Senin, 17 Feb 2020

Akrabnya Budaya Tionghoa dan Betawi Merayakan Imlek

Redaksisib Sabtu, 15 Februari 2020 12:05 WIB
news.detik.com

Pernak-pernik Imlek.

Jakarta (SIB)
Pada masa lalu, pesta Imlek di tanah Betawi punya keunikan sendiri. Karena sudah melebur dengan kebudayaan lokal, Imlek versi Betawi ini tak ada duanya di dunia. Sejarawan Betawi Alwi Shahab menuliskan, beberapa hari sebelum Imlek, keturunan etnis Tionghoa sudah disibukkan dengan acara membersihkan rumah.

"Pintu dan jendela dicat, tembok dikapur, ubin dan perabotan rumah digosok sampai mengkilap," tulis Alwi dalam artikelnya berjudul 'Gongxi Facai' seperti yang dikutip dari lama blognya. Sementara rumah dibersihkan, para nyonya rumah menyiapkan sejumlah kuliner khas.

Salah satunya kue satu. Penganan kering ini terbuat dari kacang hijau yang dilumatkan seperti tepung. Selain itu, kaum ibu membuat agar-agar serta manisan kolang-kaling dan buah cermai.

Alwi menuliskan warga Tionghoa Betawi juga menggelar pasar malam beberapa hari menjelang Imlek. Seluruh keperluan Imlek tersedia di pasar yang terletak di sekitar lapangan Glodok dan Pancoran. Terutama ikan bandeng dan kue keranjang.

"Merupakan suatu kemestian, bagi calon mantu membawakan ikan bandeng dan kue keranjang pada calon mertua. Ini sebuah tanda si calon mantu benar-benar menghargai calon mertuanya. Jangan main-main, calon mantu yang kagak membawanya, bisa di-onslaag jadi mantu," tulis mantan wartawan kantor berita Antara itu.

Pasar malam itu juga jadi tempat cuci mata bagi para bujang. Saat itu gadis Tionghoa masih dipingit. Mereka tak boleh keluar dari rumah dan bebas menerima tamu pria. Hanya pada pasar malam dan malam Cap Go Meh saja para perempuan muda ini bisa keluar dari rumah. Itu pun dengan kawalan keluarga dekat.

Setiap petang menjelang Imlek, kampung diramaikan oleh para pengamen yang datang dari daerah pinggiran, seperti Karawang, Bekasi, Tambun, dan Cikarang. Mereka membawakan orkes tanjidor, musik rakyat yang konon berasal dari Portugis. Kata tanjidor berasal dari kata Portugis tangedor.

Orkes ini dimainkan ramai-ramai lima sampai delapan orang. Mereka membawa alat-alat musik berupa tanjidor (tambur besar), trompet, klarinet, seruling, dan trombon. Mereka mendatangi rumah-rumah orang Tionghoa Betawi. Umumnya mereka membawakan lagu-lagu mars Belanda tempo dulu.

Guru besar ilmu antropologi Universitas Indonesia James Dananjaya dalam buku 'Folklore Tionghoa' menyebut para personel grup tanjidor ini kemungkinan besar adalah keturunan etnis Tionghoa yang masuk Islam.

Namun, karena kulit mereka berubah jadi cokelat dan sudah beralih keyakinan, para pemain tanjidor ini tidak lagi terlihat seperti orang Tionghoa. "Yang didatangi merasa senang dan menghadiahi mereka angpau, uang yang dibungkus kertas merah," tulis James Dananjaya.

Suasana semarak Imlek ini terus berlangsung sampai Cap Go Meh. Jelang Cap Go Meh, semua jenis pertunjukan seni Betawi ditampilkan. Termasuk wayang cokek, yang ditarikan empat perempuan memakai baju kurung diiringi gambang kromong. "Mereka menyanyikan lagu-lagu berirama China dan Betawi," tulis Alwi.

Pemerhati budaya Tionghoa dari Universitas Pelita Harapan Johanes Herlijanto menyampaikan kolaborasi dua budaya Tionghoa-Betawi dalam menyambut dan menyemarakkan Imlek ini bukan hal yang mengherankan. "Unsur budaya Tionghoa itu memang banyak andil mewarnai seni Betawi," ujarnya.

Meski demikian, saat itu pemerintah kolonial Belanda berusaha membuat segregasi dengan memasukkan Tionghoa sebagai golongan Timur Asing bersama keturunan Arab dan India.

"Namun pasti selalu ada perjumpaan dengan orang yang disebut pemerintah kolonial sebagai pribumi. Dalam pertemuan itulah, mereka saling mengisi dan memperkaya seni mereka," ujar Herlijanto. (detikcom/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments