Senin, 09 Des 2019
  • Home
  • Komunitas
  • Berawal dari Komunitas Medsos, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak Dikukuhkan
  • Home
  • Komunitas
  • Berawal dari Komunitas Medsos, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak Dikukuhkan
  • Home
  • Komunitas
  • Berawal dari Komunitas Medsos, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak Dikukuhkan

Berawal dari Komunitas Medsos, Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak Dikukuhkan

admin Senin, 29 Juli 2019 17:29 WIB
SIB/Dok
Mantan Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata MA mengukuhkan para pengurus Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB) antara lain Ketua Dewan Pembina YPKB Ir Ju Lassang Manahara Siahaan, Ketua Umum YPKB Prof Dr Albiner Siagian, Ketua Dewan Pengawas Prof Dr Hamonangan Tambunan, Drs Manguji Nababan, St Edison Pardede, Darman P Rajagukguk, Ir Patar M Pasaribu, Ir Jannus Sibuea, Lesson Sihotang, Mangido Tua Nainggolan, Masnur Silaban, Candra Tandi R Siagian, Harkit M Sihombing, Mewaty Aruan dan Ir Alasan Lumbanraja. Acara pengukuhan digelar di Museum Negeri Medan, Minggu (21/7).
Medan (SIB) -Sejumlah tokoh dan pemerhati yang selama ini getol berdiskusi dan menulis gagasan tentang upaya pelestarian budaya Batak Toba, akhirnya membentuk Yayasan Pelestari Kebudayaan Batak (YPKB). Acara pengukuhannya digelar di Museum Negeri Jalan HM Jhoni Medan, Minggu (21/7).

YPKB itu awalnya adalah komunitas di media sosial bernama Grup Palambok Pusu-pusu (GP3). Mereka yang berasal dari latar belakang pendidikan dan profesi itu sering mengungkapkan kegelisahannya karena budaya atau adat istiadat Batak Toba semakin tergerus oleh kemajuan zaman.

"Karena masukan anggota, maka didirikanlah YPKB. Kami berjanji tetap fokus pada budaya dan tidak berafiliasi dengan lembaga-lembaga politik," kata Ketua Umum YPKB, Prof Albiner Siagian di acara pengukuhan yang dihadiri mantan Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata MA yang juga calon terpilih anggota DPD RI dan Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara diwakili, Unggul Sitanggang.

Menurut Albiner salah satu yang memprihatinkan adalah di kampung atau bonapasogit orang Batak dewasa ini, anak-anak dan remaja sudah berbahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Dulu di kampung itu, anak-anak sehari-harinya berbahasa Batak, meskipun di sekolah memang tetap berbahasa Indonesia," kata Albiner Siagian.

Ketua Umum Dewan Pembina YPKB Jim Siahaan berharap, lembaga ini bisa menjadi benteng budaya Batak dalam menghadapi gempuran zaman dan pengaruh budaya asing.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Dewan Pengawas YPKB, Hamonangan Tambunan. Secara taktis, YPKB katanya akan berjuang agar muatan lokal dimasukkan dalam kurikulum SD dan SMP di kawasan Danau Toba.

Masih kata dia, dalam jangka pendek, YPKB akan menerbitkan buku-buku yang ditulis dalam bahasa Batak, dan itu sudah dilakukan.

Selanjutnya, akan dilakukan pengenalan kembali aksara Batak kepada orang banyak, terutama pada anak-anak di daerah-daerah Tanah Batak maupun anak yang lahir dan besar di kota. "Selain itu yayasan ini juga nantinya akan menuliskan adat istiadat di dalam budaya Batak itu sendiri," sambung Albiner.

Pada acara itu sejumlah tokoh yang berkontribusi terhadap pelestarian budaya Batak dianugerahi penghargaan Pande Ugari (Pagar) 2019 yang diserahkan Prof Dr Albiner Siagian.

Penghargaan kategori Pemerhati Sejarah dan Antropologi Batak dianugerahkan kepada Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak. Kategori Pelestari Nilai-nilai dan Filosofi Batak dianugerahkan kepada Monang Naipospos.

Selanjutnya, kategori Pelestari Ulos diterima Rape Boru Togatorop. Kategori Pelestari Gorga Batak dianugerahkan kepada Jesral Tambunan dan kategori Pelestari Musik Batak/Uning-uningan dianugerahkan kepada almarhum Guntur.

Bupati Sergai Soekirman juga diberikan penghargaan sebagai Ale-ale Bangso Batak yang peduli dengan bahasa dan budaya Batak. (R14/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments