Minggu, 22 Sep 2019

Gamelan, "Orkestra Jawa" Justru Populer di Amerika

Minggu, 12 Januari 2014 20:27 WIB
KPS
Warga Amerika menikmati pertunjukan wayang pada pembukaan acara Performing Indonesia sebagai permulaan hadirnya Rumah Budaya Indonesia yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Washington DC, AS
Berapa banyak sekolah atau perguruan tinggi di Indonesia yang mengajarkan gamelan kepada siswa atau  mahasiswa? Pasti sangat langka.
Gamelan boleh jadi hanya diajarkan di sekolah karawitan atau sekolah tinggi seni. Padahal, di Amerika Serikat, gamelan sangat populer. Bahkan, karena membutuhkan kerja sama yang apik di antara para pemainnya, ada yang menyebut gamelan sebagai “orkestra Jawa”.

Bukti populernya gamelan, antara lain, kini kelompok pemain gamelan tersebar di 45 dari 50 negara bagian di AS. Haryo Winarso, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes RI di AS, mengatakan, ada sekitar 400 komunitas gamelan di AS, terutama berbasis di perguruan tinggi. Dari 400 komunitas gamelan tersebut, 127  komunitas aktif berlatih dan menggelar pementasan.

Diperkirakan lebih dari 300 set gamelan asal Indonesia yang dimainkan di AS. Mulai dari gong, kempul, bonang, gender, celempung, dan masih banyak lagi perangkat gamelan lainnya didatangkan khusus dari Jawa dan Bali.

Denyut gamelan di AS tidak hanya dibuktikan dengan komunitas gamelan yang aktif berlatih dan menggelar pementasan. Rekaman ensambel gamelan berupa instrumen maupun dengan iringan vokalis juga banyak beredar.

Burhan Sukarma yang menetap lebih dari 20 tahun dan menikah dengan Rae Ann Stahl, warga AS, mendirikan Pusaka Sunda di California yang fokus pada gamelan dengung Sunda. Kelompok ini telah eksis selama 25 tahun dan sudah menelurkan tiga album musik gamelan. Album terakhir bertajuk Live at The Jazzschool.

Sementara itu, Tyler Yamin (27), dosen gamelan di Loyola Marymount, Los Angeles, California, setahun lalu membentuk grup Gamelan Panda Arum. “Kelompok kami satu-satunya di AS yang memainkan gamelan Semara Pegulingan dari Desa Kemasan, Bali. Permainan gamelan yang berusia 400 tahun ini sudah langka,” kata Tyler.

Bahkan, Pandan Arum berupaya menggalang dana dari masyarakat supaya dapat terus memperkenalkan gamelan langka ini.

Aaron Taylor Kuffner, seniman yang memiliki studio di Brooklyn, New York, mengembangkan Gamelatron Project. Dia mengawinkan gamelan dengan teknologi robotik.

Gamelan pun dapat menghasilkan bunyi tanpa pemain, hanya dengan menambahkan alat yang didesain dengan teknologi robotik.

Gamelatron yang disajikan Aaron terdiri dari trompong bali, reyong, kempli, klentong, dua ceng-ceng, empat kopyak, dua kempur, dan dua gong.

Pengembangan gamelan juga dilakukan kelompok Charlottesville. Javanese Gamelan dari Virginia. Komunitas ensambel gamelan ini berkomitmen untuk  belajar budaya Indonesia lewat musik. Pendiri dan direktur Cindy Benton-Groner menjadikan gamelan Jawa untuk  mengiringi lagu-lagu yang sedang populer di AS.

Gamelan Lila Muni dari Eastman Consermatory of Music Rochester, New York, yang didirikan pada 1993 tidak hanya melibatkan pihak kampus, tetapi juga masyarakat Rochester. Kelompok ini sudah tampil di banyak tempat. Mereka tampil dengan musik gamelan tradisional ataupun dengan menciptakan komposisi baru seperti “Persimpangan” yang di-compose mahasiswa doktoral Lena Nietfeld.

Decak Kagum
Untuk lebih mengenalkan Indonesia ke kalangan masyarakat AS, November lalu digelar Performing Indonesia: Conference, Musik, Dance, and Drama di Museum Freer and Sackler Gallery, Smithsonian Institution, di Washington DC.

Antusiasme warga AS terhadap kegiatan itu terlihat dari banyaknya peminat yang mendaftar untuk mendapatkan tiket gratis jauh sebelum acara berlangsung.

Bahkan, satu jam sebelum konser empat hari yang menampilkan pergelaran wayang, gamelan dan tari Jawa dari Yogyakarta, musik dan tari Bali, serta tari dan teater tradisional Sumatera dari Minangkabau itu, antrean pengunjung mengular di depan meja panitia untuk bisa mendapatkan tiket tambahan.

Performing Indonesia yang merupakan rangkaian program pembentukan Rumah Budaya Indonesia di AS yang digagas Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya Kemdikbud dan didukung Kedubes RI di AS memang menjadi daya tarik bagi warga AS ataupun wisatawan yang mengunjungi Washington.

Festival gamelan secara maraton selama dua hari di akhir pekan menyedot minat pengunjung. Lesehan di lantai pun dilakoni demi menikmati alunan beragam instrumen gamelan Jawa, Bali dan Sunda yang terhampar di pojok-pojok ruangan,  yang secara bergantian dimainkan 12 kelompok gamelan di AS.

Selain festival gamelan, ada pula seminar soal perkembangan musik gamelan dan seni budaya di Indonesia oleh profesor dari Indonesia dan perguruan tinggi AS. Ada pula pameran kain tradisional, seperti batik, songket dan tenun.

Beberapa saat sebelum acara pembukaan yang dihadiri Sekretaris Ditjen Kebudayaan Kemdikbud Gatot Ghautama, Duta Besar RI di AS Dino Patti Djalal, serta Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas, sejumlah pencinta gamelan AS sudah unjuk diri. Salah satunya, Jessika Kenney, guru vokal dan komposer di Cornish College of Arts di Seattle.

“Musik gamelan sangat indah. Gamelan ini musik kalbu, musik yang datang dari hati,” kata Jessika.

Andy Clay McGraw, pengajar musik dari Universitas Richmond di Virginia yang mendapat penghargaan dari Kedubes RI di  AS, mengatakan, gamelan disenangi masyarakat AS karena pemainnya harus kompak.

Sumarsan yang lebih dari 40 tahun jadi dosen gamelan di AS mengatakan, ensambel gamelan dianggap setara dengan orkestra  barat yang merupakan simbol budaya tinggi. Tak heran, gamelan, terutama Jawa dan Bali, digandrungi di AS.

Ironis memang. Ketika masyarakat AS menyukai gamelan, di negeri sendiri sekolah-sekolah tidak mengenalkan apalagi mengajarkan gamelan. (kps/d)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments