Minggu, 20 Okt 2019

Bicara Pelestarian Budaya, Mendikbud Sitir Konsep Trisakti Bung Karno

* Tjahjo Bacakan Puisi Sukarno 'Aku Melihat Indonesia'
bantors Sabtu, 12 Oktober 2019 15:51 WIB
SIB/Detikcom/Rahel
Mendagri Tjahjo Kumolo dalam acara 'Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Indonesia Tahun 2019' di Istora Senayan, Jakarta.
Jakarta (SIB) -Mendikbud Muhadjir Effendy bicara soal pelestarian budaya Indonesia. Menurut Muhadjir, menjaga warisan budaya merupakan salah satu amanat yang terkandung dalam UUD 1945.

"Karena itu Bapak, Ibu sekalian apa yang kita lakukan bukan hanya memenuhi amanat UUD tapi juga merupakan komitmen kita menjadi bagian dari warga dunia untuk melestarikan mengawetkan apa yang telah ditinggalkan para leluhur kita," kata Muhadjir.

Muhadjir menyampaikan itu saat memberikan sambutan dalam acara Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Indonesia 2019, di Istora Senayan, di Jalan Pintu Satu Senayan, di Jakarta Selatan, Selasa (8/10). Muhadjir juga menyitir pernyataan Presiden pertama RI Sukarno tentang konsep Trisakti.

"Luar biasa apa yang telah dicetuskan oleh founding father kita, pendiri negara kita, pendiri bangsa kita, Presiden pertama RI, Bung Karno, yang telah merancang adanya Trisakti yaitu daulat di dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian di dalam berbudaya," ujarnya.

Muhadjir juga bersyukur dengan adanya UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dengan adanya peraturan itu, Muhadjir mengatakan bangsa Indonesia memiliki landasan yang kuat dalam kebudayaan.

"Sebetulnya namanya budaya itu adalah bagian di dalam alam pikiran baik di alam pikiran individu atau pun alam pikiran kolektif. Apapun yang muncul di dalam bentuk yang fisik atau bukan fisik, yang benda dan bukan benda. Itu adalah bentuk ekspresi, bentuk ungkapan dari apa yang ada di dalam pikiran, alam pikiran kita, alam pikiran kolektif bangsa ini," paparnya.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah hadir dalam acara tersebut. Dia berharap acara ini dapat terus dihadiri banyak orang pada tahun-tahun berikutnya.

"11 pimpinan daerah dari 34 provinsi hadir pada malam hari ini. Berarti 1/3 dari pimpinan daerah hadir malam hari ini. Insyallah tahun depan 34 pimpinan daerah bisa hadir semua," ujarnya.

Hilmar lantas menyampaikan proses panjang mengenai pemberian apresiasi penetapan warisan budaya ini. Usulan-usulan terkait pemberian apresiasi ini datang dari daerah.

"Lalu proses seleksi, proses diskusi, berulang kali dilakukan proses verifikasi di lapangan sampai pada akhirnya bulan Agustus ada sidang penetapan ini ramai. Perdebatannya panjang. Saya kira perdebatan ini mencerminkan gairah yang luar biasa mana yang harus ditetapkan di tingkat nasional," ujar dia.

Acara ini, sambung Hilmar, merupakan langkah konkret untuk melestarikan budaya Indonesia. Ini juga dilakukan agar budaya Indonesia tidak diklaim pihak lain.

"Perlindungan juga memastikan bahwa tidak diambil sama orang lain. Seringkali ada kita denger bahwa warisan budaya itu diklaim oleh tempat lain lah. Nah langkah yang paling konkret adalah penetapan, tercatat terdokumentasi dengan baik," ujarnya.

Tjahjo Baca Puisi Sukarno
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo yang juga menghadiri acara itu membacakan puisi 'Aku Melihat Indonesia' karya Presiden pertama Sukarno.

Tjahjo mengimbau semua pihak agar menjaga kebudayaan di Indonesia. Pelestarian budaya itu dinilai penting supaya tidak diakui oleh negara lain.

"Jangan sampai di kemudian hari ada budaya kita yang diakui oleh negara-negara lain," kata Tjahjo.

Tjahjo mengakhiri pidatonya dengan membacakan puisi karya Sukarno yang berjudul 'Aku Melihat Indonesia'. Berikut ini isi puisi tersebut :

Aku Melihat Indonesia

Jikalau aku melihat gunung gunung membiru,
Aku melihat wajah Indonesia;
Jikalau aku mendengar lautan membanting di pantai bergelora,
Aku mendengar suara Indonesia;

Jikalau aku melihat awan putih berarak di angkasa,
Aku melihat keindahan Indonesia;
Jikalau aku mendengarkan burung perkutut di pepohonan,
Aku mendengarkan suara Indonesia.

Jikalau aku melihat matanya rakyat Indonesia di pinggir jalan,
Apalagi sinar matanya anak-anak kecil Indonesia,
Aku sebenarnya melihat wajah Indonesia. (Detikcom/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments