Senin, 22 Jul 2019
  • Home
  • Kriminal
  • PNS Kemenag Dibunuh dan Dimutilasi di Kontrakan

PNS Kemenag Dibunuh dan Dimutilasi di Kontrakan

* Pelaku Diancam Hukuman Mati
admin Minggu, 14 Juli 2019 15:48 WIB
Ilustrasi
Bandung (SIB) -Deni Prianto membunuh dan memutilasi Komsatun Wachidah (51) PNS Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandung itu di sebuah kontrakan di Bandung.

"Iya jadi lokasi pembunuhannya dan mutilasinya di sini. Kalau di Bogor itu bohong," ujar Kanit III Reskrim Polres Banyumas Ipda Rizky Adhiyanzah di lokasi, Sabtu (13/7).

Deni menghabisi dan memutilasi Komsatun seorang diri. Dia juga membeli sejumlah perlengkapan mutilasi dari mulai golok hingga boks untuk menyimpan potongan tubuh korban.

Rizky mengatakan usai memutilasi potongan tubuh korban dibawa ke dalam mobil milik korban. Deni lantas membawa mobil itu ke daerah Banyumas.

Lokasi pertama yang didatangi yakni Jalan Raya Klampok-Sempor. Lokasi ini diduga merupakan lokasi pertama pembuangan potongan tubuh korban. "Semua potongan tubuh dibakar," kata Rizky.

MINTA IZIN
Sebelum dikabarkan tewas dimutilasi, Komsatun Wachidah MINTA izin kepada suaminya Soib (51) untuk menservice mobil.

"Istri saya meninggalkan rumah Minggu, (7/7) sekitar Pukul 09.00 WIB, dengan alasan mau ke bengkel," kata Soib, Sabtu (13/7) di kediaman Ketua RW 21 di Kecamatan Cileunyi.

Setelah meminta izin kepada sang suami, Komsatun langsung bergegas pergi. Sementara, Soib tidak banyak bertanya setelah istrinya meminta izin akan ke bengkel.

"Saya jawab hati-hati. Saya ada di luar dekat tangga, pakaian apa yang dipakai, tidak kuperhatikan, dia hanya bilang mau ke bengkel sebentar," ungkapnya.

Hingga sore, Komsatun tak kunjung pulang. Tidak timbul kecurigaan, sebab sehari sebelumnya Komsatun sempat membahas seragam putrinya yang mau masuk SMA.

"Sebelumnya, hari Sabtu dia menanyakan, anaknya nanti pakai seragam beli di sekolah atau beli sendiri. Saya bilang ya beli sendiri.
Makanya saya tidak curiga ketika tidak ada komunikasi, mungkin saja dia ke pasar. Saya kontek terus, sampai Pukul 17.44 WIB, hilang kontak," jelasnya.

Hingga petang menjelang malam, Komsatun belum memberikan kabar kepada anak dan suaminya. Selama hilang kontak suami dan anaknya terus menelepon dan mengirim pesan singkat menggunakan telepon genggamnya.

"Ibu bilang ke bengkel, gak bilang apa-apa lagi. Whatsapp nya terakhir aktif Pukul 13.02 WIB enggak aktif lagi. Saya telepon terus, setelah itu saya cari malamnya di bengkel-bengkel ternyata enggak ada," katanya.

Hingga dinihari, Komsatun masih belum memberikan kabar kepada pihak keluarga. Takut terjadi apa-apa, Soib langsung mencari istrinya ke tempat kerjanya.

"Terus ke kantor tempat dia kerja Pukul 01.00 WIB dinihari, kantornya digembok saya tidak bisa masuk dan saya kembali ke rumah untuk menenangkan diri," paparnya.

Soib mencari istrinya ke kantornya, dengan anggapan Komsatun ikut rombongan haji bersama teman kerjanya. Pagi harinya, Soib kembali ke tempat kerja istrinya.

"Saya beranggapan dia ikut rombongan haji, karena dulu dibagian haji, ikut sama temannya. Saya penasaran, setelah subuh saya kembali ke kantor, tapi masih belum dibuka sama satpam. Saya tungguin sampai Pukul 06.00 WIB," ujarnya.

"Saya tanya ke satpam, ada istri saya gak? Oh Bu Atun (Komsatun) enggak ada, dia enggak ikut kan sudah bukan dibagian haji. Coba dibuka dulu kata saya, mau cek mobilnya, ternyata enggak ada," tambahnya.

Soib langsung bergegas pulang ke rumahnya, karena Komsatun pergi dengan menggunakan mobil miliknya ia langsung mencari BPKB di lemarinya. "Saya pulang, setelah pulang saya curiga langsung ke lemari lihat BPKB mobil enggak ada. Saya mulai curiga," imbuhnya.

Soib terus berikhitiar, selain itu ia berkomunikasi dengan pihak Depag Kanwil Kota Bandung dan melaporkan kehilangan istrinya itu kepada Polsek Cileunyi. Senin hingga Rabu ia tak kunjung mendapatkan kabar, lalu pada Kamis, tim penyidik Polres Banyumas mendatangi kediaman Soib untuk memastikan bahwa korban mutilasi itu adalah keluarganya.

TERSANGKA
Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun mengatakan jika pelaku melanggar pasal 340, perencanaan dan pasal 365 ingin memiliki barang milik orang lain. Dimana prosesnya dengan cara membunuh dan memutilasi korbannya.

"Pelaku sudah jelas kita tetapkan sebagai tersangka dengan pasalnya 340 dan pasal 365 karena dia niatnya memang untuk menguasai barang pada awalnya, cuma prosesnya dia dengan cara membunuh.Jelas ancaman hukumannya, maksimal hukuman mati," kata Bambang. (detikcom/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments