Senin, 09 Des 2019
  • Home
  • Komunitas
  • Komunitas Jomblo Katolik Bangkitkan Rasa Percaya Diri Para SingleHuzaini
  • Home
  • Komunitas
  • Komunitas Jomblo Katolik Bangkitkan Rasa Percaya Diri Para SingleHuzaini
  • Home
  • Komunitas
  • Komunitas Jomblo Katolik Bangkitkan Rasa Percaya Diri Para SingleHuzaini

Komunitas Jomblo Katolik Bangkitkan Rasa Percaya Diri Para SingleHuzaini

admin Senin, 05 Agustus 2019 15:24 WIB
Ilustrasi
Jakarta (SIB) -Menjadi minoritas di Indonesia adalah tentang keleluasaan yang hilang. Apalagi jika menyangkut pokok yang sulit dilonggar-longgarkan: iman dan pernikahan. Secara matematis, peluang seorang beragama Katolik di Jakarta untuk menemukan pasangan hidup yang cocok telah dipersempit dari segi populasi. Peluang tersebut, di atas kertas, tentu tak sebesar saudara-saudara muslim, misalnya. Itu fakta. Masalahnya, standar masyarakat seolah memaksa seseorang kawin tak lebih dari usia 30 tahun.

Dengan struktur sosial yang bagai tak berpihak pada mereka, wajar rasanya bila beberapa orang Katolik di Jakarta melajang hingga usia yang dipandang tak lazim oleh masyarakat. "Member Jakarta itu rentang usianya rata-rata 30-40 tahun. Itu rentang usia galau," ujar Agatha Garcia, Ketua Komunitas Jomblo Katolik Regional Jakarta, Sabtu (27/7). Agatha menuturkan di rentang usia itu, banyak laki-laki dan perempuan merasakan tekanan mendapati situasi di mana teman-teman hingga sudara sudah menikah dan memiliki anak. Komunitas Jomblo Katolik (KJK) lahir di Salatiga, Jawa Tengah medio 2009.

Alexander Bayu, sang pendiri, saat itu resah dengan keadaan umat Katolik yang pilih menikah dengan pasangan berbeda keyakinan. Akhirnya dia dan beberapa kolega membidani lahirnya komunitas yang kini telah tersebar di berbagai kota besar di Jawa dan Sumatera ini. KJK regional Jakarta, dengan jumlah anggota sekitar 200-an orang hingga sekarang, lahir pada 2010.

"Tekanan-tekanan seperti itu sering membuat seseorang merasa terburu-buru menikah. Kadang, ketergesaan itu enggak bisa disikapi dengan baik," ungkap Agatha. Istilahnya, sebut dia, "siapa saja yang mau menikahi gue, hantam saja".

Sejak awal, KJK dirancang hadir bagi orang-orang Katolik usia dewasa - bukan muda-mudi berusia sekolah atau mahasiswa. Saat mendaftar, calon anggota mesti berusia 23-50 tahun, suatu rentang usia yang ditaksir merupakan usia kerja. Hal ini disengaja, karena, berbeda dengan sekolah atau kampus, tak ada perusahaan atau kantor yang khusus memekerjakan seseorang beragama tertentu.

Tanpa wadah macam KJK, orang-orang Katolik yang tengah meniti karier dinilai kesulitan menemukan calon pendamping seiman, lantaran ruang gerak yang sempit sebagai kelompok minoritas. Sulit disangkal, dasar iman yang sama memang hampir selalu jadi prioritas seseorang ketika hendak memilih pendamping hidup. "Anak beragama Katolik, umumnya saat sekolah, orangtuanya menyekolahkan di sekolah Katolik. Mayoritas muridnya Katolik juga. Perlu difasilitasi KJK? Enggak, peluang mendapatkan teman atau calon yang sama-sama Katolik masih banyak," kata Agatha.

Sementara itu, setelah seorang Katolik menekuni karier, lingkaran-lingkaran sosial berlatar belakang kesamaan iman seperti tadi semakin kabur. "Mau ikut di mana? Acara gereja? Gabung OMK (Orang Muda Katolik) ketuaan. Ikut acara gereja di lingkungan masing-masing, yang datang emak-emak, bapak-bapak, nenek-nenek. Jarang yang usia dewasa muda ikut aktif," Agatha memaparkan. "Di situ jadinya, usia kerja yang kami fasilitasi. Peluang mereka kecil di luar sana untuk menemukan teman atau calon seiman, tapi masih gede di sini," sambungnya.

Bisa dibilang, aktivitas KJK bermula dari dunia maya dengan memanfaatkan sejumlah akun media sosial, terutama Facebook. Namun, Agatha mengakui KJK regional Jakarta sedang agak seret untuk urusan pengelolaan konten media sosial. Itu kendala yang tengah ia hadapi sekarang.

Agatha menyebut, KJK mengutamakan perjumpaan sebagai pintu masuk perkenalan sejoli. "Kalau saya secara pribadi, KJK masih perlu dan relevan. Dunia maya oke. Tapi, filter di sana kan bisa ngarang yang bagus-bagus. Kalau perjumpaan riil, kecuali pencitraannya canggih, ketika datang ketemu body language enggak bisa disimpan," ujar Agatha.

Kadang-kadang, kata Agatha, upaya penjodohan pada sejumlah anggota pun dilakukan oleh para pengurus KJK, terutama regional Jakarta. Sebab, 50 persen anggota KJK regional Jakarta merupakan perantau. Ada yang lingkup pertemanan, hingga perjodohannya, bergantung pada KJK. Berbagai trik pun disiapkan pengurus untuk proyek penjodohan "terselubung".

"Kadang ada cowok yang pemalu. Dia suka sama si A, tapi pemalu banget, padahal si A fine-fine aja. Kita dorong deh, kita jadi mak comblang. Kita bikin acara barengan biar bisa ketemu," kata Agatha. Dalam lingkup paling luas, KJK rutin menggelar jambore nasional saban tahun yang diikuti anggota-anggota KJK regional. Jambore nasional inilah yang jadi ladang bersemainya cinta para anggota.

"Begitu datang, dia sudah screening tuh. Ingetin namanya. Nanti, mereka yang cari jodoh bisa kasih nama ke panitia. Bisa tulis beberapa nama sekaligus. Nanti, panitia bakal tarik mereka gantian, dua-dua ngobrol pakai lilin di alam terbuka, privately," ia menjelaskan.

Agatha mengklaim, hampir 50 anggota KJK saling berjodoh dalam kesempatan jambore nasional sejak pertama kali dihelat. Nyaris tiap tahun, ada saja anggota yang jadian dalam jambore. Dari sana, tak sedikit pula yang melanjutkan hubungan hingga pelaminan.

Meskipun melepas status lajang, mereka tak ditendang dari komunitas. Mereka malah dijuluki "alumni" KJK dan berperan sebagai inspirasi bagi anggota lainnya agar mampu menemukan pendamping seiman. Di samping urusan jodoh-menjodohkan, para pengurus pun akan berupaya menjaga urusan jodoh ini dalam kondisi sehat, dalam artian monogamis sebagaimana doktrin Gereja Katolik.
Agatha memastikan, inti keberadaan KJK tak sekadar mendorong orang-orang Katolik menemukan pendamping hidup seiman, tetapi juga mendampingi mereka yang belum memperoleh pendamping. Itu dia sebabnya, komunitas ini bernama "komunitas jomblo", bukan "komunitas jodoh".

"Kita berharap, para jomlo enggak usah merasa alone dengan minoritas mereka. Kalau bisa dapat pasangan, itu benar-benar bonus. Kita tidak janjikan mereka dapat jodoh di sini. Dikiranya kita biro jodoh, banyak orang salah ngerti," tutup Agatha. (kompas.com/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments