Senin, 21 Okt 2019
  • Home
  • Lembaran Budaya
  • Malam Kesenian Tobasa di PRSU Pentaskan Sendratari Pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII

Malam Kesenian Tobasa di PRSU Pentaskan Sendratari Pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII

Minggu, 06 April 2014 22:19 WIB
Tobasa (SIB)- Pemkab Tobasa melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar persembahan malam kesenian Tobasa di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) Medan, Kamis (3/4). Pagelaran malam kesenian itu, dengan persembahan puncak  pementasan Sendratari Pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII oleh Sanggar Lusido Ajibata. Pementasan berhasil memukau ribuan  pengunjung open stage arena PRSU.

Dalam sendratari, para penari menggambarkan alur cerita, tata cara pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII “Satti Raja” (raja yang sakti dan berwibawa-red) dan  menjadi panutan rakyatnya. Para penari juga membawakan ritual-ritual mekanisme pemilihan raja melalui ritual ke-Batak-an, di antaranya ritual “Raja Parhata, Pamitta Gondang, Datu Bolon, Sibaso Bolon dan Siloan Nabolon”.

Sendratari itu membawakan 10 jenis gondang dibarengi tortor. Diawali dengan gondang Lae-Lae Sahala (gondang Dalan Masuk) para penari memasuki pentas. Secara berturut-turut ditampilkan gondang Mula-mula dan gondang Somba, gondang Liat-liat, dan gondang Simonang-monang.

Kemudian, saat calon raja ditampilkan, dipersembahkan gondang Lae-Lae Debata yang dilanjutkan dengan gondang Sahala pertanda raja sudah ditahbiskan. Selanjutnya pemeran tokoh Raja Sisingamangaraja XII “manortor” diiringi  gondang Malim, gondang Mulajadi, gondang Saneang Naga Laut dan diakhiri dengan gondang Sitio-tio Hasahatan.

Sebelumnya juga ditampilkan tortor Monsak, yakni gerakan Monsak Batak (beladiri khas Batak-red) yang dikreasikan dalam bentuk tarian untuk menyambut para raja, dan untuk sekarang ini sering ditampilkan sebagai penyambutan undangan pada pesta adat.

Selepas itu, Sanggar Lusido pimpinan Rismon RM Sirait menampilkan sendratari pesta adat pernikahan Batak Toba, yang menggambarkan pelaksanaan prosesi pernikahan adat Batak Toba pada dahulu kala. Tarian ini menggambarkan, prosesi pesta adat, hal mana pihak mempelai pria dan wanita sudah menyepakati pesta pernikahan melalui suatu pesta besar.

Bupati Toba Samosir, Pandapotan Kasmin Simanjuntak menyebutkan, pagelaran malam kesenian ini merupakan upaya Pemkab Tobasa  untuk terus menggali, mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya di tanah Toba. Diharapkannya, sebagai suatu kearifan lokal, seni budaya tersebut, tidak akan lekang tergilas perkembangan, sehingga generasi muda Batak dapat terus mengembangkannya. Diharapkannya lagi, pementasan tersebut, mampu mendorong dan meningkatkan rasa mencintai dan memiliki budaya sendiri.

Di satu sisi bupati mengakui, Tobasa memiliki ragam karya seni budaya yang diwariskan para leluhur, sebagai suatu kebanggaan  masyarakat Tobasa. Karena itu, diperlukan dukungan seluruh pihak sehingga dapat dilestarikan dan diwariskan, mengingat budaya tersebut telah menggambarkan falsafah hidup masyarakat Tobasa dalam bertindak, bertutur, dan berperilaku. “Kekayaan nilai budaya ini menjadi suatu kebanggan tersendiri buat masyarakat Tobasa”, kata Kasmin.

Secara khusus, Bupati Pandapotan Kasmin Simanjuntak, juga meminta dukungan seluruh pihak untuk mensukseskan penyelenggaraan Festival Danau Toba (FDT) 2014, dimana Kabupaten Tobasa telah ditunjuk sebagai tuan rumah. Dikatakan, kepercayaan pemerintah pusat untuk Tobasa dalam penyelenggaraan even tersebut, diharapkan akan mampu membangkitkan dan meningkatkan geliat industry wisata di daerah tersebut. (F1/ r)







T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments