Sabtu, 04 Apr 2020

Manabur Boni, Adat Masyarakat Toba yang Kini Mulai Lestari Lagi

redaksisib Sabtu, 14 Maret 2020 18:20 WIB
Times/Prayugo Utomo

DILESTARIKAN :  Manabur Boni (menabur benih) adat Masyarakat Toba yang mulai dilestarikan lagi karena terancam hilang. 

Suara kicau burung beradu di atas pohon. Angin yang begitu sejuk menyapu ke atas perbukitan.

Desa Sigapiton memang memberikan pengalaman berbeda. Pemandangannya bak lukisan jika dilihat dari atas. Yang terbaik adalah dari The Kaldera Toba Nomadic Escape. Wisata kembara yang tengah digeber pemerintah.

Seperti namanya, Sigapiton berada pada ngarai diapit dua bukit. Paling ujung langsung berbatasan dengan danau. Secara administrasi, letaknya di Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir.

Minggu (2/3) pagi, warga sudah berkumpul di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) setempat. Menggelar ibadah rutin.
Di halaman gereja, sudah terpasang tenda berbalut kain putih. Selesai ibadah, musik gondang beradu dengan penyanyi. Selaras dengan seruling yang menjadi pertanda dimulainya adat Manabur Boni (red: Menabur Benih).

1. Para Inang membawa tandok berisi benih padi
Para warga langsung berkumpul ke tenda. Di antaranya ada yang langsung menari mengikuti irama musik.
Ulos tersemat di pundak mereka. Sedangkan kaum Inang (red: ibu) lengkap dengan kebaya brokat, dan tandok di atas kepala.
Tandok (keranjang anyaman) berwarna-warni itu berisi benih padi. Benih itu nantinya akan ditaburkan ke ladang mereka.
Acara pun dibuka dengan petuah para Raja adat dari Bius Siopat Marga. Terdiri dari marga Butarbutar, Sirait, Manurung dan Nadapdap.

2. Para inang turun ke ladang dan langsung menebar benih diiringi doa-doa
Setelah mendengarkan petuah, gondang kembali mengiring. Para inang berbaris rapi. Lengkap dengan tandok yang dibawa di atas kepala. Turun ke bawah, ke arah perladangan.
Di sana ada sepetak lahan yang sudah disiapkan untuk tempat menebar benih. Para Tetua Adat juga ikut.
Sampai di sana, para Tetua Adat kembali menyampaikan nasihatnya. Beberapa ibu-ibu mengambil cangkul untuk menggemburkan tanah.
Satu per satu perwakilan Bius Siopat Marga menaburkan benih. Sebelum menebar benih doa-doa dipanjatkan. Berharap, benih yang tumbuh bisa berguna untuk masyarakat.
Setelah para Tetua Adat, penaburan benih juga dilakukan aparat pemerintahan. Mulai dari desa, kabupaten, Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT). Sejumlah pejabat kementerian yang hadir di antaranya, Deputi Kemenko Maritim dan Investasi Odo Manuhutu, Perwakilan Kementerian Luar Negeri Agung Kurniadi, Ketua Tim Percepatan Pengembangan 10 Destinasi Prioritas Hiramsyah S Thaib.

3. Jambar dibagikan sebagai tanda penghormatan
Setelah menabur benih, warga kembali ke tenda. Acara dilanjutkan dengan pembagian jambar. Yang dijadikan jambar adalah kerbau yang sudah disembelih.
Kerbau dipotong menjadi beberapa bagian, kemudian dibagikan kepada masing-masing perwakilan. Bagian yang dibagikan juga disesuaikan kepada siapa yang menerimanya. Bukan hanya masyarakat adat, perwakilan pemerintah juga dapat bagian jambar.
“Jambar itu untuk menghormati raja-raja yang ada di sini. Selain itu Jambar juga dibagikan kepada anak borunya,” ungkap Kepala Desa Sigapiton Hisar Butarbutar.
Usai membagikan jambar, warga kemudian menortor berhadap-hadapan. Sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

4. Manabur Boni terancam hilang ditelan zaman
Di balik sakralitas Manabur Boni, faktanya adat ini nyaris hilang. Bahkan Hisar mengatakan, sudah 40 tahun lebih Manabur Boni tidak pernah dilaksanakan di Sigapiton. Padahal, Manabur Boni punya makna mendalam bagi masyarakat.
“Manfaatnya di sini adalah untuk mengambil kebersamaan. Selama ini kita ingin memperbaiki silaturahim antar warga. Jadi supaya makin erat silaturahim warga Sigapiton ini,” ungkapnya.
Selain itu, tujuan Manabur Boni adalah pengharapan. Para petani berharap adat yang dilaksanakan bisa memberikan limpahan panen dengan berkat Tuhan.

5. Jadi pertanda baik untuk pengembangan wisata
Hisar pun ingin Manabur Boni jadi agenda tahunan. Ditambah pesta panen yang juga punya nilai adat tinggi.
Justru, kata Hisar, kebudayaan Manabur Boni bisa menarik wisatawan. Sehingga pengembangan Sigapiton menjadi destinasi wisata semakin kuat. Dia juga berharap, masyarakat mulai memupuk kesadaran akan pariwisata. Mengingat potensi desa mereka yang cukup tinggi. “Kami meminta pembangunan di Sigapiton untuk dilanjutkan. Saya juga akan berkoordinasi dengan masyarakat saya untuk membangun pariwisata,” katanya.
Terpisah, Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT) Arie Prasetyo menyambut baik acara yang digelar masyrakat desa. Pihaknya menyatakan kesiapan untuk membantu masyarakat. Khususnya yang berkaitan dengan pengembangan pariwisata.

“Sigapiton harus menjadi pilot project pembangunan desa wisata. Sejumlah menteri sudah datang ke sini dan melihat ada potensi yang besar Sigapiton untuk pariwisata,” ungkap Arie.

Arie juga mengatakan pihaknya akan bersinergi dengan pemerintah desa. Kesempatan untuk mengembangkan Sigapiton, kata Arie, tidak akan datang dua kali. Dia meminta izin kepada para tokoh adat untuk terus bersama-sama mengembangkan Sigapiton.
“Fasilitas di sini akan kita kembangkan. Kita berharap ketika ada turis mancanegara yang datang, kita bisa memberikan kenyamanan dengan fasilitas yang ada,” ungkapnya.

Pihaknya juga terus fokus meningkatkan kualitas SDM pariwisata di Sigapiton. Berbagai pelatihan, hingga beasiswa pariwisata susah diberikan ke sejumlah warga.

“Kemarin ada yang kita sekolahkan sampai ke Bali. Kita berharap, mereka ini jadi tokoh-tokoh pariwisata untuk Danau Toba. Kami berharap bisa bermitra seterusnya dengan masyarakat Sigapiton,” pungkasnya. (IDNTimes/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments