Kamis, 19 Sep 2019
  • Home
  • Komunitas
  • Komunitas Peduli Anak Sehat, Indonesia ke Depan Kuat Fisik dan Kuasai Digital
  • Home
  • Komunitas
  • Komunitas Peduli Anak Sehat, Indonesia ke Depan Kuat Fisik dan Kuasai Digital
  • Home
  • Komunitas
  • Komunitas Peduli Anak Sehat, Indonesia ke Depan Kuat Fisik dan Kuasai Digital

Komunitas Peduli Anak Sehat, Indonesia ke Depan Kuat Fisik dan Kuasai Digital

admin Senin, 19 Agustus 2019 14:00 WIB
SIB/Dok
Komunitas Peduli Anak Sehat: Handy, si pengibar Pangeran Maju Bahagia (PMB) penggagas peduli anak sehat melalui permainan motor digital bersama komunitas di antaranya Iwan, Asiang-Sepeda Family, Janto Hasan dan Salim Chandra serta Achank di alam dengan medan asri.
Medan (SIB) -Sejumlah penggiat olahraga dan pelaku industri digital membentuk wadah Komunitas Anak Sehat. Tujuannya, menciptakan anak dan kaum milenial yang kuat sehat secara fisik dan menguasai digital. Caranya dengan mendekatkan pada permainan berbasis digital tapi menekankan pada pergerakan tubuh untuk mengasah intelegensia para generasi muda bangsa.

Handy, satu dari bagian komunitas itu, Jumat (26/7) mengatakan, perkembangan zaman menghasilkan sedikit banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan anak-anak. Digitalisme masuk dalam kehidupan yang tak dapat ditolak. Mengantisipasi hal yang tak diinginkan, fungsi mainan tidak lagi hanya sebagai alat untuk menghibur tapi juga untuk mengedukasi. "Era anak bermain statis, idealnya sudah lewat. Sekarang banyak sekali permainan anak yang melatih kecerdasan dan mendekatkan anak pada digital," ujarnya di Jess Co Tour & Travel Komplek Merbabu Indah Medan.

Didampingi Iwan, Jenny, Asiang-Sepeda Family, Janto Hasan dan Salim Chandra serta Achank, Handy menegaskan anak dan kelompok milenial idealnya bergelut dengan permainan yang membantu mengaktifkan perkembangan otak kiri, membangkitkan kecerdasan psikologis dan kreativitas berpikir. "Untuk meningkatkan kegemaran, permainan tersebut dikolaborasikan dengan musik yang digemari," ujar pria yang mengibarkan bendera Pangeran Maju Bahagia (PMB) dalam upaya menggerakkan tubuh anak dan kaum milenial.

Ia menunjuk jenis mobil mainan Scooter dengan tenaga penggerak 1 gearbox dengan dinamo motor DC 6 Volt. "Anak dan kelompok milenial tak hanya statis tapi dapat menaiki dan mengoperasionalkan. Seperti orang dewasa mengemudi mobil. Mainan yang memacu adrenalin anak pun sangat ideal membuat olah tubuh," jelas Handy sambil mempraktikkan transmisi maju-mundur dengan akselerasi pedal injak sebagai bentuk semua organ tubuh bergerak. "Otak pun berjalan dengan latihan motorik," tegasnya.

Jika anak atau milenial gemar dengan tantangan, dapat mengayuh sepeda tapi tetap didekatkan dengan digital Handy mencontohkan jenis Scoopy dengan motor mainan aki dengan sistem rechargeable-battery operated toy motorcycle dengan fitur musik. "Anak dan milenial saat ini, sudah terbiasa dengan musik. Jadi, dengan alat itu ada pergerakan dan relaksasi tapi tetap bergerak," rincinya.

Achank menambahkan, memasuki Revolusi Industri 4.0 semua serba digital dan mengharuskan pribadi untuk duduk di depan komputer atau laptop bahkan smartphone. "Terbiasa duduk, bangun tulang bisa statis. Terus-menerus duduk, bagian ekor tubuh manusia bisa terbeban dengan penyakit lain," jelasnya. "Itu sebabnya, sejak dini, mulai anak dan milenial, harus bergerak," tambah pria familiar tersebut.

Ia pun menunjuk syarat menghadirkan hidup sehat anak-anak yakni harus mesra dengan alam. "Bermain, bergerak di alam bebas," ujar pria yang juga menekankan perlunya milenial menjaga warisan leluhur melalui budaya bangsa tersebut.

Achank menunjuk anak-anak di Jakarta yang jenius, mampu bersosialisasi dengan lingkungan, dapat memecahkan persoalan. "Orang-orang di Sumut juga harus membentuk anak dan milenial cerdas dengan permainan tersebut," harapnya.

Ia menyebut jenis mainan statis dari Denmark yang sudah dihadirkan sejak 1932 dengan initial 'L' dan 'P'. "Mainan statis sudah usang. Sekarang era di mana anak interaksi langsung dengan obyek seperti mobil remote control yang dapat melibatkan subyeknya aktif. Naik, menyetir sendiri, mengatur kecepatan sendiri. Balap. Kalau jatuh, di situlah sensasi dan adrenalin anak dipacu," tutup Achank. (R9/t)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments