Sabtu, 25 Mei 2019
  • Home
  • Hiburan
  • Tinggalkan Hiburan Sekuler, Dedy Zega Fokus Worship & Prophetic

Tinggalkan Hiburan Sekuler, Dedy Zega Fokus Worship & Prophetic

admin Kamis, 16 Mei 2019 15:39 WIB
SIB/Dok
TRIO: Trio pemujiNya yakni PS Dedy Zega SE, CEO HoRe Ministry Indonesia Ps Aryo Darudjati SE dan senioren GAMKI Ps Krisman Saragih SE yang fungsionaris Gereja Pentakosta Sumatera Utara/Pinksterkerk (GPSU/P) di Medan, Selasa (14/5) saat bertemu memfinalisasi tur pujian penyembahan 2018 ke sejumlah negara dan berakhir di Bali, Indonesia.
Medan (SIB) -Dedyanto Putra Zega SE meninggalkan industri hiburan sekuler. Kini, pengkhotbah yang dikenal kelompok milenial sebagai Ps Dedy Zega itu fokus pada Worship & Prophetic. "Hiburan sekuler itu hanya sebatas entertainment. Tak ada profetiknya, tidak memberi kebahagiaan sejati. Saya adalah saksi hidupnya," ujarnya di Warkop Tulang Jalan Gurila - Medan Perjuangan, Medan, Selasa (14/5) bersisian dengan pelaku industri hiburan religi seperti CEO HoRe Ministry Indonesia Ps Aryo Darudjati dan senioren GAMKI Ps Krisman Saragih SE yang Ketua Pemuda Gereja Pentakosta Sumatera Utara (GPSU).

Ketiga memfinalisasi tur Worship & Prophetic di sejumlah negara ASEAN dan berakhir di Bali, Indonesia. Ketiganya adalah pribadi yang mengadopsi kidung pujian bergenre fire on dalam menggaet lebih banyak kelompok milenial memuliakanNya.

Akan halnya Dedy. Pria yang identik dengan industri hiburan Tanah Air pra hingga era 2000-an. Sejumlah tempat hiburan eksklusif adalah bagian darinya. Mulai dari Soccer (dahulu berada di basemen Grand Angkasa Internasional Hotel) hingga rumah musik yang sekarang masih menjadi lokasi hiburan kelompok the have.

Dunia gemerlap membawa Dedy fokus pada sekuler. Saking larut dalam kenikmatan, hampir lima kali ia meregang nyawa. Over dosis yang paling mengerikan ketika ia tidur di kamar mandi selama tiga hari tanpa makan dan minum. "Mungkin saya minum atau makan di kamar mandi, tapi air dan kotoran dari tubuh," kenangnya.

Karena lupa pada kekudusan tubuh manusia, ia bangkrut. Sama sekali tak punya uang. Bahkan untuk memberi minum pada anaknya, tak ada kedai yang mau memberi utangan lagi. "Istriku... istriku yang menyadarkan saya untuk meminta padaNya. Berdoa... berdoa... dan berdoa. Saya selamat," tegasnya.

***
Dedy lahir di Gunungsitoli, Nias pada 16 juni 1984 sebagai putra pasangan pendeta Gereja Pentakosta Indonesia Pdt Tal Zega - Ny Yanidar Gulo. Menimba ilmu di SD, SMP dan SMA Xaverius Gunungsitoli. Bagi orang Nias, sekolah setinggi-tingginya adalah impia. Itulah yang membuatnya ingin melanjutkan studi dan diterima di Politeknik Medan serta menupang di rumah kerabatnya, Sabaruddin Halawa.

Ia pun menimba ilmu di jurusan industri pariwisata. Memulai karier dari waiters, berlanjut ke hotel terkemuka. Kuliahnya berhasil dan karier melesat. Tetapi, kebaikanNya itu disalahartikan.

Dedy fokus ke dunia sekuler. Kemewahan membawanya dalam fantasi dunia. Gonta-ganti perempuan, berkubang kemewahan. Sempat hendak berganti keyakinan karena ingin menjadi suami perempuan idamannya. Syukur orangtuanya menjodohkannya dengan Festy Gea yang berjiwa malaikat.

Kembali ke Medan. Punya istri bukan menjadi pribadi bertanggung jawab, tapi justru semakin suka-suka hura-hura. Dedy kembali ke kehidupan duniawi dengan minuman berarak, Narkoba dan lainnya. "Saya bangkrut. Utang keliling pinggang tapi istri saya semakin betah. Ia terus mendokan suaminya," kenang Dedy.

Ia mulai mendengar bisikan 'gaib' ketika buah hatinya butuh minum. Istri memohon padanya untuk berdoa agar Tuhan memberi hujan dan air itu hendak diolah melalui rebusan untuk minum anaknya. Selesai berdoa, ibunya dari kampung nelepon dan ingin mengirim uang. "Saya gengsi. Saya menolak tapi ibu saya bilang uang yang hendak dikirim untuk membeli susu buat cucunya. Saya 'terpaksa' menerima. Artinya, saya masih menyangkal anugerahNya," ujarnya.

Mengikuti harapan istrinya yang berpuasa dan terus berdoa, Dedy mulai dekat denganNya serta kerja keras lagi. Perusahaan-perusahaan yang pernah membuatnya menjadi karyawan, kembali menerima. Bahkan, ketika menjadi ajudan orang terkaya di Indonesia, Dedy mulai mengenal dan ingin melayaniNya. "Saya jadi sopir Gembala Pdt Jack Marpaung dan menjadi pembantu Pdt Gilbert Lumoindong," kenangnya.

Karier terus menanjak. Mulai dari staf inti hingga manajer dan terakhir GM Manhattan Square. "Tapi semua saya tinggalkan demi melayaniNya. Saya mau menebus kesalahan lalu," pastinya. "Istri, anak mendukung saya melepas semua kemewahan dunia demi melayaniNya!"

Melayani pertama kali karena 'insiden' ketika Pdt Jack Marpaung tiba-tiba sakit. Setelah diberkati gembala yang rocker legendaris, Ps Dedy Zega naik altar. "Khotbah yang saya sampaikan mengalir begitu saja. Seolah-olah saya ini ahli tafsir Alkitab. Itulah roh kudus," paparnya.

Sekarang Ps Dedy Zega menjadi pengkhotbah idola. Dalam tiap jumpa dengan anak-anakNya mengadopsi gaya yang cair hingga membuat kaum milenial terkesima. (T/R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments