Senin, 21 Okt 2019

Indonesia Ikut Festival Seni Budaya di Namibia

Minggu, 06 April 2014 22:15 WIB
London (SIB)- Indonesia menampilkan tarian tradisional kreasi baru Indonesia berjudul "Bajidor Kahot" yang dibawakan Ika Damayanti, dalam festival seni dan budaya bertema "/Ae//Gams Art and Cultural Festival", di Namibia Windhoek, awal  April.

Tarian ini dikenal sebagai tari Jaipongan,  dengan musik  perpaduan antara Jawa Barat dan Bali  mengisahkan kegembiraan seorang Mojang Priyangan, ujar Counsellor KBRI  Windhoek, Namibia, Pramudya Sulaksono kepada Antara London, Jumat.

Menurut Pramudya Sulaksono, tarian Indonesia mendapat sambutan hangat dari masyarakat Kota Windhoek yang menginspirasi mereka mengingat masyarakat Afrika umumnya naturally born dancers yang secara alami piawai dalam menari.

Dikatakannya sama seperti di Indonesia dengan “Bhinneka Tunggal Ika”, Namibia juga terdiri dari beragam jenis ethnic groups, suku bangsa yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Di antaranya suku Oshivambo, Herero, Nama, Damara, Bushman (San), Himba, Topnaar, Caprivian, Tswanana, Rehobother Baster (Campuran), Coloured, Eropa/White keturunan Jerman dan Belanda dan lainnya.

Menurut Pramudya Sulaksono, untuk itu diperlukan alat pempersatu sebagai negara yang mempunyai kebanggaan nasional dalam bentuk festival seni dan budaya yang bernama /Ae//Gams Art and Cultural Festival.

Dikatakannya Nama /Ae//Gams  merupakan nama asli kota Windhoek yang berarti sumber mata air panas (hot spring) atau secara literal berarti fire water yang berasal dari Bahasa Nama-Damara.

Festival seni dan budaya /Ae//Gams digelar Pemerintah Kota Windhoek sebagai ibu kota negara Namibia sekaligus pusat kebudayaan masyarakat Namibia yang sangat beragam tersebut.

Menurut Duta Besar RI Windhoek, Agustinus Sumartono, acara tahunan yang dimulai sejak tahun 2001,  bertujuan sebagai perayaan terhadap kampanye ajang seni dan kreatifitas masyarakat setempat.

Festival juga sebagai sarana ekspresi dan pemahaman untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Windhoek yang lebih baik sebagai kota yang manusiawi dan berbasis multi-etnis.

Tahun ini Festival seni dan budaya /Ae//Gams diselenggarakan dari tanggal 2 hingga 6 April  mengetengahkan kegiatan seni dan budaya berupa persembahan musik modern dan tradisional.

Para peserta di antaranya Unam Choir, Original Jazz Masters, Hozala Entertainment, Papa Shikongeni, Big Ben, Stanley Mareka Dance Troupe, Lady May, Essence, Ras Sheehama and Nkulee Dube, Sonny Boy, Tequila dan Ees), tarian tradisional, pesta kuliner dan penjualan kerajinan tangan dari Usaha Kecil Menengah (UKM) masyarakat indigenous.

Kegiatan ini dikonsentrasikan di depan Balaikota Windhoek (Municipality’s Building) dan Zoo Park yang terletak di jalan utama kota Windhoek, Independence Avenue.

Selain menampilkan keanekaragaman budaya lokal, pihak penyelenggara juga mengikutsertakan peserta dari manca negara dengan melibatkan peserta dari kedutaan-kedutaan besar di Windhoek. Selain Indonesia, festival ini juga diikuti oleh Angola, Kuba, Nigeria, Mesir, Rusia, Botwsana dan Spanyol.

Acara ini diharapkan selain menarik perhatian masyarakat setempat, juga menjaring turis yang sedang menikmati keindahan alam Namibia yang kaya dengan konservasi alam seperti game drive safari, wildlife, camping, petualangan, touring, trekking, biking dan fotografi.

KBRI sebagai bagian dari Kota Windhoek turut berpartisipasi dalam festival dengan mempersembakan kuliner andalan Indonesia seperti Mie Bakso, Mie Goreng, Bakwan Jagung, Bakwan Sayuran, Pisang Goreng, Lumpia, Kroket yang dipersiapkan pengurus  Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Windhoek.
Kuliner Indonesia disukai  masyarakat Kota Windhoek karena mempunyai citra rasa yang berbeda dengan makanan setempat. (Ant/d)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments