Rabu, 23 Sep 2020

FSGI : Orangtua Pengaruhi Pola Pikir Anak

redaksi Minggu, 17 November 2019 18:00 WIB
lifestyle.kompas.com
Ilustrasi Peran Orangtua

Medan (SIB)
Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim menegaskan peran orangtua penting dalam memberikan pola asuh anak dan nilai-nilai moral yang baik di rumah. Hal itu sangat memengaruhi pola pikir anak, salah satunya akan mencegah anak terpapar paham radikalisme.


Orangtua juga harus mampu menjadi figur yang diteladani anak, tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan anak namun menanamkan pendidikan karakternya juga.


"Intoleransi bisa dicegah sejak dini dan itu berawal dari lingkungan keluarga, pasalnya keluarga berfungsi sebagai pendidik pertama bagi anak. Selanjutnya pengaruh lembaga pendidikan formal yaitu sekolah. Nilai-nilai toleransi, perdamaian, wawasan kebangsaan dan cinta tanah air menjadi nilai yang paling pokok disemai dalam pendidikan formal. Guru punya peran strategis dalam membentuk watak peserta didik yang demokratis, toleran dan cinta tanah air. Tapi bukan berarti tindakan preventif itu hanya melibatkan pihak sekolah, tetapi juga keluarga," beber Satriwan Salim kepada SIB di Medan, Jumat (15/11).


Dikatakannya, usia-usia remaja yang masih mencari jati diri harus didampingi dengan pendekatan yang edukatif dari orang dewasa. Agar pencarian mereka tidak tersalurkan di jalan yang salah yaitu jalan kekerasan, intoleransi dan terorisme.


Menurutnya, pendidikan karakter itu adalah entitas yang menyatu dengan pendidikan itu sendiri. Kebijakan tentang penguatan pendidikan karakter sudah ada dalam Kurikulum Pendidikan Nasional; Kurikulum 2013, diperkuat lagi dengan Perpres No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.


Bahkan ada kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan wahana dalam membentuk dan menyemai karakter bagi peserta didik.

"Walaupun harus diakui, masih banyak kekurangan dalam implementasi Perpres tersebut, di antaranya para guru dan kepala sekolah bingung dalam implementasi, karena memang minim sosialisasi dan pelatihannya dari pemerintah. Maka orangtua juga harus menyadari bahwa mereka pun juga bertanggung jawab dalam membangun karakter anak. Sebab pendidikan itu diawali dari rumah," katanya.


Dikatakan Satriwan, orangtua harus lebih sering berdiskusi dan berbincang dengan anak guna mencegah masuknya paham radikalisme. Menjadikan anak-anak sebagai teman akan memudahkan orangtua memantau kegiatan anak. Termasuk tukar pikiran dengan anak terkait isu dan aksi terorisme.


"Pendidikan awal di keluarga yang minim karena orangtua sama-sama sibuk, cenderung berpotensi membuat anak-anak rentan terhadap ajaran radikal. Oleh karenanya ayah dan ibu harus menjadi figur yang bisa dijadikan pedoman bagi anak-anak.

Sebab sebagai guru yang merupakan orangtua di sekolah tetap memberikan kebaikan bagi anak- anak termasuk dalam memberikan penjelasan mengenai aksi terorisme dan radikalisme yang terjadi. Kita harus kembali pada filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, yakni Tri Pusat Pendidikan: Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Ketiga pilar utama pendidikan ini harus saling bekerjasama dan memperkuat dalam membangun karakter anak Indonesia. Terpenting lagi adalah teladan dari kita orang dewasa," tegasnya. (M20/f)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments