Kamis, 20 Jun 2019

RENUNGAN

Ada Keselamatan dalam Derita (Markus 8:33)

Oleh Pdt Sunggul Pasaribu
admin Minggu, 02 Juni 2019 12:09 WIB
Pdt Sunggul Pasaribu
Musuh utama manusia adalah penderitaan, kesengsaraan, kemiskinan. Sebab penderitaan membuat manusia lebih mudah jatuh ke dalam pencobaan dan kejahatan. Oleh karena itu setiap orang selalu berusaha untuk menghindarkan persoalan hidup yang membebani dirinya. Pemerintah mempunyai tanggungjawab dan kewajiban supaya masyarakatnya hidup tenteram, bersatu dan sejahtera. Maka diperlukan usaha dan upaya untuk melawan penderitaan dan kesengsaraan. Karena tidak ada kemiskinan dan penderitaan yang abadi, manusia dapat melepaskan dirinya dari berbagai persoalan hidup ; kecuali manusia yang tidak bertanggungjawab. Hanya akibat dosa yang membuat manusia menderita sepanjang hayat. Artinya, tidak semua penderitaan membawa kematian.

Dalam Markus 8:31-38, disebut ; bahwa penderitaan dalam mengikut Tuhan Yesus justru di sana ada keselamatan. Artinya, misi dan keselamatan yang dikerjakan Tuhan Yesus di dunia ini adalah untuk tujuan keselamatan umat manusia dan dunia ketika manusia mengalami penderitaan, kesusahan, termasuk kemiskinan ; terutama penderitaan yang diakibatkan dosa manusia.

Sayangnya, ada sebagian dari murid Yesus yang tidak mengerti dengan misi Tuhan Yesus. Petrus, salah seorang yang tidak paham dengan penjelasan Yesus. Kata-Nya, : " Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari " (Markus 8:31). Di pikiran mereka, pemimpin mereka seperti Yesus bukan seorang yang mengalami kesakitan dan kematian sendiri.! Akibatnya, Petrus memarahi Yesus (Markus 8:32), sedang Yesus juga memarahi Petrus bahkan mengusirnya seolah-olah ia sendiri adalah iblis (ayat 33).

Dari penjelasan Yesus kepada para murid dalam konteks ini, Dia pun mau memberitahu kepada orang banyak yang mendengarNya bahwa mereka juga harus mengambil bagian dari perjuangan para murid menghadapi kenyataan yang keras, maupun yang dingin. Tuhan Yesus bukan hanya seorang yang akan membereskan segalanya dengan cepat, seperti yang mereka harapkan. Pengajaran Yesus seperti ini memang agak keras dan mutlak.

Sebab mereka yang menyebut diri pengikut Tuhan Yesus harus kehilangan hidupnya bagi Yesus dan bagi Injil (ayat 35). Maksud Injil di sini supaya mereka menyerahkan diri dalam kepercayaan kepada Messias yang menderita yang mereka ikuti atau mereka membuka diri terhadap prospek yang mengerikan dengan mendengar penghakiman yang tidak menyenangkan.

Sebagaimana kita ketahui dalam babak penderitaan Yesus, Dia diadili, dihakimi, dihukum, disiksa dan disalibkan hingga mati. Namun para murid tidak serta merta menerima hukuman yang sama seperti Tuhan Yesus. Hanya saja, Dia berharap supaya mereka jangan kaget jika menghadapi hal seperti itu ketika mereka menjadi saksi dan pemberita Injil keselamatan. Kehidupan, bahkan keselamatan ada di balik penderitaan yang dialami Yesus. Segera pula Yesus membuktikan kemuliaan yang akan diberikan pada saat mereka bersama maupun sesudah Yesus pergi. Pada Markus 9:2-8, di sana kita melihat Petrus, Yakobus, dan Yohannes dibawa Yesus naik ke gunung yang tinggi untuk menyaksikan kemuliaan yang diterima Yesus. Dan seperti itu juga kelak akan mereka terima dari Bapa di surga yang mengutus mereka.

Gereja dan orang percaya dalam mengikut Tuhan Yesus bahwa identitas kita sebagai orang Kristen bukan semata hidup hanya menerima atau mengalami soal-soal kebahagiaan, kegembiraan, kenyamanan, pesta pora, atau kekayaan duniawi. Ada kalanya kita harus berhadapan dengan berbagai konflik dogma, konflik pragmatis, konflik kepentingan politik. Dalam konteks sejarah gereja, masalah dan konflik gereja bukan barang baru bagi orang percaya dan gereja itu sendiri. Mulai dari abad pertama hingga zaman bapa-bapa gereja sampai dengan fase penginjilan ke berbagai belahan dunia, gereja dan orang percaya tidak pernah luput dari berbagai tantangan, masalah dan penderitaan. Prinsip yang dianut berdasarkan pengalaman iman kita bersaksi ; "Orang Kristen semakin dihambat semakin merambat". Motto inilah yang perlu dimiliki seorang 'Militia-Christy' (artinya, : Laskar Kristus).

Bagi mereka yang menderita karena pemberitaan Injil dan pejuang keadilan, dan kebenaran supaya jangan gentar, jangan kecut, dan jangan menyerah karena upahmu besar di surga. Kepada mereka yang melayani gereja sebagai hamba Tuhan yang menderita karena memperoleh biaya hidup yang sangat minim, bagi mereka yang melayani di daerah pedalaman Zending, bagi mereka yang melayani jemaat di pelosok pedesaan, hendaknya kita menyadari bahwa kita adalah laskar Kristus yang diutus ke tengah-tengah serigala, maka hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kepada mereka yang menderita karena berjuang untuk menegakkan keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan orang banyak hingga di penjara, hendaklah kita menyadari bahwa kita juga adalah Laskar Kristus yang diutus ke tengah-tengah serigala, maka hendaklah kamu setia sampai akhir. Sebab ada keselamatan dibalik penderitaan itu. Percayalah. Amin..! (c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments