual tersebut juga pernah diangkat  oleh seniman Made Mahendra "Mangku" dalam karya kanvas berjudul "Prosesi" menampilkan simbol "lingga-yoni" yang terbuat dengan tangan tercangkup keluar dari rongga.

Makna di balik representasi itu adalah daya hidup tumbuh dan berkembang, seperti halnya kebudayaan berkembang seiring budi dan daya manusia.

Kebudayaan manusia berkembang pesat dari kebudayaan pertanian (agraris), dan melahirkan pengorganisasian antarmanusia atau masyarakat dengan mengembangkan pola agraris.

Peradaban besar
Wayan Sriyoga menjelaskan, budaya agraris merupakan tonggak dari peradaban besar umat manusia, seperti kebudayaan Inca, Maya, Mezir Kuno, Yunani, atau kebudayaan batu besar yang meninggalkan artefak gigantik.

Lahirnya sistem pengorganisasian masyarakat yang telah mengalami surplus pangan, jumlah populasi manusia semakin meningkat, sehingga tersedia banyak tenaga manusia yang diorganisir untuk melahirkan bangunan-bangunan besar untuk kepentingan religius.

Selain itu juga menciptakan prosesi ritual yang sarat dengan simbol dan mitos yang dikemas dalam suasana magis. Ritual bukan semata-mata hanya representasi perayaan yang hanya bermakna keimanan terhadap nilai-nilai kepercayaan (agama).

Demikian pula dalam konteks kehidupan sosial ritual bersifat mengikat solidaris manusia dengan mengusung moralitas berupa ketaatan pada nilai-nilai agama. Melalui ritual dan rangkaian simbol-simbol serta lingkaran mitos dibangun dalam kesadaran bersama secara kolektif.

Sistem simbol dan mitos diwarisi dari kehidupan manusia ketika masih sangat sederhana, sekaligus mulai menanamkan kesadaran moralitas. Moralitas dalam ritual diperlukan untuk membangun keteraturan yang sangat dibutuhkan untuk mengorganisasi masyarakat untuk kepentingan peradaban.

Moralitas itu dibangun dengan menghadirkan maha karya monumen simbolik yang gigantik dalam sejarah peradaban manusia, sekaligus menandakan betapa pentingnya aspek estetik dalam rangkaian moralitas tersebut, tutur Wayan Sriyoga. (Anspek/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments