Senin, 21 Sep 2020

Filosofi Buaya dalam Adat Pernikahan Betawi

Sabtu, 25 Februari 2017 16:52 WIB
Hampir setiap orang menginginkan pernikahan sekali seumur hidupnya. Pernikahan pun dianggap sebagai momen yang sakral dan sarat akan makna. Karenanya, dalam satu pernikahan, hampir selalu ada tradisi yang memiliki nilai-nilai filosofis tertentu, sebagai harapan dalam kehidupan rumah tangga kelak. Setiap wilayah di Indonesia pun memiliki tradisi unik yang beragam.

Misalnya saja tradisi pernikahan milik masyarakat ibu kota. Meskipun Jakarta dianggap sebagai tempat berasimilasi kebudayaan lain, namun masyarakat aslinya yaitu Betawi, memiliki tradisi pernikahan tersendiri yang masih bertahan.

Dalam pernikahan yang mengusung adat Betawi, roti buaya merupakan hal penting yang tak boleh terlewatkan. Roti sepanjang kurang lebih 50 sentimeter ini adalah syarat wajib yang harus dibawa oleh calon pengantin pria, selain seserahan lainnya.

Dalam simbolisme budaya modern, buaya kerap dikonotasikan dengan hal yang negatif. Misalnya sebagai representasi dari seorang lelaki yang sering berganti pasangan.

Namun faktanya, buaya merupakan hewan paling setia pada pasangannya, yang hanya kawin seumur hidupnya sekali. Wujud lain kesetiaan buaya jantan adalah kemampuannya untuk melindungi pasangan serta telur mereka dari ancaman predator.

Itulah sebabnya, dalam budaya Betawi, buaya dianggap sebagai simbol kesetiaan. Tak hanya itu, menurut keyakinan mereka, roti pun juga dianggap sebagai simbol kemapanan ekonomi. Karenanya, roti buaya tak lain adalah bentuk harapan mereka akan kesetiaan serta masa depan yang lebih baik bagi pasangan yang menikah.

Roti buaya yang dibawa oleh calon mempelai pria dipajang di tengah-tengah ruangan hingga acara pernikahan selesai. Selanjutnya, roti tersebut diletakkan di atas lemari pakaian kamar pengantin dan dibiarkan begitu saja, hingga hancur dan berbelatung. Inilah yang menjadi simbol jika sepasang suami istri hanya dapat dipisahkan oleh maut dan raga yang telah dikerumuni belatung.

Namun, lain dulu, lain pula sekarang. Saat ini esensi roti buaya dalam adat pernikahan Betawi telah mengalami perubahan.

"Sayang, pernikahan adat Betawi dulu dan sekarang jauh berbeda. Dulu, roti buaya sengaja dibuat sekeras mungkin, semakin  baik kualitas roti tersebut. Tujuan sebenarnya dari pembuatan roti buaya ini bukan untuk dimakan," kata JJ Rizal, ahli sejarah lulusan Universitas Indonesia.

Zaman sekarang, dalam pernikahan adat Betawi, roti buaya tidak lagi dibiarkan membusuk dan berbelatung. Melainkan akan dibagi-bagikan pada tamu undangan seusai acara pernikahan. Maksudnya ialah agar tamu undangan yang masih melajang segera diberikan jodoh dan bisa segera menikah.
Wujud roti saat ini pun juga sudah berbeda. Tekstur roti buaya yang ada kini lebih lembut dan dilengkapi dengan variasi rasa yang beragam. Berbeda dengan bentuk roti buaya zaman dahulu yang sangat berat juga keras seperti batu serta polos tanpa adanya variasi rasa.

Roti buaya dikenal sebagai hidangan dalam satu perayaan, sehingga saat ini tidak mudah dijumpai di toko-toko roti. Oleh karenanya, bagi pasangan yang ingin menikah harus memesan terlebih dahulu. Harganya pun juga bervariasi, tergantung dari ukuran yang diinginkan.

Meski demikian, roti buaya tetap membudaya bagi warga Betawi. Walaupun saat ini sudah banyak digelar acara pernikahan bernuansa modern, tapi roti buaya masih dipakai sebagai simbol kesetiaan. (goodnewsfromindonesia/f)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments