Rabu, 23 Okt 2019

Kopitiam, Kedai Kopi Pusaka Budaya Cina Menyebar ke Seantero Dunia

Minggu, 16 Maret 2014 22:43 WIB
Anda yang tinggal di Jakarta kemungkinan tidak asing dengan Kopitiam—beraneka merk—yang tersebar di penjuru kota. Gerainya bahkan tersebar di pusat perbelanjaan bergengsi.

Kopitiam tumbuh besar seiring dengan tren kopitiam di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Namun di balik kopitiam yang terkenal itu, ada banyak kopitiam tradisional yang tersebar di beberapa tempat kantong-kantong masyarakat etnis Cina di Indonesia.

Di daerah Asia Tenggara ini kita dapat menemukan kopitiam di Singapura, Malaysia dan Indonesia—berbagai tempat imigran dari Cina daerah Fujian (Xiamen) RRC.

Menjamurnya waralaba kopitiam beberapa tahun belakangan ini di Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak awal abad ke-20, banyak kopitiam di Hindia Belanda—termasuk di daerah Pontianak dan Singkawang—menggunakan nama warung kopi atau kedai kopi.

Variasi penyebutan kopitiam, warung kopi dan kedai kopi menurut Johanes Herlijanto, pemerhati masyarakat Tionghoa yang juga sinolog, bahwa kopitiam merupakan warisan budaya orang Cina di Asia Tenggara.

Menurutnya, “Jika kedai itu dimiliki orang Tionghoa, warga Tionghoa sekitar langsung menyebutnya sebagai kopitiam. Sebaliknya, jika dikelola orang non-Tionghoa, penyebutannya berganti menjadi ‘kedai kopi’”.

Kecenderungan penamaan seperti itu tampak terjadi di daerah Sumatra, contohnya di Medan, Pangkal Pinang, dan Belitung. Namun, ada hal menarik terjadi di Kalimantan Barat contohnya Singkawang.

Di Singkawang, kopitiam yang dikelola orang Cina dinamai warung kopi atau kedai kopi, bahkan tidak ada orang Melayu di Singkawang yang membuka kedai kopi.

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 16 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.









 
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments