Kamis, 14 Nov 2019
  • Home
  • Kriminal
  • Uang Nasabah Rp 103 Juta Raib Dari Rekening, Bank Mandiri Digugat

Uang Nasabah Rp 103 Juta Raib Dari Rekening, Bank Mandiri Digugat

admin Rabu, 11 September 2019 11:27 WIB
Ilustrasi
Medan (SIB) -Subur Panggabean melalui tim kuasa hukumnya dari Kantor Putra Limbong & Partner mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Bank Mandiri ke Pengadilan Negeri (PN) Medan. Pasalnya, uang sebesar Rp 103.997.901 milik Subur raib dari rekening Bank Mandiri miliknya.

Atas hal itu, Subur meminta agar pengadilan memerintahkan Bank Mandiri mengembalikan uang tersebut ke rekeningnya. Saat ditemui wartawan, Ramli Tambunan didampingi Putra Limbong dan Herman Brahmana mengatakan, proses persidangan sudah sampai tahapan mediasi.

"Namun, mediasi gagal lantaran pihak Bank Mandiri tidak hadir pada mediasi kedua dan ketiga.Dengan begitu, gugatan masuk ke tahapan pokok perkara," kata Ramli, Senin (9/9) sore.

Ramli menceritakan, pada tahun 2004, Subur membuka rekening Bank Mandiri di Kantor Cabang Medan Belawan dengan nomor 106-00-0302363-0. Setelah itu, Subur mendapatkan kartu debit ATM nomor 4097662135761834.

Tanggal 30 Juli 2016, Subur melakukan penarikan uang tunai melalui ATM sebanyak 3 kali yang masing-masing Rp 2 juta sehingga totalnya Rp 6 juta. Setelah menarikan, penggugat melakukan print out rekening koran dengan sisa saldo Rp 103.997.901.

"Pada tanggal 8 Agustus 2016, saat klien kita hendak melakukan transaksi transfer uang melalui ATM sebesar Rp 1.245.000, transfer tersebut dinyatakan gagal dengan keterangan dari mesin ATM menyebutkan saldo tidak mencukupi. Dia (Subur) penasaran, lalu mencari ATM lain, namun hal sama juga ditemukan," cetus Ramli.

Atas itu, penggugat langsung mengambil sikap dengan melakukan print out rekening koran dan diketahui ternyata uang miliknya hanya tinggal Rp 100.248. Kejadian itu membuat penggugat langsung mendatangi kantor tempat dirinya pertama membuat rekening Bank mandiri. Di sana, penggugat bertemu dengan seorang Customer Service Office yang bernama Ayu Putri. Setelah dicek Ayu, menurutnya, kartu ATM yang diserahkan tersebut bukan milik penggugat.

"Lalu klien kami meminta kepada petugas bank yang saat itu bertemu dengannya, untuk segera melakukan print out rekening koran. Setelah selesai, klien terkejut saat melihat adanya dugaan traksaksi siluman tanpa sepengetahuan dan seizin klien kami yakni pada tanggal 30 Juli 2016 sampai 5 Agustus 2016. Transaksinya dilaksanakan dengan cara penarikan tunai melalui ATM, transfer melalui ATM, melalui EDC dan transaksi lain," terang Ramli.

Putra Limbong menambahkan, atas itu, kliennya langsung mengajukan keberatan dan membantah seluruh transaksi yang disampaikan pihak Bank Mandiri sebelumnya. "Kejanggalannya, ketika kami mengajukan keberatan atas keterangan pihak tergugat, ada transaksi yang nomor kartunya tidak ditampilkan tergugat," lanjutnya.

Tak hanya itu, penggugat juga telah meminta kepada tergugat untuk memperlihatkan rekaman CCTV transaksi dari tanggal 30 Juli 2016 hingga 5 Agustus 2016. Namun, tergugat tidak mau memenuhinya dengan dalil data rekaman CCTV tidak tersimpan pada Digital Video Record (DVR). Menyikapi itu, Putra Limbong menyesalkan sikap tergugat sebagai salah satu bank besar dan dipercaya publik yang seharusnya bersikap bijak serta arif menjaga nasabah.

Dalam gugatannya, Putra memohon kepada majelis agar mengabulkan gugatan untuk seluruhnya. Menyatakan perbuatan tergugat yang tidak melakukan kewajiban hukumnya untuk melindungi penggugat adalah perbuatan melawan hukum. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang diletakkan dalam perkara ini. Menghukum tergugat membayar kerugian materiil sebesar Rp 103.897.653 dan kerugian immateril Rp 5 miliar kepada penggugat dengan seketika serta terakhir menghukum tergugat membayar uang paksa sebesar Rp 500 ribu untuk tiap-tiap harinya apabila lalai memenuhi isi putusan.

Terpisah, Isnaeni Subekti selaku Assistant Vice President Bank Mandiri Regional 1 Medan, membantah tidak hadir dalam persidangan gugatan dengan agenda mediasi kedua dan ketiga tersebut.

"Sebenarnya kami selalu hadir pada setiap mediasi, baik mediasi pertama hingga mediasi terakhir. Hal ini kami lakukan karena kami sangat menghormati proses hukum yang diajukan sehingga permasalahan yang terjadi dapat terselesaikan dengan baik. Meski demikian, pada mediasi kedua dan ketiga, penggugat tidak kunjung hadir setelah kami tunggu satu hari penuh dan hal ini membuat mediasi tidak terlaksana," sebut Isnaeni kepada wartawan.

Isnaeni menjelaskan, uang milik Subur yang raib dari rekening, permasalahannya telah memasuki proses persidangan. "Sebelumnya sudah pernah kami jelaskan kepada yang bersangkutan (Subur) dan saat ini permasalahannya sudah masuk ke proses persidangan. Sebagai institusi keuangan yang selalu diawasi Bank Indonesia dan OJK, kami memastikan bahwa seluruh operasional layanan perbankan sudah kami lakukan dengan benar. Kami akan mengikuti dan menghormati proses hukum yang saat ini sedang berjalan," jelasnya. (M14/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments