Selasa, 04 Agu 2020
  • Home
  • Kriminal
  • Terkait Temuan 87.000 Butir Pil Ekstasi di Bandara KNIA, Poldasu Selidiki Perusahaan Ekspedisi

Terkait Temuan 87.000 Butir Pil Ekstasi di Bandara KNIA, Poldasu Selidiki Perusahaan Ekspedisi

Selasa, 21 Januari 2014 11:09 WIB
Medan (SIB)- Poldasu masih mendalami informasi pengirim dan pemilik 87 ribu pil ekstasi yang diamankan di Bandara Kuala Namu Internasional Airport (KNIA). Hal itu disebutkan Direktur Ditres Narkoba Poldasu Kombes Pol Toga Habinsaran Panjaitan ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (20/1).

"Setelah temuan barang bukti 87 ribu pil ekstasi di KNIA, kita segera melakukan penyelidikan alamat si pengirim Toko S di Jalan Sisingamangaraja Medan, tetapi tak ditemukan, nihil," ujar Toga.

Toga mengatakan, tidak dapat menghubungi nomor telefon pengirim, karena tidak aktif. Ia mengaku, masih menyelidiki dugaan keterlibatan perusahaan ekspedisi yang mengirim paket berisi ekstasi itu PT BCA.

"Masih kami selidiki, apakah perusahaan pengiriman barang itu mengetahui atau tidak barang yang dikirim," ujarnya.

Informasi diperoleh, pengiriman paket berisi pil ekstasi itu diduga sudah enam kali dilakukan selama 2013, karena nama penerima paket-paket itu sama, HA beralamat Kalimantan Selatan.

Sebelum melalui ekspedisi PT BCA Jalan Pattimura Medan, paket dikirim melalui PT SJL Medan yang juga beralamat di Jalan Pattimura. Saat itu, PT SJL Cabang Medan dikepalai YK yang kemudian berhenti dari PT SJL dan mendirikan PT BCA.

"Saat paket-paket itu dikirim, YK orang yang bertanggung jawab, karena ketika itu sebagai kepala cabang PT SJL dan pemilik di PT BCA," ujar Erwin Budiman, kuasa hukum PT SJL, ditemui di Mapoldasu, Senin (20/1).

Dikatakannya, berdasarkan kwitansi penerimaan titipan PT SJL, 29 Mei 2013, CV FA Medan mengirim paket seberat 16 Kg untuk dikirim kepada HA di Pasar Martapura Banjarmasin, Kalsel. Kemudian, 28 Juni 2013, CV FA kembali mengirim paket 20 Kg melalui PT SJL kepada HA di Pasar Martapura, Banjarmasin, Kalsel.

Tanggal 1 Agustus 2013, Toko DS melalui PT SJL mengirim paket 16 Kg yang ditujukan kepada HA, alamat Jalan Ratu Elok, Banjarbaru, Kalsel. Sedangkan pada 30 Agustus 2013, Toko DS juga mengirim paket 22 Kg ke HA alamat Jln. Ratu Elok Banjarbaru, Kalsel.

Dua pengirim terakhir, kata Erwin, dikirim melalui PT BCA, dimana YK saat itu telah keluar dari PT SJL dan mendirikan PT BCA. Tanggal 1 September 2013 Toko DS mengirim paket 12 Kg kepada HA beralamat Jalan Ratu Elok Banjarbaru, Kalsel dan pada 9 Desember 2013 saat temuan 87 ribu butir pil ekstasi tak bertuan di KNIA, PT BCA sebagai perusahaan ekspedisi hendak mengirim paket 20 Kg dari Toko S Jln Sisingamangaraja Medan ke HA, beralamat pertokoan Pasar Lilin Raya Banjarbaru, Kalsel.

"Enam pengirima paket itu semua ditujukan kepada HA di Kalsel, tetapi alamat dan nomor teleponnya berbeda. Ada dugaan paket kiriman sebelumnya juga berisi ekstasi, sehingga wajar penyidik kepolisian menelusuri kemungkinan itu," katanya.

Menurutnya, kejadian itu membuat nama baik PT SJL tercemar. Karena itu, kata dia, PT SJL berharap, penyidik dapat menelusuri kasus itu, untuk menghilangkan prasangka PT SJL melakukan pengiriman paket berisi Narkoba.

Dijelaskannya, berdaskan UU No 38/2009, tentang Pos Pasal 29 ayat 2 disebutkan, penyelenggara pos berhak membuka dan memeriksa kiriman di hadapan pengguna layanan pos untuk mencocokkan kebenaran informasi pengiriman.

"Tetapi itu tidak dilakukan perusahaan ekspedisi tersebut," sesalnya. (A23/x)
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments