Minggu, 15 Sep 2019
  • Home
  • Kriminal
  • Terdakwa Kasus Dugaan Suap Oknum Petugas BNN Pematangsiantar Dituntut 2 Tahun Penjara

Terdakwa Kasus Dugaan Suap Oknum Petugas BNN Pematangsiantar Dituntut 2 Tahun Penjara

admin Rabu, 17 Juli 2019 21:08 WIB
Medan (SIB) -Terdakwa dugaan suap, Joko Susilo (31) terhadap oknum petugas BNN Hino Mangiring Pasaribu dituntut 2 tahun penjara di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (15/7).

Selain penjara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dostom Hutabarat dari Kejari Siantar juga menuntut terdakwa denda sebesar Rp 50 juta dengan subsider 3 bulan penjara.

"Meminta majelis hakim yang menyidangkan perkara ini menghukum terdakwa Joko Susilo, karena terbukti melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 dengan hukuman 2 tahun penjara denda Rp 50 juta dan apabila tidak dibayarkan diganti kurungan,"ucap JPU dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Sri Wahyuni.

Atas tuntutan itu, Penasehat Hukum terdakwa Joko akan menyiapkan nota pembelaan (pledoi) yang dibacakan pada pekan depan di muka persidangan.

"Kita akan mengajukan nota pembelaan dan membuktikan Joko tidak terbukti melakukan pelanggaran, karena sesuai dengan fakta persidangan klien kita tidak ada memberikan uang atau suap. Jadi kami menilai tuntutan ini tidak sesuai," ucap Parluhutan Banjarnahor, Penasehat Hukum terdakwa seusai sidang.

Mengutip surat dakwaan jpu menyebutkan, Joko Susilo memberikan suap sebesar Rp 5 juta kepada Hino yang bertugas Pengolah Data Seksi Pemberantasan BNN Pematangsiantar untuk menghilangkan status DPO keterlibatan kasus narkotika.

Kasus bermula 23 Agustus 2017 BNN Pematangsiantar melakukan penangkapan terhadap Muhammad Saleh Nasution dan Budi Atomi atas kepemilikan narkotika.

Pada saat ditangkap Budi menggunakan sepedamotor Kawasaki Ninja yang dibeli dari terdakwa Joko oleh karena itu saksi BNN Hino mencurigai terdakwa turut terlibat dalam kepemilikan narkotika dan akan diterbitkan DPO terhadap terdakwa. Sehingga terdakwa ketakutan dan meminta nomor saksi Hino.

Kemudian terdakwa menelepon Hino dan mengajak bertemu dan keduanya menyetujuinya bertemu di Bank Mandiri Jalan Sudirman Pematangsiantar.

Lalu terdakwa berangkat dengan mengendarai sepedamotor dengan saksi Prisman Hadinata, namun karena terdakwa tidak melihat saksi akhirnya terdakwa menelepon Hino Mangiring dan mengatakan, agar bertemu di pinggir Jalan WR Supratman Pematangsiantar.

"Kemudian terdakwa mengambil uang di ATM Mandiri sebanyak Rp 5 juta, lalu terdakwa menyuruh saksi Prisman Hadinata untuk memasukkan uang tersebut ke dalam amplop dan kemudian terdakwa memasukkan uang tersebut ke saku celana," jelas dakwaan Jaksa.

Lalu terdakwa menuju ke warung rokok untuk menemui Hino dan berbincang-bincang terkait penangkapan Muhammad Saleh Nasution dan Budi Atomi serta berbincang terkait keterlibatan terdakwa dan akan diterbitkan DPO.

"Saat itu terdakwa dan Hino berbincang-bincang, lalu Joko menyerahkan uang sebesar Rp 5 juta tersebut kepada saksi Hino Mangiring dengan cara pertama-tama terdakwa mengeluarkan uang tersebut dari saku celana sebelah kanan saksi dan kemudian menggenggam uang tersebut, lalu menyerahkan sambil bersalaman dengan Hino," bebernya.

Selanjutnya, Hino Mangiring menerima uang tersebut kemudian dimasukkan ke saku celana sebelah kiri. Setelah 10 menit berbicara dengan terdakwa, saksi Hino berkata "ok lah, aku pulang duluan, besok kutanya".

Tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sipil mengaku sebagai polisi dan memerintahkan Hino jangan bergerak, bersamaan dengan mengambil kunci kontak sepedamotor milik Hino Mangiring.

"Kemudian memerintahkan saksi Hino mengeluarkan isi kantong dan kemudian menginterogasi terdakwa dan terdakwa mengatakan baru saja memberikan uang tunai Rp 5 juta kepada Hino," ungkap JPU Dostom.

Kemudian polisi memerintahkan mengeluarkan semua isi kantong Hino dan mengeluarkan dompet ditemui uang tunai sejumlah Rp.10.450.000 lalu saksi Hino dibawa ke Polres Pematangsiantar. (M14/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments